Rabu 27 November 2019, 20:47 WIB

Menhub Cari Pemasok Avtur, Pertamina: Jangan Hanya di Rute Gemuk

Faustinus Nua | Ekonomi
Menhub Cari Pemasok Avtur, Pertamina: Jangan Hanya di Rute Gemuk

Antara/Irwansyah Putra
Petugas mengisi bahan bakar avtur ke pesawat

 

RENCANA pemerintah untuk mencari pemasuk bahan bakar pesawat, avtur selain Pertamina ditanggapi santai petinggi perusahaan minyak bumi pelat merah itu. Namun, Pertamina meminta adanya perlakuan serupa terhadap semua pemasuk Avtur nantinya.

Staf Ahli Direktur Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur Pertamina Rifky Effendi Hardijanto mengingatkan, dalam distribusi avtur, ada biaya logistik yang harus diperhitungkan.

"Ya nggak apa-apa (pemasok lain), silahan saja. Tapi jangan sampai beban di daerah yang harus disubsidi ini (logistic cost tinggi) tidak dimasuki mereka. Jadi nggak fair kalau masuk ke market yang gemuk aja, yang minus nggak diurusi," katanya di sela-sela diskusi Ekonomi Indonesia Kabinet Indonesia Maju, di Jakarta (27/11).

Rifky menjelaskan, harga avtur yang dipasok perseroannya jadi mahal karena mahalnya ongkos logistik ke daerah. Hal itu juga yang membuat harga bahan bakar pesawat di Indonesia berbeda-beda di tiap daerah.

"Ada daerah yang jual cuma 1.000 ltr tapi kita harus ke situ. Kalau nggak ke situ ya pesawat nggak bisa masuk," tambahnya.

Baca juga : Pertamina Jual Mahal, Menhub Buka Opsi Swasta Ikut Suplai Avtur

Menurutnya, saat ini hanya sekitar 8 depo avtur Pertamina yang menguntungkan. Sementara jumlah depo avtur seluruh Indonesia jumlahnya hampir mencapai 60-an depo.

Selain itu, avtur juga merupakan bahan bakar yang tidak disubsidi, sehingga perusahaan pun mencoba untuk tingkatkan efisiensi keuangannya.

"Mekanismenya terserah, kalau nggak dikasi subsidi ya dia overcost, kalau overcost ya ditutup, kalau di tutup maka jembatn udara putus. Negara seluas ini memang nggak mudah buat keputusan," ungkapnya.

Rifky menambahkan, tidak tepat apabila hanya membandingkan harga avtur dengan Singapura. Negara tetangga tersebut distribusi avturnya jelas mudah, sebaliknya Indonesia dengan geografis yang sulit pun faktor distribusi menjadi kendalanya.

"Kalau bicara hanya soal Jakarta dan Singapura itu nggak fair. Karena Singapura itu kapasitas kilang hampir 3 juta barel sehari. Mereka dengan modal pakai pipa atau tongkang ke bandara itu nggak masalah," imbuhnya.

Adapun kendala lainnya terkait pajak yang cukup tinggi. Dengan benefit yang kecil ditambah beban pajak ppn 10%, lanjutnya hal itu turut mempengaruhi harga avtur di Tanah Air. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More