Kamis 28 November 2019, 04:10 WIB

Heri Pemad Potensi Seni di Indonesia, Gila

Ardi Teristi | Weekend
Heri Pemad Potensi Seni di Indonesia, Gila

DOK PRIBADI
Heri Pemad

ART Jog disebut sebagai salah satu perhelatan seni terbesar di Asia. Kebesaran festival seni tahunan ini tidak lepas dari tangan dingin Heri Pemad.

PESTA seni tahunan bertajuk Art Jog MMXIX usai digelar di Jogja National Museum. Sosok di balik suksesnya pameran tersebut, Heri Pemad tampak sibuk mengomandoi pembongkaran karya-karya yang baru saja dipamerkan.

"Waktu kami cuma seminggu untuk merapikan kembali bangunan ini," kata dia kepada Media Indonesia sambil menuju sebuah kantin di bagian belakang bangunan Jogja National Museum, akhir Agustus lalu. Perbincangan kami pun langsung mengalir tentang masa-masa awal dirinya merintis Art Jog sesaat setelah kami duduk.

Heri menceritakan, Art Jog dibuat secara sadar dan direncanakan untuk menjadi sebuah tradisi. Lahirnya Art Jog cukup panjang. Semua berawal dari kegelisahan seniman-seniman muda yang merasakan kekurangan media berekspresi, galeri, peristiwa seni, hingga dukungan pemerintah. Padahal, potensi ataupun aset seniman di Yogyakarya sangat besar. Para pekerja seni pun kemudian merasakan ketidakseimbangan antara banyaknya pelaku kreatif dengan event yang dibuat dan infrastruktur yang ada.

Heri yang juga seorang pelukis pun mengamini hal tersebut. "Saya waktu itu berpikir, mau pameran saja kok susah sih. Yang laku atau pasar yang berpihak pada (seniman) yang itu-itu terus," kata dia.

Dari situlah, ia terpikir untuk membuat sebuah wadah, menciptakan peristiwa seni. Ia pun mengajak para seniman untuk membuat pameran besar sehingga tercetuslah Jogja Art Fair 2008. Sejak pertama kali digelar pada 2008, animo masyarakat sudah tinggi. Pada 2010, Jogja Art Fair diubah menjadi Art Jog agar bisa diterima publik secara luas, terutama di dunia internasional.

"Pergantian JAF ke Art Jog supaya lebih diterima global. Kami ingin membuat pameran menjadi menarik dan mewakili dunia seni rupa pada waktu itu, terutama seniman muda," kata dia. Ada dua hal penting yang coba dikedepankan di Art Jog, yaitu pasar dan wacana.

Tidak lagi art fair

Waktu berjalan, Art Jog semakin membesar. Lokasi perhelatan salah satu kegiatan seni rupa terbesar di Asia itu pun dipindah, dari Taman Budaya Yogyakarta ke Jogja National Museum. Memasuki 2019, format Art Jog pun diperbarui. Kemasannya sudah tidak lagi art fair, tetapi sudah festival.

"Mulai tahun ini, kita punya branding yang baru, tidak lagi art fair, tetapi festival seni kontemporer Indonesia," kata dia. Kata festival disematkan karena pada saat perhelatan Art Jog digelar pula agenda-agenda seni yang lain di DIY dan semuanya berjejaring dengan Art Jog.

Heri menyebut, pembuatan jejaring tersebut sudah dirintis sejak 2013. Pasalnya, saat itu ia sadar, Art Jog tidak bisa menampung besarnya potensi seni yang ada. Tidak hanya seniman, pengunjung Art Jog sejak 2015 selalu di atas 100 ribu orang. Mereka dari mana-mana. Sekitar 20% dari luar negeri dan luar Yogyakarta.

Art Jog secara peristiwa memang besar, tetapi tempatnya sangat terbatas. Dalam sehari sekitar 2.000 orang terbilang sangat ramai bagi pameran seni. Tamu sebanyak itu tidak mungkin dijamu hanya dengan melihat Art Jog saja. Ia pun yakin, kedatangan mereka ke Art Jog juga bukan hanya karena Art Jog, melainkan ingin melihat hal-hal lain di Yogyakarta.

Saat pagelaran Art Jog, ada lebih dari dua ratus peristiwa seni yang ditampilkan, seni rupa pertunjukan, fesyen, tradisi, hingga seni musik. Ia mendorong kepada para seniman yang punya ruang seni, galeri, ataupun teman-teman yang berkerja sebagai art organizer untuk membuat peristiwa seni pada saat Art Jog diselenggarakan.

"Orang pun ada yang bilang, lebarannya seni atau bulannya seni Yogyakarta pada saat Art Jog. Saat Art Jog dipindah dari Mei ke Juli, semua acara seni pun mengikuti," jelas dia. Menurut dia, konsep yang dibuat Art Jog ini sudah dibuat dalam festival-festifal seni besar di dunia, misalnya Venice Biennale.

