Kamis 28 November 2019, 22:11 WIB

GE Healthcare Dorong Layanan Kardiologi Intervensi di Indonesia

Eni Kartinah | Humaniora
GE Healthcare Dorong Layanan Kardiologi Intervensi di Indonesia

Istimewa
Diskusi Media tentang Penangan dan Teknologi Kardiovaskular di Indonesia yang digelar di Jakarta, Kamis (28/11).

 

ORGANISASI  Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian dini di Indonesia, dengan persentasi sebesar 35% pada 2016.

GE Healthcare, penyedia teknologi dan solusi kesehatan terdepan, berkomitmen meningkatkan layanan kardiologi intervensi di Indonesia dalam rangka mengurangi jumlah kerugian dan kematian yang disebabkan penyakit jantung.

Terkait penyakit tersebut, dr. Siska Suridanda Danny, Sp.JP(K), Kardiolog Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta mengatakan,“Jumlah kasus penyakit jantung yang terus meningkat di Indonesia dapat dikaitkan dengan peningkatan faktor risiko vaskular yang sebenarnya dapat dicegah, misalnya seperti perubahan kebiasaan makan, peningkatan obesitas, dan konsumsi tembakau.”

“Seiring dengan edukasi mengenai pencegahan yang menjadi aspek penting untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, dokter juga semakin membutuhkan teknologi terbaru untuk mengatasi kasus penyakit jantung yang kompleks dan meningkatkan hasil klinis yang lebih baik,” jelas Siska.

Menurut Siska, salah satu teknologi yang dibutuhkan dokter untuk menangani kasus kompleks adalah cath lab yang dapat menfasilitasi tindakan kateterisasi jantung hingga revaskularisasi.

Kateterisasi jantung adalah prosedur medis yang dilakukan oleh ahli jantung untuk mengevaluasi fungsi jantung dan mendiagnosis kondisi kardiovaskular. Selama kateterisasi jantung, selang sempit panjang atau kateter dimasukkan ke dalam pembuluh darah pada lipat paha, leher, atau lengan.

“Setelah kateter terpasang di jantung pasien, dokter dapat melakukan tes diagnostik, melihat kondisi pasien secara real-time, dan merencanakan jalannya perawatan dengan lebih cepat,” papar Siska.

Penyakit  jantung koroner atau PJK merupakan salah satu jenis penyakit jantung yang paling sering dijumpai dan kerap menyebabkan kematian. Penanganan PJK adalah melalui tindakan revaskularisasi yakni upaya memperbaiki aliran darah arteri koroner yang tersumbat atau menyempit.

Revaskularisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara berupa terapi fibrinolitik (membuka sumbatan akibat gumpalan darah di koroner menggunakan obat pengencer darah), tindakan PCI (pemasangan cincin atau stent koroner di cath lab) dan operasi by-pass atau pintas koroner (CABG).

Khusus untuk kasus serangan jantung akut, tindakan revaskularisasi memberikan hasil paling baik pada pasien yang datang ke rumah sakit dalam waktu sekitar 12 jam sejak awal terjadi serangan.

“Teknologi cath lab dapat membantu dokter mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mendiagnosis, dan memungkinkan dokter untuk memberikan pasien sejumlah pilihan perawatan dengan segera untuk menangani kasus yang kompleks dan mengancam jiwa,” papar Siska.

Lebih lanjut ia menjelaskan, "Berdasarkan data Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta, pasien serangan jantung akut yang menjalani tindakan revaskularisasi memiliki potensi pemulihan yang jauh lebih baik.”

“Pengamatan di Rumah Sakit Harapan Kita selama 2018-2019 menunjukkan angka kematian pasien serangan jantung akut yang menjalani revaskularisasi adalah 7.4% dibandingkan 15.3% pada pasien yang tidak menjalani revaskularisasi,” papar Siska.

“Sebagian besar tindakan yang dikerjakan adalah tindakan PCI yakni pemasangan cincin atau stent di cath lab. Ini berarti tindakan revakularisasi yang dikerjakan dengan menggunakan teknologi cath lab dapat mengurangi angka kematian akibat serangan jantung akut hingga setengahnya,” tuturnya.

Siska menjelaskan meski begitu, penting sekali bagi pasien dan keluarga untuk mengenali gejala serangan jantung, serta membawa pasien ke rumah sakit yang dilengkapi dengan peralatan dan sumber daya untuk melakukan tindakan secepat mungkin, agar tidak terjadi keterlambatan penanganan.

Berdasarkan data Perhimpunan Intervensi Kardiovaskular Indonesia (PIKI), saat ini terdapat 250 cath lab di Indonesia, dan 40% dari jumlah tersebut memanfatkan sistem GE Healthcare.

Untuk memberikan pelanggan akses teknologi pelengkap melalui perusahaan perangkat medis lainnya, seperti alat pencitraan medis ultrasonografi intra-vaskular dan aplikasi pasca-kardiovaskular, GE Healthcare menjalin kemitraan dengan penyedia teknologi pelengkap dan solusi aplikasi dalam rangka menghadirkan solusi cath lab yang holistik.

Putty Chandra, Country Director GE Healthcare Indonesia mengatakan, “GE Healthcare bangga telah berkontribusi dalam meningkatkan perawatan kardiovaskular di Indonesia.”

“Sebagai penyedia cath lab untuk layanan kesehatan publik dan swasta, kami menyadari bahwa teknologi saja tidak cukup. Kami terus bermitra dengan pelanggan kami untuk melatih para pengguna sistem cath lab, dan menawarkan layanan bernilai tambah bersama dengan mitra kami untuk memastikan dokter mampu menangani kasus-kasus yang rumit dan kompleks dengan percaya diri,” jelasnya.

Pada 2016, GE Healthcare membuka GE Healthcare Education Centres di Jakarta dan Surabaya untuk melanjutkan kerja sama dengan PIKI dan PDSRI dalam rangka menyelenggarakan kegiatan workshop guna memberikan pelatihan bagi ahli radiografi, teknisi CV, dan ahli jantung dan kardiologi.

Pada 2019, GE Healthcare melakukan 12 program workshop bersama dengan 580 ahli radiologi dari berbagai penyedia layanan kesehatan negeri maupun swasta di Indonesia. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More