Rabu 27 November 2019, 11:30 WIB

Hemat Gas Untuk Mandi Air Panas Antar Dobson Jadi Juara

Depi Gunawan | Teknologi
Hemat Gas Untuk Mandi Air Panas Antar Dobson Jadi Juara

MI/Depi Gunawan
Muhammad Arifin Dobson menyumbangkan satu perak berkat karya ilmiahnya yang berjudul EcoSol Solar Thermal Collector-Sun Harvester.

NAMA Muhammad Arifin Dobson mungkin belum begitu akrab di telinga masyarakat Bandung dan sekitarnya. Namun warga asal Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat ini pernah mendapat penghargaan pada ajang karya ilmiah tingkat internasional di Bali pada tahun 2013 lalu.

Anak muda keturunan Skotlandia- Yogyakarta yang biasa disapa Dobson ini terpilih sebagai salah satu peraih penghargaan pada kompetisi International Conference of Young Scientist (ICYS) setelah mengalahkan sekitar 150 siswa sekolah menengah dari 23 negara Eropa, Asia dan Amerika Selatan.

Dobson menyumbangkan satu perak berkat karya ilmiahnya yang berjudul EcoSol Solar Thermal Collector-Sun Harvester. Saat itu mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono langsung mengucapkan selamat melalui akun twitternya atas prestasi yang diraih pria yang kini telah berusia 23 tahun ini.

Namun jauh sebelum mendapat penghargaan di pulau Dewata, bakat dan minat Dobson terhadap ilmu fisika sudah dimulai sejak dia duduk di bangku sekolah dasar, dengan mendapat juara ke III festival teknologi sederhana di Sawangan tahun 2007.

"Awalnya, waktu itu ayah membuat panel surya yang terbuat dari semen, bisa jadi tempat pijakan, tempat parkir dan taman. Lalu saya berpikir kenapa enggak bikin yang lebih simpel dengan material GRC, di atasnya pasang pipa waterpass disambung pipa, dilem, kan itu jadi panel. Ditambah pipa-pipa besar yang jadi pemanasnya. Nah saya bikin untuk lomba itu," kata Dobson ditemui di rumahnya, Rabu (27/11/2019).

Dengan ketrampilan yang didapat di bangku sekolah ditambah ilmu pengetahuan saat kuliah di Universitas Parahyangan (Unpar), alumni SMAN 3 Bandung ini kemudian berpikir membuat alat pemanas air bertenaga matahari yang lebih praktis. Caranya dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat seperti pipa PVC dan polikarbonat agar biaya pembuatannya tidak terlalu mahal.

"Bahan-bahan ini bisa menyimpan panas matahari yang dimanfaatkan untuk memanaskan air, disimpan dalam sebuah tempat berbentuk termos jumbo," ujarnya.

Dia menuturkan setelah bahan-bahan ini dirancang dan diujicobakan, ternyata bisa berfungsi seperti alat pemanas air lainnya yang beredar di pasaran. Harganya jauh lebih mahal. Alat yang diberi nama EcoSol Sunheat tersebut diklaim lebih bisa menghemat pemakaian listrik dan gas yang digunakan sebagai pemanas air.

"Pengguna pemanas air tenaga surya di Indonesia masih terbatas di perumahan atau komplek-komplek besar. Mereka juga sebenarnya belum peduli dengan penghematan. Walaupun sebenarnya metode kerja yang dipasaran tidak efisien, karena masih menggunakan pemanas listrik," bebernya.

Selain itu, pemasangan panel surya terbilang irit karena tidak membutuhkan lahan yang luas untuk memproduksi listrik lantaran bisa diletakkan di atap rumah.

"EcoSol Sunheat memanfaatkan tenaga matahari yang melimpah di alam terbuka. Apalagi sebagai negara tropis yang kaya akan cahaya matahari, Indonesia mestinya bisa memanfaatkan energi alam ini," tuturnya.

Kini, Dobson serta keluarganya sudah lama tidak pernah menggunakan air dingin karena telah tersedia air panas untuk mandi. Saking dinginnya udara Lembang, untuk mencuci piring sekali pun, keluarganya hanya memanfaatkan air hangat yang ada di rumahnya. Meski bisa disebut belum lama menciptakan EcoSol Sunheat, Dobson mengaku, karyanya sudah dimanfaatkan sejumlah hotel di wilayah Bandung. Umumnya mereka menyampaikan testimoni jika alat ini berhasil menghemat gas serta listrik.

Pria yang sehari-harinya menjadi peneliti sekaligus merangkap sebagai asisten dosen di Unpar Bandung ini menyadari alat yang dibuatnya memiliki kelebihan dan kekurangan.

"Kelebihannya bisa menghemat penggunaan gas hingga lebih dari 20 persen. Sedangkan kekurangannya tetap harus ada gas sebagai backup kalau tidak ada sinar matahari," ucapnya.

baca juga: DPR Desak Pertamina Segera Perbaiki Pesisir Pantai Cemarajaya

Dobson masih akan mengembangkan karya panel suryanya agar bermanfaat bagi banyak orang dan multifungsi untuk bantu memudahkan pekerjaan manusia.

"Panel sudah dicoba membantu mengeringkan garam jadi lebih cepat. Impiannya saya bisa dijadikan sebagai alat pembangkit listrik tapi itu perlu penelitian lagi," tandasnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More