Jumat 29 November 2019, 08:00 WIB

Mantan Ketua OK Oce Jelaskan Soal Kisruh Dimodalin

Theofilus Ifan Sucipto | Megapolitan
Mantan Ketua OK Oce Jelaskan Soal Kisruh Dimodalin

MI/FERDIAN ANANDA
Karyawan gerai OK OCE tengah membuka tokonya di Kemayoran, Jakarta Pusat.

 

MANTAN Ketua Umum One Kecamatan One Center for Entrepreneurship (OK Oce) Faransyah Agung Jaya mengklarifikasi ihwal konsep 'dimodalin' OK Oce. Faran menyebut masyarakat salah kaprah dengan konsep itu.

"Orang-orang bingung dengan definisi permodalan," kata Faran saat berbincang di Jakarta, Kamis (28/11).

Faran menjelaskan pemberian modal itu benar adanya. Namun, sistemnya tidak langsung diberikan dari OK Oce.

Pria yang akrab disapa Coach Faran itu mengungkapkan, ide pemodalan berangkat dari sistem modal bergulir.

Sistem itu, kata dia, memungkinkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dikucurkan melalui koperasi-koperasi.

Baca juga: Ini 4 Masalah Akut Jakarta yang Perlu Diprioritaskan di APBD

Konsep tersebut, lanjut Faran, diadopsi OK Oce. Program yang berfokus pada pembinaan wirausaha itu menggunakan perantara untuk mencairkan modal usaha.

"Kita menggandeng Bank DKI dan melakukan penyaringan," ujar Faran.

Dia membeberkan alasan menggaet Bank DKI. Kala itu, Faran berpikir peminjaman modal sebesar maksimal Rp 10 juta tidak akan membuat Bank DKI bangkrut.

"Saya waktu itu meremehkan (situasi), karena (berpikir) tidak ada alasan (Bank DKI) tidak memberi (pinjaman modal usaha)," tuturnya.

Pada praktiknya, proses pemberian modal usaha dari Bank DKI tidak melulu mulus. Musababnya, peminjaman ke bank membutuhkan proses administrasi yang tidak sebentar.

"Harus mengisi pengisian formulir, melacak riwayat pinjaman nasabah, dan lain-lain," ucapnya.

Faran baru sadar, proses itu memang wajib dilakukan seluruh bank untuk menggelontorkan pinjaman pada nasabah. Jika tidak dilakukan, bank tersebut bakal ditegur Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sebelumnya, program OK OCE besutan Faran dan Mantan Wakil Gubernur Sandiaga Uno itu ramai diperbincangkan. Sebabnya, salah satu warga Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Satimah, mengeluhkan tidak dapat modal dari OK Oce pada Maret 2019.

Pernyataan tersebut dilontarkan Satimah bertepatan dengan kunjungan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ke Pulau Pramuka. Kala itu, Anies tidak merespons pernyataan Satimah dan mengalihkan perbincangan.

Respons Anies menuai gejolak masyarakat. Apalagi, janji 'dimodalin' terpampang jelas pada spanduk kampanye OK Oce kala Anies dan Sandiaga berlaga di Pilkada 2017. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More