Kamis 28 November 2019, 12:15 WIB

Jokowi Targetkan Stunting Turun Jadi 14% pada 2024

Antara | Humaniora
Jokowi Targetkan Stunting Turun Jadi 14% pada 2024

ANTARA/Aditya Pradana Putra
Presiden Joko Widodo

 

PRESIDEN Joko Widodo menargetkan angka stunting (kondisi balita gagal tumbuh) berkurang hingga menjadi 14% pada 5 tahun ke depan.    

"Angka stunting kita tinggi, dulu masuk 37% dan selama lima tahun terakhir bisa turun menjadi kurang lebih 27%. Selanjutnya 5 tahun ke depan bila dari Bappenas meminta targetnya 19%, saya masih tidak mau, saya ngotot (turun) ke 14%," kata Presiden Joko Widodo dalam Pembukaan Kompas100 CEO Forum 2019 di Jakarta, Kamis (28/11).   

Presiden Jokowi menyampaikan hal tersebut saat memaparkan lima prioritas kerja untuk pemerintahan periode 2019-2024.    

"Prioritas pertama pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) ini paling sulit, tidak gampang menyelesaikan masalah SDM. Setelah 5 tahun yang lalu kita bekerja keras fokus di pembangunan infrastruktur, meski 5 tahun ke depan kita tetap lanjutkan infrastruktur, tapi fokus kita adalah pembangunan SDM, pembangunan infrastruktur, penyederhanaan aturan melalui omnibus law, penyederhanaan birokrasi dan terakhir transformasi ekonomi," jelas Presiden.    

Baca juga: Mensos Minta Jajarannya Wujudkan Supertim bukan Superman

Presiden mengakui tugas paling berat adalah dalam pembangunan SDM.    

"Paling berat untuk pembangunan SDM, karena laporan Bank Dunia, 54% dari pekerja-pekerja kita dulunya adalah balita yang mengalami stunting ini angka yang sangat besar oleh sebab itu stunting menjadi program kita untuk membangun SDM," ungkap Presiden.  

Ia menilai target pengurangan tingkat stunting hingga 14% tidak mustahil tercapai bila semua bekerja keras.    

"Karena kalau dikerjakan terus bukan sesuatu yang sulit didapat tapi memang perlu kerja keras dan fokus untuk mempertajam, menutup masalah-masalah yang harus kita kerjakan," tambah Presiden.   

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak.    

Anak stunting juga memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya, bahkan stunting dan malnutrisi diperkirakan berkontribusi pada berkurangnya 2-3% Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya.    

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 30,8% atau sekitar 7 juta balita menderita stunting dibanding data pada 2013 yang menunjukkan stunting balita mencapai 37,2%.    

Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Asia pada 2017 yaitu mencapai 36,4%. Sedangkan menurut data Riskesdas 2018, angka stunting di Indonesia menurun hingga 23,6%. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More