Proses panjang

Ia menceritakan, proses pengerjaan Art Jog tidak dilakukan dalam satu ataupun dua bulan, tetapi setahun penuh. Setelah pameran selesai, pihaknya akan melakukan benah-benah, misalnya pendataan hingga mengembalikan karya-karya ke para seniman, sekitar tiga bulan sambil menentukan tema dan seniman-seniman yang akan diundang. Pada akhir tahun, sosialisasi tema Art Jog 2020 sudah mulai dilakukan.

Di sela-sela waktu tersebut, Heri Pemad juga tengah sibuk mempersiapkan Art Bali. Gelaran tersebut sudah dipikirakan sejak 2016, tetapi baru lahir pada 2018 saat pelaksanan konferensi IMF-Bank Dunia. Art Bali 2019 dibuka pada 12 Oktober 2019.

"Saya ingin menunjukkan kepada dunia, potensi seni di Indonesia itu "gila" besarnya, senimannya luar biasa, kontennya luar biasa," kata dia. Lahirnya Art Bali lagi-lagi tidak lepas dari tingginya potensi seni yang ada, termasuk di daerah-daerah. Menurut dia, peristiwa seni di Indonesia tidak cukup hanya Art Jog. Semakin banyak mengenal seniman, Heri semakin sadar. Mereka juga butuh tempat, butuh pameran berskala besar.

Heri mengatakan, ia tidak khawatir keberadaan Art Jog dan Art Bali akan membosankan dan ditinggalkan pengunjung. Pasalnya, potensi seni yang ada membuat seni di Indonesia akan selalu menarik. "Perkembangan para pelaku seni pesat sekali. Seniman dengan ide-ide karyanya yang baru dan segar terus bermunculan," kata dia.

Semua itu tidak lepas dari kekayaan konten budaya yang dimiliki. Lewat pergelaran-pergelaran seni yang diadakan, Heri ingin selalu mengabarkan perkembangan seni dan potensi seni secara ekonomi ke depan sehingga kita bisa terus mengeksplorasi dan mengembangkan seni budaya.

Totalitas

Perbincangan Media Indonesia dengan Heri Pemad sore itu juga menggarisbawahi tentang pentingnya totalitas dalam penyelenggaraan event seni rupa.

"Saya selalu berusaha agar karya bisa tampil secara maksimal agar pesannya bisa tersampaikan. Jangan sampai gara-gara ruang yang pendek, sempit, dan panas karya tidak benar-benar sampai pesannya. Secara tampilan tidak representatif," kata dia.

Heri mengatakan, ia bisa totalitas dalam mengerjakan semua itu karena pengalaman yang dijalani. Sejak 2001, Heri mulai bergelut dengan pekerjaan kurir undangan hingga membantu perhelatan seni pada 2001 sekaligus sebagai pelukis.

Ia kemudian membuat Art Management sejak 2004 walaupun belum terdaftar sebagai PT. Pada 2008, ketika membuat Jogja Art Fair pertama, saya membuat PT Heri Pemad Art Management dan tahun ini menjadi PT Heri Pemad Management.

"Saya memperkenalkan diri yang membuat pameran, mengurusi seniman, karyanya, cara pengemasan, hingga display. Dari manager seni, mendampingi seniman, bekerja sebagai tim dengan seniman, hingga membikin peristiwa seni," kata Heri yang memiliki hampir 50 orang dalam timnya. Ia membantu para seniman tidak hanya menjual karya ke kolektor, tetapi meyakinkan semua pihak, karya tersebut layak dikoleksi dan layak dipamerkan untuk pameran yang lebih besar.

Heri mengatakan, ia tidak hanya mengorganisasi pameran seni rupa di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Ia mengaku, menggelar pameran di luar negeri berbeda dengan di dalam negeri. Di luar negeri, terutama di negara-negara yang sudah mapan dengan pergelaran seni rupa, peralatan, pencahayaan, ruang display, hingga sistem bagus karena memang disiapkan dengan baik.

Untuk menyiapkan pergelaran seni di dalam negeri, kata dia, bukan jelek, melainkan hanya kurang atau minimalis. Heri mengatakan, dukungan formalitas dari pemerintah tetap diperlukan. Artinya, ketika membuat kerja sama dengan luar negeri, dengan adanya kehadiran pemerintah, kita bisa lebih mudah, misalnya dalam hal perizinan dan lain-lain.

Ia menyadari juga, pemerintah tidak memiliki dana besar untuk membuat kegiatan yang besar. Yang penting dibutuhkan dari pemerintah adalah memberi rekomendasi bahwa kegiatan yang digelar bagus dan pantas didukung. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More