Kamis 28 November 2019, 19:27 WIB

PLTN Sulit Diwujudkan di Indonesia

Agus Utantoro | Nusantara
PLTN Sulit Diwujudkan di Indonesia

Antara
BATAN Yogyakarta menguji kesiapan Thorium hasil pengolahan limbah penambangan timah sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar PLTN

 

MANTAN Menteri ESDM dan mantan Menteri Purnomo Yugiastoro menyarankan ada kajian ulang ketersediaan penduduk sebuah wilayah untuk pendirian pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Meski sangat dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan energi, namun dalam 100 tahun mendatang PLTN belum akan terealisasi.

Pendiri  Purnomo Yusgiantoro Center ini menyampaikan hal itu usai berbicara seminar Penguatan Ketahanan Energi untuk Mendukung Ketahanan Nasional di Gedung Fakultas Teknologi Mineral UPN Veteran Yogyakarta Kamis (28/11/2019).

"Selama ini kebutuhan energi untuk listrik terbesar ada di Jawa. Dan 15 tahun yang lalu kita sempat mengusulkan pendirian PLTN di Gunung Muria namun ditolak masyarakat," kata Purnomo.

Meski secara infrastruktur kelistirkan untuk PLTN dinilai siap, namun pendirian PLTN harus dikaji ulang. Padahal faktor memberikan harga  energi yang terjangkau (affordability) dan menerima jenis energi tertentu (acceptability) sangat penting. Langkah ini, lanjutnya, juga perlu dilakukan pada Kalimantan Barat serta Bangka Belitung yang menyatakan bersedia menjadi daerah pertama  memiliki PLTN di Indonesia.

"Sekarang saya enggak tahu itu sebab penolakan itu terjadi lima belas tahun lalu. Sekarang seharusnya disurvei lagi mau lagi apa enggak? Demikian juga teknologi dan bahan bakunya, perlu dikaji," tambahnya.

Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia Rinaldy Dalimy yang turut menjadi pembicara menyatakan meski tertuang dalam Kebijakan Energi Nasional, tapi PLTN menjadi pertimbangan dan pilihan terakhir .

"Ada risiko dalam penerapan teknologi nuklir baik untuk persenjataan, pertanian, kesehatan maupun kelistrikan. Senjata berisiko ledakan, pertanian dan kesehatan berisiko pada limbah, energi listrik berisiko kecelakaan," jelasnya.

Selain itu, keberadaan Indonesia yang berada di area the ring of fire serta daerah rawan gempa menghadirkan ancaman bencana alam yang tidak bisa diprediksi dan membahayakan instalasi. Tidak hanya itu penggunaan teknologi asing serta pembelian uranium akan meningkatkan subsidi listrik dan ketergantungan dengan negara lain.

"Saya memastikan dalam 100 tahun kedepan, PLTN belum akan hadir di Indonesia," ujarnya yakin.

Dalimy memaparkan Indonesia memiliki beragam jenis energi terbarukan yang bisa digunakan sebagai sumber pembangkit listrik. Ada tenaga angin yang sudah dimanfaatkan di Sulawesi Selatan. Kemudian ada tenaga ombak, hydrogen, tenaga air yang dielektrolisa, dan konversi energi termal lautan (OTEC). Indonesia memiliki potensi besar ketiga di
dunia untuk OTEC ini.

baca juga: Cegah Rentenir, BumDes Cisayong Buka Usaha Simpan Pinjam

"Persoalan utamanya untuk mengelola energi itu dibutuhkan dana besar. Disinilah peran perguruan tinggi, membuat yang mahal menjadi murah," terangnya.

Pakar Geologi Vulkanologi Surono atau biasa dipanggil Mbak Rono menyatakan konsep ketahanan energi haruslah pula dibarengi dengan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More