Kamis 28 November 2019, 22:30 WIB

Bangun Investasi, Dana Desa Mandirikan Hadakewa

Alexander P Taum | Nusantara
Bangun Investasi, Dana Desa Mandirikan Hadakewa

MI/Alexander P Taum
Suasana suka cita anak-anak Desa Hadakewa di Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

 

DESA Hadakewa, terletak pesisir Timur pulau Lembata, tepatnya di pusat ibu kota Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Berkat Dana Desa yang dikucurkan pemerintahan Presiden Joko Widodo, desa berpenduduk 1.052 jiwa dari 254 kepala keluarga itu, kini memiliki berbagai infrastruktur yang menjadi sumber investasi jangka panjang milik desa. Bahkan, warga setempat optimistis, jika zaman berganti dan negara mengubah kebijakan tentang Dana Desa pun, Hadakewa sudah mampu menjadi desa mandiri.

Ketika memasuki Desa Hadakewa, Anda akan menemukan desa itu tidak seperti desa kebanyakan. Penampilan fisik Desa Hadakewa itu terbantu oleh hotmix jalan negara yang membelah jalur utama di desa itu. Sehingga Dana Desa lebih diarahkan pada upaya memberdayakan sektor lain.

Dengan mengenal karakteristik warga serta potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di desa, pemanfaatan Dana Desa di Desa Hadakewa diarahkan untuk membangun mata rantai infrastruktur investasi yang saling menguntungkan serta berdampak secara ekonomis.  

Tidak tanggung-tanggung, Klemens Kewaaman, Kepala Desa, yang diboyong Presiden Jokowi ke India guna menceriterakan kesuksesannya membangun desanya melalui Dana Desa itu, memiliki masterplan perencanaan yang utuh, dalam membangun desanya dalam lima tahun memimpin.

"Saat terpilih sebagai Kepala Desa pada 2016 lalu, saya bayar mahal, senior-senior saya yang mengerjakan master plan pembangunan Desa Hadakewa. Jadi saya sudah tahu, bentuk desa, apa saja keuntungan yang diperoleh desa ini seperti apa pada akhir periode saya pimpin. Saya optimistis, Desa Hadakewa akan memanen hasil dari pola pembangunan investasi jangka panjang ini," ujar Klemens kepada Media Indonesia, Kamis (28/11).

Klemens berkisah, masterplan desa lebih menggambarkan detail pembangunan lengkap dengan pewajahan yang jelas dalam format tiga dimensi. Berbeda dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).

Alhasil, desa paling maju di Kabupaten Lembata itu kini mematok Pendapatan Asli Desa hingga Rp300 juta per tahun.

Investasi terbesar yang digelontorkan dalam program pemberdayaan masyarakat desa adalah kepada BUMDes Desa Hadakewa yakni sebesar Rp380 juta. Sektor utama yang dikembangkan desa itu ialah mengelola sektor kelautan yang menjadi sumber daya alam andalan.

"Saya mulai bangun jetty di dekat pasar Hadakewa. Jetty ini sudah berfungsi. Retribusi labuh tambat setiap kapal, baik kapal ikan maupun kapal barang, kita tarik. BUMDes Hadakewa juga sedang melakukan pengadaan dua unit kapal porseine milik desa, sehingga pengelolaan ikan teri Hadakewa, tidak hanya di hilir tetapi dari hulu. Desa memiliki armada hingga penguasaan pasar ikan teri," ujar Klemens.

Tidak berhenti di situ, pada 2017, melalui Dana Desa, Kepala Desa ini menyulap lokasi kumuh di bibir pantai Desa Hadakewaa, yang selama ini digunakan untuk membuang sampah, menjadi lapangan futsal, taman baca, serta balai pelatihan.


Baca juga: Warga Banjarnegara Diminta Waspadai Bencana Longsor


"Jadi bangunan ini multifungsi. Saya sengaja membangun taman baca di bibir pantai, kemudian ditopang oleh balai pelatihan dan lapangan futsal. Orang bisa sewa balai pelatihan untuk kegiatan pesta. Bagi warga di dalam desa, kami beri harga Rp500 ribu sudah lengkap dengan sound system. Acara pesta juga boleh mempergunakan taman baca di bibir pantai ini, menjadi pesta taman. Sedangkan lapangan futsal selain dipergunakan untuk mendorong prestasi olahraga penduduk desa, juga bernilai ekonomis ketika desa menggelar even olahraga, baik di tingkat desa, kecamatan, maupun tingkat kabupaten," ujar Klemen.

Kini di tahun terakhirnya memimpin Desa Hadakewa, Dana Desa 2020 dipergunakan untuk investasi di sektor pariwisata.

"Tahun 2020, kami akan bangun outbond, kolam renang, flying fog, homestay, taman privasi bagi pasangan muda mudi, pusat kuliner dan pemancingan. Penghasilan dari lokasi pariwisata desa ini dikelola BUMDes," ujarnya.

Di samping itu, Desa Hadakewa juga mendorong sektor usaha pemberdayaan peternakan konvensional menjadi sentra bisnis ternak. Setiap ternak dijual dengan hitungan Rp55 ribu per kilogram. Ternak yang dipelihara 4 kelompok ternak desa, rata-rata dengan berat lebih dari 50 kg per ekor. Kini, 400 ekor ternak sudah diantarpulaukan ke luar Desa Hadakewa.

"Kalau ternak kita selalu jual pada usia 4 bulan. Pasar ternak pun sudah ditata baik. Hanya kami kewalahan melayani pembelian di atas 500 ekor," ujarnya.   

Klemens pun menandaskan, tahun pertama memimpin Desa Hadakewa pada 2016, PADes setempat Rp13 juta, kemudian pada 2017 meningkat menjadi Rp30 juta, dan 2018 meningkat menjadi Rp64 juta dan tahun ini melonjak tajam menjadi Rp100 juta.

"Dalam perhitungan saya, setelah membangun sentra pariwisata di desa, PADes kami pada 2021 akan menjadi Rp300 juta per tahun. Kami yakin menjadi desa mandiri," pungkasnya. (OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More