Selasa 26 November 2019, 09:21 WIB

Anies Sebut Revitalisasi TIM untuk Skala Internasional

Insi Nantika Jelita | Megapolitan
Anies Sebut Revitalisasi TIM untuk Skala Internasional

ANTARA/Muhammad Adimaja
Pekerja menyelesaikan pembangunan revitalisasi kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta.

 

GUBERNUR DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM), khususnya pembangunan hotel bintang 5, digunakan bukan hanya untuk seniman nasional tapi tamu-tamu dari internasional.

"Yang hadir di sana bukan saja dari Jakarta tapi juga berbagai wilayah di Indonesia, termasuk berbagai tamu dunia. Kami ingin TIM bukan sekadar untuk di Jakarta saja tapi menjadi salah satu pusat kebudayaan di Asia bahkan dunia," kata Anies di Jakarta, Senin (26/11).

Lebih lanjut, Anies mengatakan pengerjaan revitalisasi sudah hampir setahun lalu. Ia lalu menyamakan pembangunan hotel di TIM tersebut seperti wisma atlet.

"Praktiknya, selama ini, kalau kita punya acara, mereka tinggal di hotel luar. Dengan adanya wisma, sama seperti wisma atlet kalau di Senayan," kata Anies.

Baca juga: Anies Bantah Bangun Hotel di TIM

Hotel juga ditujukan bukan untuk komersialitas. Anies menuturkan, hotel tersebut hanya akan menampung seniman dari luar agar bisa tinggal dalam satu ekosistem kegiatan kebudayaan.

"Jadi bukan dibayangkan seperti tempat komersial untuk di luar. Ketika seniman dan budayawan dari berbagai tempat di dunia datang, mereka pun dapat tinggal di dalam wisma, tinggal di dalam komplek tim. Sehingga tidak perlu berada di luar," jelas Anies.

Proses revitalisasi TIM memakan biaya hingga Rp1,8 triliun. Revitalisasi tersebut akan menggunakan penyertaan modal daerah (PMD) Jakpro yang telah masuk dalam APBD DKI Jakarta.

Sebelumnya, Pegiat Seni Imam Ma'arif mengungkapkan para seniman menolak keras pembangunan hotel bintang 5 di TIM tersebut.

"Apa seniman itu membutuhkan hotel bintang lima atau tidak? Kan seniman tidak membutuhkan itu," ucap Imam. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More