Kamis 28 November 2019, 13:38 WIB

Tim FKUI Ciptakan Aplikasi Healthpoint untuk Pantau Kasus DBD

mediaindonesia.com | Humaniora
Tim FKUI Ciptakan Aplikasi Healthpoint untuk Pantau Kasus DBD

Dok Universitas Indonesia
Seorang warga menunjukkan aplikasi HP Kader di ponsel miliknya.

 

MEMASUKI musim hujan, potensi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) akan meningkat. Sebut saja DKI Jakarta, pada 2018, menjadi wilayah dengan jumlah kasus DBD hingga mencapai 3.000 kasus.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) yang terdiri atas dua dosen serta tiga mahasiswa dari Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI menciptakan aplikasi bernama Healthpoint atau disingkat HP Kader.

Aplikasi itu mampu mengidentifikasi wilayah mana saja yang berisiko tinggi kasus DBD sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan dengan maksimal.

Untuk mengoptimalkan penggunaan aplikasi tersebut, Tim Pengmas FKUI menggelar Sosialisasi Penggunaan Aplikasi Healthpoint, Senin (25/11), di Kantor Lurah Bungur, Jakarta Pusat.

Baca juga: Jokowi Targetkan Stunting Turun Jadi 14% pada 2024

Acara itu terselenggara atas kerja sama Klinik Dokter Keluarga Kiara FKUI dengan Kelurahan Bungur yang dihadiri 30 Kader Jumantik.

Kader Jumatik atau Juru Pemantau Jentik merupakan relawan yang melakukan upaya pencegahan DBD dengan memberantas sarang nyamuk setiap minggu di wilayah RT masing-masing.

Kader Jumantik kerap mendatangi rumah-rumah warga untuk memeriksa setiap wadah, apakah mengandung jentik nyamuk atau tidak.

Kader ini akan mencatat dan melaporkan hasil pemantauan mereka kepada koordinator kader yang kemudian mengirimkan rekapan laporan kepada Puskesmas.

Selama ini, proses pemantauan dilakukan secara manual dengan menggunakan kertas, sehingga tidak dapat segera terlihat area mana yang berisiko terhadap DBD.

Atas dasar kondisi tersebut, Tim Pengmas Levina Chandra Khoe menuturkan, “Kami berinisiatif menciptakan aplikasi Healthpoint yang diharapkan dapat memudahkan pencatatan data lapangan. Aplikasi HP Kader dapat diunduh pada smartphone berbasis android dan dapat diakses dengan mudah. Para kader dapat memasukkan data jumlah wadah yang diperiksa, jumlah wadah yang mengandung jentik nyamuk, dan menyertakan bukti foto wadah yang diperiksa dengan mengunggahnya ke dalam sistem aplikasi. Selain itu, tiap lokasi yang didatangi oleh kader akan terekam lokasinya dalam koordinat global positioning system (GPS) sehingga petugas Puskesmas dapat mengidentifikasi area yang memiliki angka bebas jentik yang rendah dan kemudian menindaklanjutinya.”
 
Tim Pengmas FKUI terdiri atas Agus Sugiharto; Levina Chandra Khoe;  Muhammad Aji Muharrom, Dani Muhamad Trianto; dan Reza Haryo Yudanto.

Lebih lanjut, dalam kegiatan seminar, tim Pengmas menjelaskan langkah-langkah penggunaan aplikasi Healthpoint dimulai dari login hingga memasukkan data rumah yang dikunjungi, mengunggah foto, hingga mendapatkan rekapan laporan rumah yang dikunjungi.

Kader Jumantik dapat langsung mencetak laporan tersebut untuk diberikan kepada koordinator kader.

“Dengan adanya aplikasi ini, kader dapat lebih mudah dalam memasukkan data dan menghasilkan laporan; sementara dari sisi petugas Puskesmas, aplikasi ini akan memudahkan pemetaan wilayah yang berisiko terhadap DBD.” tutup Levina. (RO/OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More