Kamis 28 November 2019, 21:10 WIB

RI Ingatkan Uni Eropa Soal Diskriminasi Kelapa Sawit

Akmal Fauzi | Ekonomi
RI Ingatkan Uni Eropa Soal Diskriminasi Kelapa Sawit

ANTARA/Budi Candra Setya
Sebuah mobil melintas di perkebunan kelapa sawit Bumiarjo, Mesuji Raya, OKI, Sumatera Selatan, Sabtu (10/9).

 

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengingatkan lagi Uni Eropa soal diskriminasi kelapa sawit terutama bio feul jangan sampai mengganggu mitra dagang yang sudah berjalan baik. Hal itu disampaikan Airlangga seusai menemani Presiden Joko Widodo bertemu delegasi Dewan Bisnis Uni Eropa-ASEAN di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (28/11).

Airlangga menjelaskan, perdagangan bio fuel di Uni Eropa itu sebesar US$650 juta. Sementara total perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa mencapai angka US$31 miliar.

Baca juga: Negara Produsen Kelapa Sawit Ancam Balas UE

"Jangan sampai US$650 juta itu ganggu bilateral Indonesia dengan Uni Eropa," tegas Airlangga di Kantor Presiden.

Airlangga juga mengingatkan produk perdagangan lain kedua negara. Tidak dimungkiri Indonesia merupakan negara pembeli terbesar untuk pesawat Airbus.

“Kami ingatkan bahwa Indonesia adalah the biggest buyer dari Air Bus dan masih ada pending order 200 unit pesawat. Jadi bagaimana kita mencari jalan keluar terkait dengan masalah bio feul di Eropa tersebut," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo dalam pertemuan itu menyindir adanya diskriminasi terhadap minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia oleh Uni Eropa.

Jokowi menegaskan, tak akan tinggal diam atas tindakan negara-negara Eropa tersebut. Menurutnya, diskriminasi terjadi melalui berbagai aturan Uni Eropa yang menyulitkan masuknya salah satu komoditas utama Indonesia tersebut.

"Diskriminasi terhadap CPO Indonesia juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Eropa," kata Jokowi. (Mal/A-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More