Rabu 27 November 2019, 01:05 WIB

Kim Ji-Young: Born 1982, Sebuah Refleksi Universal

Fathia Nurul Haq | Weekend
Kim Ji-Young: Born 1982, Sebuah Refleksi Universal

Dok. Lotteworkculture
Salah satu adegan dalam fim Kim Ji-Young: Born 1982 (2019).

Menonton film Kim Ji-Young: Born 1982 yang kini tengah beredar di jaringan bioskop dalam negeri akan menjadi pengalaman batin tersendiri bagi banyak perempuan Indonesia, bahkan termasuk mereka yang lahir satu dekade setelahnya. Perempuan-perempuan yang berada pada rentang usia kisaran 20 tahun-30 tahunan, dengan lika-liku perjuangan untuk membuktikan diri sembari berbakti kepada ekspektasi masyarakat di sekitar mereka.

Film Korea yang diangkat dari novel berjudul ‘82 yeonsaeng Kim Ji Young’ karya Jo Nam Joo ini menceritakan pengalaman hidup penulisnya yang lahir dalam budaya patriarkat yang kental lewat tokoh fiktim bernama Kim Ji-Young. Film dibuka dengan adegan Ji-Young (Jung Yu-Mi) dalam kesehariannya sebagai ibu rumah tanga. Ia memasak, memandikan anak perempuannya yang lucu, menenangkannya saat
menangis, juga mengurus berbagai keperluan rumah lainnya.

Sementara itu, suaminya, Dae Hyon (Gong Yoo) ditampilkan sebagai sosok yang bertanggung jawab dan cinta keluarga. Ia pulang lebih cepat demi
membantu Ji-Young memandikan putri mereka. Ia pun selalu berpamitan dan menunjukkan afeksi pada istrinya sebelum dan sepulang kerja.

Sekilas, Ji-Young tampak memiliki support system sempurna, dengan suami yang tampan dan sayang keluarga, anak yang lucu dan sehat, keluarga besar yang akrab, dan materi berkecukupan. Namun, kondisi tersebut tidak menjadikannya, atau perempuan manapun, kebal dari depresi postpartum --masalah mental yang kerap dialami perempuan yang baru melahirkan.

Ji-Young didera depresi postpartum yang cukup berat hingga membuatnya kerap relaps, menjadikannya terlihat dan terdengar seperti orang yang kerasukan arwah neneknya.

Film yang disutradarai Kim Do-Young ini kemudian mengupas kehidupan Ji-Young dengan alur nonlinier. Penonton akan dibawa ke masa lalu dan kembali ke masa kini untuk mengetahui akar persoalan dari puncak gunung es yang muncul setelah Ji-Young melahirkan dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Mulai dari trauma pengasuhan yang ia dapatkan dari keluarganya, perang batin dalam dirinya yang masih ingin berkarier, hingga tuntutan mertuanya agar Ji-Young menjadi sosok istri sempurna versi pakem patriarki.

Sederet faktor pemicu yang telah dan masih terjadi membuat kondisinya memburuk. Sayangnya, sebagaimana di Indonesia hari ini, meminta bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater masih serupa tabu. Ji-Young dan suaminya bergelut cukup lama dalam kondisi depresi serius sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mencari pertolongan medis.

Dalam mengalihwahanakan novel yang pertama diterbitkan pada 2016 itu, Kim Do-Young terlihat blak-blakan, literal. Tidak ada permainan simbol dalam film feature pertamanya tersebut. Seperti dilansir Korea Herald, ibu dua anak itu mengatakan dirinya lebih fokus untuk dapat 'memintal' episode-episode terpisah yang ada di novel, menjadi satu narasi utuh dalam film.

"Ini harus menjadi sebuah kisah yang dapat membuat penonton berempati dengan Kim, dan melihat melalui mata Kim," kata dia.

