Selasa 26 November 2019, 12:45 WIB

Paus Tinggalkan Jepang Setelah Tebarkan Pesan Damai Antinuklir

Melalusa Susthira K | Internasional
Paus Tinggalkan Jepang Setelah Tebarkan Pesan Damai Antinuklir

AFP/Kazuhiro NOGI
Paus Fransiskus bersiap meninggalkan Jepang di Bandara Tokyo

 

PAUS Fransiskus meninggalkan Jepang setelah kunjungannya selama empat hari, hari ini, Selasa (26/11).

Selama kunjungannya di 'Negeri Sakura' tersebut, ia membawa pesan damai seputar kekuatan atom dan senjata nuklir sekaligus menghibur para korban selamat dari bencana tersebut.

Perjalanan Paus di Jepang sangat emosional manakala ia mengunjungi Hiroshima dan Nagasaki, dua kota yang hancur akibat bom atom Amerika Serikat (AS) pada 1945 lalu dan menewaskan ratusan ribu korban jiwa.

Ia membacakan doa di tengah hujan deras di monumen peringatan bagi para korban bom atom.

Paus juga berjumpa dengan beberapa kelompok yang selamat dan mendengarkan kesaksian mereka saat tragedi tersebut menimpa. Banyak di antara para penyintas menangis saat bertemu Paus, tatkala mereka kembali mengingat tragedi bom atom yang sangat mengerikan tersebut.

Baca juga: Paus Soroti Bencana Fukushima

Pada kesempatan itu, Paus Fransiskus pun melontarkan kecaman keras terhadap penggunaan dan kepemilikan senjata nuklir. Ia menyebut hal itu sebagai kejahatan dan menggambarkan industri senjata sebagai penghinaan hebat kepada surga.

"Di sini, dalam ledakan kilat dan api yang berpijar, begitu banyak laki-laki dan perempuan, begitu banyak mimpi dan harapan, menghilang, hanya meninggalkan bayangan dan keheningan," ujar Paus di monumen peringatan di di Hiroshima.

"Dalam waktu singkat, semuanya dilahap lubang hitam kehancuran dan kematian," sambungnya.

Paus yang lahir di Argentina itu kemudian membawa pesan antinuklirnya ketika bertemu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

Ia mendesaknya dan para pemimpin dunia lainnya mempromosikan segala cara pencegahan, guna memastikan tragedi kemanusiaan seperti itu tidak pernah terulang lagi.

Selain itu, Paus Fransiskus juga bertemu korban selamat dari tiga bencana serentak yang melanda Jepang, yakni gempa, tsunami, dan kebocoran reaktor nuklir Fukushima.

Bencana yang melanda pada 2011 lalu tersebut menyebabkan sekitar 18.500 orang tewas atau hilang.

Pada kesempatan itu, ia menyerukan diakhirinya penggunaan tenaga nuklir. Ia juga mencatat para uskup Jepang telah mengajukan permohonan untuk penghapusan pembangkit listrik tenaga atom, menyusul kehancuran Fukushima yang menyebabkan petak lebar di timur laut Jepang kosong tidak dapat dihuni.

Tidak hanya itu, Paus Fransiskus menekankan bahwa aliran bantuan kepada para korban Fukushima perlu dipertahankan dengan sekitar 50 ribu orang kini masih tinggal di tempat tinggal sementara setelah delapan tahun bencana menimpa.

Tidak hanya mengunjungi lokasi bencana Jepang, Paus juga berpidato kepada orang-orang muda di Tokyo. Dengan suasana riang paus berpidato tanpa persiapan dan bercanda dengan kerumunan massa.

Pada satu titik saat memberikan pidato panjangnya, ia bertanya kepada para hadirin apakah mereka bosan dan bertanya apakah sebaiknya ia melanjutkan pidatonya.

Pada momen tersebut, Paus mengenakan baju kimono Jepang yang berwarna-warni yang ditimpa di atas jubah putihnya, dan mengacungan jempol dengan ceria.

Paus Fransiskus yang telah lama mendambakan perjalanan ke Jepang sejak masih menjadi misionaris muda, menggunakan dengan baik kesempatan tersebut.

Ia mengangkat banyak masalah yang lazim di zaman modern Jepang, termasuk pelecehan, kesepian, dan ketergantungan yang berlebih pada teknologi.

Meskipun umat Katolik di Jepang hanya 440 ribu jiwa, namun Paus mendapat sambutan bak bintang di stadion bisbol Tokyo Dome pada Senin (25/11). Ia menyapa banyak warga Jepang yang hadir, memberikan ciumannya kepada bayi, dan menggelar misa bersama.

Sebelum perjalanannya ke Jepang, Paus Fransiskus telah lebih dulu berkunjung ke Thailand selama tiga malam sejak Rabu (20/11).

Dalam kunjungannya ke negara bermayoritas umat Budha tersebut, Paus Fransiskus membawa pesan toleransi agama dan kedamaian. Ia juga memperingatkan kaum muda akan bahaya perangkap teknologi dalam zaman modern yang dapat membuat merasa kosong, lelah, terasing, dan kecewa. (AFP/OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More