Jumat 29 November 2019, 00:06 WIB

Pengamat Nilai Uji Materi Wakil Menteri Hanya Buang Waktu

Ahmad Fauzi | Politik dan Hukum
Pengamat Nilai Uji Materi Wakil Menteri Hanya Buang Waktu

Istimewa
Pengamat hukum dan politik dari Universitas Nasional Jakarta, Saiful Anam.

 

PENGAMAT politik dan hukum Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Saiful Anam, mengatakan, uji materi tentang konstitusionalitas kedudukan Wakil Menteri yang diajukan oleh warga Petamburan, Jakarta Pusat bernama Bayu Segara ke Mahkamah Konstitusi (MK) hanya membuang-buang waktu.

Diakui Saiful Anam yang merupakan dosen Hukum Tata Negara  (HTN) Unas Jakarta ini, bahwa gugatan yang diajukan tidak ada nilai kebaruannya. Selain itu gugatan tersebut sudah selesai, di mana posisi dan keudukan Wakil Menteri dianggap konstitusional oleh MK melalui putusan nomor 79/PUU/IX/2011.

“Tidak ada yang baru gugatan yang diajukan. Pasal dan argumentasinya sama, ini kan lagu lama kaset baru. Hal tersebut sudah lengkap dipertimbangkan oleh MK, dimana posisi dan kedudukan Wakil Menteri melalui putusan nomor 79/PUU/IX/2011 Konstitusional. Saya yakin MK akan menyatakan Nebis In Idem," kata Saiful Anam saat dihubungi Kamis (28/11/2019).

Lebih lanjut Saiful Anam menyatakan, apabila alasan uji materi yang digunakan hanya menyatakan tidak sesuai dengan putusan MK nomor 79/PUU/IX/2011 seperti yang didalilkan dalam permohonan, maka jelas hal tersebut salah alamat. Karena ketidaksesuaian dalam pelaksanaan putusan MK bukan wilayah kompetensi lembaga itu untuk memeriksa dan mengadilinya.

Untuk itu, Saiful Anam menyarankan agar Bayu Segara mencabut uji materi yang diajukan karena akan menyita dan membuang waktu saja.

“Saya sudah membaca dengan seksama permohonan yang diajukan, bahwa alasan pengujian dikarenakan Presiden dianggap tidak sesuai dengan putusan nomor 79/PUU/IX/2011," kata Saiful Anam.

"Tentu kalau alasannya demikian, bukan wilayah MK untuk memeriksa dan mengadilinya. Ketidaksesuaian tersebut, lanjut dia, merupakan wilayah pengadilan yang lain untuk menilainya," ujarnya.

Namun begitu, Saiful Anam menghormati hak warga negara dalam mempertahankan hak-haknya termasuk di Mahkamah Konstitusi.

Hanya, menurut Saiful Anam, selain dirinya mengetahui betul kedudukan dan posisi wakil menteri karena pernah menelitinya dalam bentuk tesis pada program Pascasarjana Magister Hukum Tata Negara Universitas Indonesia (UI).

Jangan sampai menurut Saiful Anam, gugatan posisi wakil menteri ke MK itu terkesan hanya untuk mendongkrak popularitas semata.

“Tesis saya tentang Wakil Menteri, dan saya tau betul kedudukan dan posisi itu. Karena saya pernah membahasnya dalam tesis pada saat mengambil S2 di Fakultas Hukum UI dan menerbitkannya dalam bentuk buku," pungkas Saiful Anam.

Dihubungi terpisah Ketua umum Relawan Jokowi alias ReJO HM Darmizal mengaku sependapat dengan Saiful Anam. Dia mengatakan, tidak perlu diperdebatkan lagi, bahwa jabatan wakil menteri tersebut adalah konstitusional.

Menurut Darmizal, dalam pengangkatan wakil menteri, Presiden Jokowi tentu sudah melakukan banyak pertimbangan. 

"Jeda waktu yang cukup lama antara pelantikan Menteri dengan Wakil Menteri membuat Presiden punya banyak waktu untuk mengkaji dan mempertimbangkan. Saya yakini, saat mengangkat wakil menteri, Presiden Jokowi berdiskusi dengan berbagai pihak termasuk Menteri yang akan diberi Wakil Menteri" pungkas Darmizal. (Faw/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More