Kamis 28 November 2019, 20:47 WIB

Bantah Lepas OVO, Mochtar Riyadi Akui Lippo Jual 2/3 Saham di OVO

Antara | Ekonomi
Bantah Lepas OVO, Mochtar Riyadi Akui Lippo Jual 2/3 Saham di OVO

Antara
Pemilik Lippo Group Mochtar Riady

 

LIPPO Group sebagai investor utama OVO menjual dua pertiga saham perusahaan dompet digital tersebut.

"Bukan melepas, kami menjual sebagian. Sekarang (saham) kami mungkin tinggal 30%. Dua pertiganya kami jual," kata pendiri sekaligus pemilik Lippo Group Mochtar Riady saat ditemui pada acara Indonesia Digital Conference 2019 di Jakarta, Kamis (28/11).

Mochtar menegaskan alasan Lippo Group sebagai pemegang saham utama OVO menjual 2/3 kepemilikan saham tersebut karena tidak kuat memasok dana atau "bakar uang" dengan layanan gratis, diskon hingga cash back yang diberikan OVO.

Baca juga: BPKN Nilai Afiliasi Lippo dan OVO Indikasikan Monopoli

Sejak 2017 mendapatkan lisensi uang elektronik (e-wallet), OVO telah aktif memberikan promosi diskon dan cash back untuk menjaring pengguna. OVO disebut-sebut menjadi penantang Gopay di pasar uang elektronik. "Alasannya, terus bakar uang bagaimana kami kuat," kata Mochtar.

Baca juga: OVO: Bayar Parkir Pakai Aplikasi adalah Kebijakan Pengelola Mal

Sebelumnya, Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra membantah soal rumor hengkangnya Lippo Group dari OVO sebagai penyuntik dana. Menurut dia, rumor tersebut sangat merugikan eksistensi OVO dan Lippo Group. "Kami adalah perusahaan independen yang dikelola oleh manajemen profesional. Mana mungkin OVO berpisah dari pendirinya," kata Karaniya dalam keterangan resminya.

Ia menegaskan telah berdiskusi panjang lebar dengan Direktur Lippo Group John Riady mengenai pengembangan perusahaan ke depan dan banyak diberikan masukan serta dukungan terhadap berbagai upaya pengembangan bisnis perusahaan.

Ia menilai promosi berbentuk cash back dan pemberian fasilitas lain merupakan hal yang biasa di dunia startup saat ini sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat.

Karaniya mengatakan OVO adalah perusahaan penyedia layanan keuangan digital yang didirikan, dirintis, dan dikembangkan oleh Lippo Group. Saat ini, para pemegang sahamnya sudah sangat beragam, seiring meningkatnya kinerja dalam dua tahun terakhir. "Yang perlu dicatat adalah OVO sebagai perusahaan keuangan digital memiliki peta jalan yang jelas untuk menuju profitabilitas sebagai sebuah entitas bisnis yang berkelanjutan.

Kami baru berusia dua tahun dan sedang dalam tahap edukasi untuk pengembangan pangsa pasar. Ini penting, karena pasar uang elektronik Indonesia baru bergeliat, dan akan terus berkembang dengan teramat pesat dalam satu hingga dua tahun ke depan," jelas Karaniya. (X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More