Di Korea, sebagaimana novelnya dahulu, film Kim Ji-Young: Born 1982 ini kembali memantik kontroversi. Tidak sedikit orang yang menganggapnya berlebihan dalam memotret masalah kesenjangan gender --walau bukan rahasia bahwa, sebagai contoh, pendapatan perempuan pekerja Korea Selatan hanya sekitar 63% dari pendapatan laki-laki. Menjadikannya sebagai salah satu negara industri maju dengan kesenjangan pendapatan terbesar antargender.

BACA JUGA:Abracadabra, Ilusi Pembuka yang Memukau

Refleksi
Menonton film berdurasi 1 jam 58 menit tersebut membuat saya tercenung lama, untuk kemudian mengunggah apa yang mengendap di benak saya ke media sosial. Banyak yang lantas merespons tak terduga. Seorang kawan bercerita tentang pengalamannya saat mengalami depresi postpartum, sementara kawan lainnya menceritan tekanan yang sedang ia rasakan lantaran tak kunjung punya anak.

“Kim Ji-Young 100% can relate ibu ibu lyfe. Betapa sulitnya jadi perempuan dalam masyarakat patriarki yang selalu lupa bahwa sebelum menjadi ibu/istri, perempuan juga manusia biasa yang punya pendapat, mimpi dan keinginannya sendiri,” komentar Vita, salah seorang teman saya.

Ekspektasi masyarakat yang menganggap ketika seorang perempuan melahirkan, otomatis ia telah 'fasih' menjadi ibu tidak jarang kemudian menjadi beban mental. Itu pun bukan tidak mungkin menjadi pemantik sindrom baby blues, atau depresi postpartum.

“Aku juga pernah di posisi merasa bersalah dan drop terpojokan banget karena masalah ASI. Baru ngelahirin, sakit, engga ada yang perhatiin karena semua fokus ke bayi dan nyalahin aku karena belum bisa kasih ASI, di-judge ngga subur, dibanding-bandingin sama yang lain, disalah-salahin. Sementara posisi kita harus kasih ASI tapi stress dan capek juga, pingin nangis ini ceritanya,” cerita Vita, seorang aktivis sosial, yang baru saja melahirkan anak pertamanya.

Bukan hanya pada perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga setelah menikah/melahirkan, beberapa teman  yang tetap aktif bekerja pun menceritakan pengalamannya dalam lingkup yang luas.

“Gue ngalamin ini nih, perut lagi sakit-sakitnya karena bekas sesar tetiba orang yang gua tapin jadi pengasuh bilang ngga bisa. Kalut gua, tiap malam ngga bisa tidur,” cerita salah satu teman, Kurnia, yang berprofesi sebagai jurnalis Ibu Kota.

Ia mengaku merasa bersalah bila ingat betapa kesalnya ia saat itu terhadap sang anak karena khawatir tidak bisa kembali berkarier setelah cuti persalinannya selesai. “Egois gua emang, gua malah nganggep dia jadi penghambat. Pas sadar langsung nangis peluk anak
ngga berdosa itu,” lanjutnya.

Salah seorang kerabat saya pun bercerita bahwa dirinya memutuskan untuk mengajari anaknya minum ASI perah, sebagai langkah preventif jika tetiba ia terserang depresi postpartum. “Jadi anakku bisa cepet-cepet dipegang orang lain sampai aku tenang, dan kalau dia butuh ASI, bisa pakai botol,” kisah Kiki yang tetap aktif mendampingi
berbagai kasus hukum sembari mengasuh anaknya seorang diri.

Berbeda dengan sindrom baby blues yang umumnya berlangsung beberapa minggu saja, depresi postpartum berlangsung lebih lama dengan penyebab yang lebih kompleks. Minimnya penelitian di Indonesia ditambah dengan tabu yang masih membayangi membuat depresi postpartum sulit terdeteksi dan atau terlambat tertangani sehingga terlanjur berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Menyimak Kim Ji-Young dapat menjadi refleksi bahwa kita tidak pernah sendiri. Seperti Kim, pada akhirnya kita juga dapat memberanikan diri untuk memenuhi hak kita berbahagia. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More