Jumat 29 November 2019, 01:20 WIB

Kunto Aji Mantra Mantra, Idealisme dan Pasar yang Beriring

Fathurrozak | Hiburan
Kunto Aji Mantra Mantra, Idealisme dan Pasar yang Beriring

MI/Fathurrozak
Kunto Aji

 

ALBUM kedua milik solois Kunto Aji, 32, yang bertajuk Mantra-Mantra dinobatkan sebagai Album Terbaik dalam Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2019. Mantra Mantra bersaing dengan Jejak (Rizky Febian), Love (d'Masiv), Memory Lane (The Overtunes), Ost Dilan (The Panas Dalam Bank), dan Merakit (Yura Yunita).

Tidak mengagetkan bila Mantra Mantra meraih penghargaan dalam penyelenggaraan ke-22 AMI Awards. Sepanjang tahun, setiap lagu dalam album kedua musisi asal Yogyakarta itu menjadi perbincangan banyak kalangan.

Selain album yang diterima publik, ganjaran penghargaan menunjukkan bahwa karya ini diakui dalam lingkup industri musik yang lebih kompleks. Hal itu juga menjadi bukti idealisme karya juga bisa beriringan dengan pasar.

"Sudah siap-siap, kalau menang, ya Alhamdulillah, kalau tidak, ya tidak apa-apa. Namun, tetap saja saya kaget. Senang tentunya dan tidak menyangka bisa menang Album Terbaik. Saya bersyukur karena sekarang eranya musisi bisa bergerak lebih lincah. Lebih liar, bisa memegang idealimse, tapi juga bisa jualan, ini era terbaik industri musik selama saya berkarier 11 tahun," papar Aji saat ditemui seusai gelaran AMI Awards, di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis dini hari (28/11).

Albumnya yang lekat dengan tema kesehatan mental ini banyak dibahas dalam diskusi publik. Karyanya tersebut hanya sebagai pemantik dan ia memposisikan diri sebagai pengeras suara.

"Mungkin album gue hanya trigger. Dari dulu kan orang juga sudah banyak yang ngomongin. Gue sebagai amplifier. Orang lewat itu, sekarang bicara isu kesehatan mental tidak tabu lagi. Misinya kan juga seperti itu, orang yang punya masalah tidak takut datang ke profesional," imbuh lelaki kelahiran 4 Januari 1987 tersebut.

Meski demikian, penyanyi yang dalam AMI Award itu juga meraih penghargaan untuk kategori artis solo pria/wanita alternatif itu tidak sepakat bahwa musik harus selalu mengusung tema yang serius dan berat. Baginya, musik pun bisa sederhana dan memiliki peran dalam kehidupan


Pilu membiru experience

Pada awal pembuatan album, Aji banyak berdiskusi dengan grup musik Barasuara dan Fourtwnty, yang menggarap album kedua mereka masing-masing. Aji yang mengaku merasa tertekan ketika proses pengerjaan menuturkan, setiap lagu dalam Mantra Mantra memberikan banyak pengajaran terhadap dirinya. Ep Overthink pun ia rilis menjelang Mantra Mantra dilepas sebagai respons kegelisahannya saat itu.

Perjalanan Mantra Mantra, lanjut Aji, tidak disangkanya akan menjadi sebesar ini, dengan sambutan luas dan penghargaan dari industri musik.

Belum lama, pelantun Terlalu Lama Sendiri itu juga merilis video musik Pilu Membiru Experience, salah satu nomor yang ada di album Mantra Mantra. Dalam video, dihadirkan tiga orang pendengar albumnya yang memiliki cerita pilu dan terlihat tengah berbicara dengan praktisi pemulihan batin. Video ini mendapat respons positif dari publik dan sempat menduduki trending nomor satu di Youtube.

"Pembuatan video itu sangat hati-hati. Makanya ketika bikin itu gue juga terlibat dari awal konsep hingga proses editing. Pilu Membiru itu kan satu kesatuan dengan album. Album (Mantra Mantra) ini kan seperti psikoterapi," jelas Aji. Ia melanjutkan, dalam proses tersebut ada satu momen ketika pendengar menceritakan trauma yang paling mendalam.

"Yang paling susah itu ialah memetakan masalah. Ketika lagu ini berdiri sendiri, tanpa lagu lain yang membasuh, takutnya jadi sedih banget. Akhirnya, gue ciptakan visual ini. Dan untungnya sampai ke orang-orang dengan positif. Kan bukan untuk sekadar menangis, tapi tujuannya ialah untuk overcome trauma," tegasnya. (H-3).

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More