Rabu 27 November 2019, 22:40 WIB

Kader Posyandu Dilatih Perangi Stunting di Manggarai

Yohanes Manasye | Nusantara
 Kader Posyandu Dilatih Perangi Stunting di Manggarai

Ist
Kader Posyandu Dilatih Perangi Stunting di Manggarai

 

DINAS Kesehatan Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, bersama Yayasan Ayo Indonesia melakukan pelatihan kader-kader Posyandu di daerah itu. Pelatihan yang digelar sejak Mei hingga November 2019 dimaksudkan untuk memerangi kasus stunting atau gagal tumbuh pada balita di daerah itu.

Direktur Yayasan Ayo Indonesia, Tarsis Hurmali, mengatakan, isu sumber daya manusia, khususnya stunting di NTT, termasuk di Manggarai menjadi masalah serius. Oleh karena itu dibutuhkan upaya serius dengan melibatkan semakin banyak pihak untuk terlibat menanganinya.

Prevalensi stunting di daerah itu sangat tinggi. Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2013 menunjukkan prevalensi stunting di Manggarai mencapai 58%. Angka tersebut melampaui NTT yang berada pada 51,7% dan Indonesia 37%. Selanjutnya pada tahun 2018, hasil Riskesdas menunjukkan penurunan angka stunting Manggarai menjadi 43%.

"Cukup jauh turunnya tetapi masih pada level yang sangat mencemaskan. Sangat serius," ujar Tarsis kepada Media Indonesia, Rabu (27/11).

Anehnya, kata Tarsis, meskipun prevalensi di Manggarai sangat tinggi, namun tidak banyak orang tahu tentang stunting. Ketidaktahuan ini membuat masyarakat setempat tenang-tenang saja menghadapinya. Padahal masalah kesehatan terutama stunting berkaitan dengan prilaku hidup masyarakat. Dan yang bisa mengubah prilaku hanyalah melalui penyebarluasan informasi.

"Bagaimana supaya informasi cepat sampai kepada orang-orang jauh di tempat-tempat terpencil. Kami memilih kader Posyandu sebagai agen informasi kepada orang-orang yang membutuhkan informasi itu. Mereka punya audiens jelas yakni ibu-ibu hamil dan menyusui," katanya.

Dari bulan Mei hingga November, kader-kader Posyandu dilatih untuk menjadi penyuluh kesehatan terutama tentang stunting. Mereka bisa menjelaskan sebab-sebab dan dampak stunting dan cara-cara mengetahui balita stunting. Lalu dilatih pula untuk mengubah prilaku hidup masyarakat dan perbaikan gizi keluarga untuk mencegah dan mengatasi stunting.


Baca juga: Pemkab Tuban Larang Warga Menambang Pasir di Bengawan Solo


Saverius, Kader Posyandu Desa Langkas, Kecamatan Cibal mengatakan pelatihan yang dilaksanakan oleh Yayasan Ayo Indonesia bersama Dinkes Manggarai sangat bermanfaat dalam menekan angka stunting di desanya. Apalagi, selain dilatih untuk bisa melakukan penyuluhan kesehatan, kader Posyandu juga dilatih untuk mengolah makanan dan minuman kaya protein dan gizi.

"Kami juga dibekali dengan cara membuat susu kedelai. Ibu hamil dengan kekurangan energi kronis atau KEK dan balita stunting kami berikan susu kedelai. Hasilnya, setelah rutin konsumsi susu kedelai, kondisinya bagus. Ibu hamil KEK bisa melahirkan bayi dengan selamat dan sehat. Bayi-bayi stunting bisa bertumbuh sehat," jelasnya.

Namun ia masih menemukan kendala soal minimnya pemahaman masyarakat tentang stunting. Masih banyak warga yang beranggapan bahwa bayi gagal tumbuh seperti postur tubuhnya kurang tinggi karena faktor genetika. Pemahaman itu menyebabkan mereka menganggap stunting bukan masalah serius.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Manggarai Moina Sagala mengatakan pemerintah terus berupaya untuk memerangi stunting. Data terakhir berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan oleh petugas Puskesmas dan kader Posyandu di seluruh Manggarai menunjukkan prevalensi stunting per-Juli 2019 di daerah itu mencapai pada 20%.

"20% itu besar. Ada 3000 lebih anak yang kategori stunting. Kalau dilihat, jumlah ini sangat besar dan butuh keseriusan untuk penanganannya," ujar Moina.  

Upaya serius pemerintah, salah satunya dengan menginisiasi Rembug Stunting. Salah satu kesepakatan yang dihasilkan yakni setiap desa wajib mengalokasikan anggaran dari Dana Desa sebesar Rp 50 juta pertahun untuk pencegahan dan penanggulangan stunting.

Hal itu dibenarkan oleh Kasi Pelayanan Desa Golo, Kecamatan Cibal Agustinus Abur. Ia bahkan menyebutkan, untuk desa tersebut, sudah ada intervensi Dana Desa sejak sebelum Rembug Stunting dilakukan. Namun perhatian mereka yang telah berjalan selama empat tahun itu masih sebatas pemberian makanan tambahan. Makanan tambahan yang diolah kader-kader Posyandu itu diberikan sebulan sekali di setiap Posyandu.  

"Per-30 Oktober 2019, terdapat 21 sasaran. Ibu hamil dengan kekurangan energi kronis atau KEK ada tiga orang dan 18 sasaran lainnya merupakan bayi stunting. Dengan pendekatan pemberian makanan tambahan ini, ibu hamil dan balita itu bisa dipulihkan kondisinya," ujar Agustinus. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More