Jumat 29 November 2019, 07:00 WIB

Rayakan Thanksgiving, Trump Kunjungi Pasukan AS di Afghanistan

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Rayakan Thanksgiving, Trump Kunjungi Pasukan AS di Afghanistan

AFP/Olivier Douliery
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada personel militer AS yang ditempatkan di Afghanistan.

 

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Kamis (28/11), mengatakan, 'Negeri Paman Sam' itu telah memulai kembali perundingan dengan gerilyawan Taliban. Hal itu dikatakan Trump ketika melakukan perjalanan kejutan ke Afghanistan untuk merayakan Thanksgiving bersama pasukan AS.

Pada kunjungan singkat ke Lapangan Terbang Bagram di luar Ibu Kota Kabul, Trump menyajikan makan malam kalkun kepada tentara, berpose untuk foto-foto, dan menyampaikan pidato setelah bertemu Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.

"Taliban ingin membuat kesepakatan dan kami bertemu dengan mereka. Kami mengatakan itu harus menjadi gencatan senjata," ujarnya kepada wartawan.

Sekitar 13 ribu tentara AS tetap berada di Afghanistan, 18 tahun setelah AS menyerbu menyusul serangan 11 September 2001.

Baca juga: Trump Teken UU HAM dan Demokrasi Hong Kong

Trump mengatakan dia berencana mengurangi jumlahnya menjadi 8.600 personel tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

"Tidak ada tempat di mana saya lebih suka merayakan Thanksgiving ini daripada di sini bersama para pejuang terberat, terkuat, terbaik dan paling berani di muka Bumi," kata Trump kepada pasukan AS dalam perjalanan pertamanya ke negara yang dilanda perang.

"Saya baru saja datang dari menyajikan makan malam Thanksgiving untuk beberapa dari kalian dan kami bersenang-senang," imbuhnya.

AS, awal tahun ini, mencapai kesepakatan dengan gerilyawan Taliban untuk menarik pasukan AS dari negara itu dan menghentikan perang terpanjang negara adidaya itu dengan imbalan jaminan keamanan.

Tetapi, Trump membuat langkah mengejutkan, September lalu, menggambarkan pembicaraan selama setahun telah 'mati' dan membatalkan undangan bagi pemberontak untuk bertemu di dekat Washington karena pembunuhan seorang prajurit AS.

Taliban menolak berunding secara resmi dengan pemerintah Afghanistan, meski upaya diplomatik terus mendorong dialog dan akhirnya kesepakatan damai.

"Untuk jangka waktu tertentu kami telah berusaha membuat kesepakatan," kata Trump. "Kami telah membuat kemajuan luar biasa selama enam bulan terakhir dan pada saat yang sama kami telah menarik pasukan kami."

"Kami akan tetap di Afghanistan sampai kami meraih kesepakatan atau kami mendapatkan kemenangan total, dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan," imbuhnya.

Ghani berterima kasih kepada Trump karena mendorong perdamaian yang akan memastikan keuntungan dan keamanan kedua negara.

Taliban, pekan lalu, menyerahkan dua sandera--seorang warga AS dan seorang Australia--setelah tiga tahun ditahan sebagai imbalan atas tiga tawanan Taliban tingkat tinggi, dalam satu langkah yang dipandang sebagai pendorong pembicaraan damai. (AFP/OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More