Selasa 26 November 2019, 12:22 WIB

Intel Dukung Digitalisasi Sekolah

Siswantini Suryandari | Teknologi
Intel Dukung Digitalisasi Sekolah

MI/Siswantini Suryandari
Sumner P Lemon, Region Director Digital Transformation and Enterprise Sales Asia Pasific & Japan Territory, Intel Technology Asia Pte Ltd.

PEMERINTAH melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program digitalisasi sekolah untuk menyongsong revolusi industri 4.0. Peluncuran program ini dilakukan Mendikbud di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau pada 18 September 2019. Secara simbolis pemerintah memberikan sarana pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi kepada sekolah, seperti komputer, laptop, LCD, router, dan eksternal hard disk. Serta komputer tablet untuk siswa.

Digitalisasi Sekolah merupakan implementasi dari new learning, yang disiapkan untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Karakteristik new learning tersebut adalah student centered, multimedia, collaborative work, information exchange, dan critical thinking and informed decision making. Total anggaran untuk pembelian sarana pembelajaran TIK dan komputer tablet sebesar Rp3.176.000.000.

Sumner P Lemon, selaku Region Director Digital Transformation and Enterprise Sales Asia Pasific & Japan Territory, Intel Technology Asia Pte Ltd menjelaskan, bahwa sudah lebih dari 15 tahun perusahaannya berivestasi lebih dari US$1 miliar dan melatih lebih dari 15 juta guru.

Sumner mengatakan bahwa teknologi dan inovasi untuk menyongsong industri 4.0 saat ini dididorong oleh komputerisasi, robot dan Internet of Things.

Inteligensi Buatan (AI) dan pembelajaran mesin muncul sebagai teknologi bernilai tambah bagi industri. AI membantu perusahaan mendapatkan wawasan baru dari data yang dapat dikumpulkan dari semua mesin dan sensor. .

"Ini mengharuskan pekerja di masa depan untuk memahami ilmu data dan ilmu komputer yang memungkinkannya. Virtual Reality dan Mixed and Augmented Reality membantu perusahaan memahami proses mereka dengan lebih baik," kata Sumner dalam keterangannya, Senin (25/11/2019).

Berdasarkan analisa McKinsey diperkirakan 50% dari pekerjaan dapat digantikan otomatis dengan teknologi saat ini. Dan mampu menyumbang US$15 triliun dalam bentuk upah. Laporan dari Forbes menyimpulkan bahwa pada 2030, sekitar 38% pekerjaan di AS, 35% di Jerman dan 21% di Jepang akan dilakukan dengan teknologi. Lebih dari 85% interaksi pelanggan akan dikelola tanpa manusia pada tahun 2020

Dengan prediksi seperti itu, lanjut Sumner maka siswa harus lebih banyak mempelajari ketrampilan berorientai teknologi baru.

Untuk menyongsong dan mendukung program digitalisasi sekolah ini, pada 2017 Intel telah membantu pemerintah Indonesia mempersiapkan the next generation of innovators.

"Intel mendirikan Innovation Hub di Yogyakarta, Makassar dan Semarang dengan beberapa unit mobile yang menjangkau lebih dari 10 ribu generasi muda," ujar Sumner, yang juga menjadi pembicara dalam Indonesia Economic Forum 2019 yang baru saja berlangsung di Jakarta.

Program ini untuk memperkenalkan komputasi dan keterampilan menciptakan teknologi. Dengan mendapatkan akses ke peralatan komputasi fisik seperti papan mikrokontroler open source, sensor, printer 3D dan lainnya.

"Generasi muda didorong untuk membuat prototipe teknologi untuk mengatasi tantangan komunitas di sekitar mereka," tambahnya.

baca juga: Sukses Harbolnas, PUBG Donasikan Rp100 juta ke Chesire Indonesia

Intel juga bekerja sama dengan pemerintah dalam revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan' (SMK) dengan memperkenalkan teknologi-teknologi baru di sektor elektronik. Para siswa yang belajar di SMK biasanya berasal dari generasi muda yang bercita-cita segera bekerja setelah lulus dari sekolah kejuruan tersebut. Program ini mendapat dukungan dari Kemendikbud, Bekraf, pemprov, USAID dan GIZ. Termasuk melatih lebih dari 100 ribu guru. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More