Selasa 26 November 2019, 20:25 WIB

Konsumsi Susu Kental Manis Picu 14,5% Gizi Buruk Anak

mediaindonesia.com | Humaniora
 Konsumsi Susu Kental Manis Picu 14,5% Gizi Buruk Anak

Dok.mi
Balita yang mengalami gizi buruk.

 

DI tengah masifnya upaya promosi edukasi kesehatan anak dan keluarga yang dilakukan pemerintah, muncul laporan bahwa 12% dari 1.835 anak di Provinsi Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, dan Aceh mengalami gizi buruk, dan 23,7% mengalami gizi kurang.

Mirisnya lagi, sebanyak 14,5% anak dengan status gizi buruk diketahui mengonsumsi susu kental manis atau krimer kental manis lebih dari 1 kali sehari. 

Fakta anak-anak dengan gizi buruk di atas dan kaitannya dengan konsumsi susu kental manis mengemuka dalam pembahasan hasil penelitian yang dilakukan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dengan PP Aisyiyah. Paparan hasil penelitian dilakukan di hadapan Kemenkes, KPAI, KPI, dan BPOM, pada Selasa (26/11). 

Dalam kesempatan itu, Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Chairunnisa, memaparkan temuan mengejutkan adanya kaitan gizi buruk dan gizi kurang pada usia bayi dan balita yang rutin mengkonsumsi SKM/KKM.

“Dari 1835 anak yang terdata disimpulkan 14,5% anak disimpulkan mengalami gizi buruk dan 29,1% mengalami gizi kurang,” papar Chairunnisa.

Karena itu, Chairunnisa berharap elemen pemerintah yang hadir menjadikan hasil penelitian lapangan yang dilakukan YAICI bersama PP ‘Aisyiyah sebagai bahan kajian kebijakan dalam rangka mengatur produsen SKM yang tidak peduli sekaligus melindungi generasi bangsa.

Tingginya angka balita dengan gizi bermasalah akibat SKM adalah dikarenakan iklan yang tidak informatif dan manipulatif bahwa SKM adalah susu.

Padahal SKM adalah pemanis buatan untuk bahan pelengkap jajanan/kue sehingga tidak baik bagi kesehatan bayi, sedangkan susu adalah cairan hewani yang diproduksi oleh mamalia dan mengandung protein. Selain itu, SKM murah dan mudah didapat.

“Positifnya, setelah mendapatkan edukasi, 71% orangtua berhenti memberikan SKM pada bayinya,” imbuh Chairunnisa.

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Nuning Rodiah yang hadir dalam kesempatan itu tak menampik bahwa televisi masih menjadi media utama dalam mengakses informasi SKM.

“Ironi memang karena sulit dikatakan bahwa iklan SKM yang ditayangkan di televisi betul- betul sudah menyajikan informasi yang benar. Bagaimana kalau informasi Iklan SKM itu tidak benar atau ada hal yang ditutupi," ujar Nuning.

"Inilah yang menjadi perhatian KPI, bahwa kita harus perkuat dengan literasi kesehatan dan literasi media supaya informasinya berimbang,” jelas Nuning.

Selama ini yang menjadi rujukan dalam iklan adalah etika pariwara. Tapi di etika pariwara hanya mengatur bahwa iklan SKM harus menyebutkan kandungan-kandungannya.

“Selama ini saya cermati dari tampilan visual iklan SKM di televisi, seringkali tidak menyebutkan seluruh kandungannya secara lengkap. Misalnya kandungannya ada tujuh tapi yang ditampilkan hanya tiga," tutur Nuning.

"Yang positif saja disebutkan, misalnya nutrisinya. Tapi keterangan tentang jumlah gula yang terkandung di dalam SKM justru tidak dijelaskan sama sekali," paparnya.

"Seharusnya informasi tersebut disampaikan semuanya, tidak ditutupi. Karena bila tidak, informasinya bisa berpotensi menyesatkan,” tegas Nuning.(OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More