Kamis 28 November 2019, 10:35 WIB

Jakpro Setop Pembangunan Wisma TIM

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
Jakpro Setop Pembangunan Wisma TIM

MI/Pius Erlangga
Pekerja menyelesaikan pekerjaan revitalisasi Taman Ismail Marzuki

 

PT Jakarta Propertindo memutuskan untuk membatalkan proyek pembangunan Wisma Taman Ismail Marzuki (TIM) atau hotel bintang lima yang termasuk ke dalam proyek revitalisasi TIM.

Hotel tujuh lantai itu dibatalkan setelah mendapat banyak pertentangan dari DPRD DKI serta seniman yang sehari-hari berkarya menggunakan fasilitas di TIM.

"Ya kita sangat menghargai apa yang disampaikan dewan sehingga kita setop untuk hotel," kata Corporate Secretary PT Jakpro Hanni Sumarmo saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (28/11).

Anggaran Penyertaan Modal Daerah (PMD) PT Jakpro pun disepakati dalam pembahasan Kebijakan Umum APBD dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUAPPAS) 2020 dipangkas sebanyak Rp400 miliar dari Rp3,1 triliun menjadi Rp2,7 triliun.

Baca juga: Soal Hotel, Radhar: Tidak ada Komersialisasi Apapun di Tanah TIM

Dari pemangkasan tersebut, pihaknya akan mendiskusikan secara internal proyek mana yang akan ditunda, dibatalkan maupun tetap dilanjutkan.

"Ya kan kemarin baru keputusannya. Hari ini kita mulai detailkan mana yang harus kita 'hold', mana yang bisa lanjut. Yang jelas kalau yang sudah berkontrak itu harus lanjut. Atau paling tidak kita bicarakan dengan kontraktornya untuk mendesain ulang pembangunan," ungkap Hanni.

Ia menyebut salah satu yang harus didiskusikan yakni pembangunan gedung Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang menjadi satu dengan hotel serta galeri seni dalam proyek revitalisasi TIM.

Dalam rancangannya, ketiga unit sarana itu akan berada dalam satu gedung dengan 14 lantai. Namun, setelah hotel dibatalkan, pihaknya harus mendiskusikan ulang teknis pembangunan dari 14 lantai menjadi 7 lantai.

"Kan beda ya fondasinya, strukturnya untuk gedung setinggi 14 lantai dengan yang 7 lantai. Itu harus kita bicarakan dengan kontraktor," tuturnya.

Revitalisasi TIM yang menelan dana Rp1,8 triliun dibangun oleh Jakpro dengan dana PMD APBD DKI. Jakpro pun turut diserahi tugas pengelolaannya oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Karena biaya pemeliharaan tidak ditanggung oleh APBD melainkan dari kas Jakpro, BUMD tersebut pun berinisiatif untuk membangun hotel bintang lima di satu gedung dengan galeri seni serta PDS HB Jassin. Namun, polemik terjadi saat seniman menolak.

Penolakan itu sampai di telinga anggota DPRD DKI. Puncaknya, kemarin dalam rapat KUAPPAS 2020, DPRD DKI sepakat menolak pembangunan hotel dan memangkas anggaran PMD Jakpro senilai Rp400 miliar.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More