Rabu 27 November 2019, 19:52 WIB

Antara Venesia dan Jakarta

adiyanto, wartawan Media Indonesia | Opini
Antara Venesia dan Jakarta

dok.mi
adiyanto, wartawan media indonesia

DI sudut perpustakaan kantor yang sunyi saya membaca berita ini: Venice atau Venesia, salah satu kota eksotis di Italia, terendam banjir. Kejadiannya sih berlangsung pekan lalu dan mungkin kini telah surut.

Namun ada sejumlah persoalan yang mengendap di kepala saya dari berita tersebut. Konon, katanya (kata beberapa media yang layak dipercaya tentunya, salah satunya AFP), itulah banjir terbesar dalam setengah abad terakhir yang melanda kota itu. Ketinggian air hampir mencapai 2 meter. Barangkali mirip seperti di Jakarta ketika dilanda banjir besar pada 2002 yang memaksa saya tidur di kantor lantaran sejumlah wilayah tergenang dan akses transportasi terputus.

Seperti pejabat di Tanah Air, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte kabarnya juga ikut berbasah-basah meninjau lokasi yang dilanda "acqua alta" alias air pasang di Venice, tersebut. Beberapa pemain timnas Italia juga ikutan nyemplung berkunjung, termasuk dua legenda azzuri, Roberto Mancini dan Gianluca Vialli. Venice, kata Vialli yang pernah jadi bintang dan melatih di Chelsea, ibarat pemain yang tengah cedera dan mesti segera pulih.

Conte, sang perdana menteri bahkan menyebut musibah itu sebagai pukulan langsung ke jantung negaranya. Pemerintah Italia, kata dia, siap mengganti ongkos rumah yang rusak terdampak banjir hingga 5.000 Euro atau sekitar Rp77,5 juta. Sementara pelaku usaha, yang memiliki toko ataupun restoran, dapat mengklaim ganti rugi hingga 20 ribu Euro atau sekitar Rp310 juta sebagai kompensasi.

Namun, persoalannya bukan sekadar ganti rugi atau uang kerohiman. Tidak sesederhana itu. Pemerintah setempat melihat ada hal yang jauh lebih krusial, yakni dampak perubahan iklim yang diduga menjadi salah satu penyebab kota itu nyaris tenggelam.

Melalui akun twitter-nya, Wali Kota Venesia, Luigi Brugnaro menyebut musibah ini sebagai dampak perubahan iklim. Ongkosnya, kata dia, akan jauh lebih mahal. "Masa depan kota ini terancam. Kami tidak mau hidup seperti ini lagi," cicitnya.

Venesia, kota kanal romantis yang bergantung pada kunjungan wisatawan, memang jadi porak-poranda akibat banjir. Sejumlah sekolah, toko, dan museum, tutup. Begitu juga dengan tempat-tempat wisata lainnya. Gaby Brueckner, pelancong asal Jerman mengaku khawatir dampak perubahan iklim bakal membuat Venice makin amblas. Meski gagal mengunjungi spot-spot eksotis, turis seperti Gaby mungkin masih bisa nyengir. Setidaknya dia masih bisa berswafoto meski dengan latar belakang air pasang. Yang manyun tentu warga, terutama para pengelola restoran dan toko souvenir. Rezeki mereka ambyar.

"Inilah yang akan makin sering terjadi di kawasan mediterania. Pemanasan global akan menghancurkan planet kita jika tidak segera ada tindakan nyata," kata Menteri Lingkungan Hidup Italia, Sergio Costa dalam akun Facebook-nya.

Pemerintah setempat bukannya tinggal diam. Sebuah proyek infrastruktur masif yang diberi nama MOSE telah dirancang sejak 2003. Namun, proyek pembangunan tanggul untuk melindungi kota tersebut dari banjir, tak kunjung rampung. Para insinyur bahkan menemukan sejumlah kejanggalan, beberapa bagian besinya banyak yang berkarat.

Ah, saya lantas jadi teringkat proyek Giant Sea Wall alias tanggul raksasa yang diproyeksikan untuk melindungi wilayah pesisir di utara Jakarta. Apa kabarnya ya? Semoga saja pembangunannya terus dikebut dan segera rampung. Kita semua tentu tak ingin Batavia alias Jakarta yang tanahnya tiap tahun amblas sekitar 7,5 cm ini, bernasib sama seperti Venesia. (X-12)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More