Rabu 27 November 2019, 15:27 WIB

Indonesia Perlu Putus Gap Akses Energi Listrik

Hilda Julaika | Ekonomi
Indonesia Perlu Putus Gap Akses Energi Listrik

MI/Ramdani
Wamen BUMN Budi Gunadi Sadikin

 

WAKIL Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin mengatakan perlunya mengecilkan gap antara orang miskin dan kaya dalam konsumsi energi terutama listrik. Ia menyebutkan sebanyak 1,1 miliar orang atau sekitar 40% warga populasi dunia tidak memiliki akses energi listrik.

“Kalau saya sebagai PLN yang dibicarakan adalah pembangunan 35 ribu megawatt. Sangat jarang dilakukan diskusi mengenai navigation percentage. Akses terhadap energi masih menjadi isu di Indonesia,” ujar Budi, Rabu (27/11).

Sementara itu, bagi Budi, energi memiliki peranan sangat penting terhadap kehidupan manusia. Di Indonesia, masih banyak daerah-daerah terutama di pelosok yang belum mendapatkan akses ini. Sumber energi seolah masih menjadi barang mahal bagi mereka.

Karena itu, lanjut Budi, perubahan sistem energi yang masif adalah sebuah keniscayaan sehingga akan berdampak pada konsumsi masyarakat akan listrik. Ke depannya energi tidak hanya berbicara mengenai affordability dan availability namun merambah ke sustainability. Yakni energi dapat menjawab serta memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.

Untuk 20-30 tahun ke depan, para pengamat energi melihat kebutuhan energi terutama bagi kendaraan akan beralih ke listrik. Kebutuhan minyak dan gas memang tak akan berhenti namun tren tersebut akan membuat permintaan minyak serta gas menurun. Hal ini akan menjadi tantangan bagi perusahaan negara Pertamina sebagai pemegang resources energy.

Baca juga: Minat Masyarakat Terhadap Pembangkit Listrik EBT Tinggi

Dewan Penasihat Pertamina Energy Institute Widyawan Prawiraatmadja menjelaskan transisi energi memang merupakan hukum alam. Menurut dia, Pertamina sudah siap menghadapi perkembangan global di bidang energi baru terbarukan, khususnya di sektor transportasi dengan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan.

Dia memproyeksikan hingga 2050, sekitar 50% penggunaan bahan bakar kendaraan bersumber dari biofuel. Di samping itu, pembangkit listrik dari sumber daya baru terbarukan akan terus bertumbuh.

“Pertamina sudah terlibat langsung dalam pengembangan energi baru terbarukan untuk sektor transportasi, seperti pengembangan B20 dan baru-baru ini sudah meresmikan penggunaan B30,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan skenario Green as Possible, Pertamina memproyeksikan terjadi transisi elektrifikasi yang masif dari sumber energi fosil ke sumber energi baru terbarukan. Bahan bakar B50 (Biosolar kadar 50%) dan E50 (Ethanol kadar 50%) sudah diaplikasikan dan pembangkitan listrik energi baru terbarukan makin banyak terpasang.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More