Selasa 26 November 2019, 09:30 WIB

Ini Cara Tersangka Bobol ATM Bank Mandiri

Ferdian Ananda Majni | Megapolitan
Ini Cara Tersangka Bobol ATM Bank Mandiri

Medcom.id/ Mohammad Rizal
Ilustrasi pembobolan ATM

 

DIREKTUR Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Iwan Kurniawan mengatakan polisi telah menetapkan sebanyak 41 tersangka terkait pembobolan ATM Bank DKI yang melibatkan sejumlah petugas Satpol PP.

"Iya 41 ditetapkan sebagai tersangka kemudian 13 orang sudah kita lakukan pemeriksaan ya, jelas," kata Iwan di kawasan Slipi, Jakarta Barat, Senin (25/11).

Iwan menjelaskan, penyidik telah memeriksa 13 orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka atas tuduhan melakukan pencurian uang di ATM.

"Sementara kami menetapkan tersangka karena orang-orang yang mengambil (curi) uang dengan ATM mereka," sebutnya.

Dia menambahkan, terdapat beberapa anggota Satpol PP yang turut ditetapkan sebagai tersangka. Namun, Iwan tidak menyebut total anggota Satpol PP yang berstatus tersangka sejauh ini.

"Ya di antaranya ada Satpol PP," terangnya.

Baca juga: Reskrim Sapu Preman Ibu Kota

Dari para tersangka itu, Kata Iwan, salah seorang berinisial I diketahui menjadi otak karena merupakan orang pertama yang mengetahui adanya celah sehingga menjadi modus operandi pembobolan ATM Bank DKI tersebut.

"Jadi tersangka (berinisial I) pada saat mencoba mengambil uang ternyata, setelah mengambil uang, saldonya itu ngak berkurang. Karena tau ngak berkurang, dia mencoba lagi," lanjutnya.

Selanjutnya, tersangka I merencanakan pengambilan uang dengan jumlah lebih besar. Dia menyuruh empat orang lainnya membuka rekening dan ATM untuk melakukan aksi serupa.

"Dia meminta kepada temannya membuat buku tabungan dan ATM. Itu kurang lebih ada 4 orang. Orang-orang tersebut dia beri uang (upah) sekitar Rp5 juta dan ATM mereka dikuasainya untuk mengambil uang," paparnya.

Ditanya apakah tersangka berinisial I merupakan anggota Satpol PP. Iwan tidak menjelaskan detail indentitas dan peran masing-masing tersangka. Sebab, polisi masih terus menyelidiki dan memeriksa para tersangka tersebut.

Anggota Satpol PP Jakarta Barat diduga melakukan penarikan uang di ATM Bank DKI secara bertahap hingga mencapai miliaran rupian. Namun, saldo di rekening Satpol PP itu tidak berkurang meski penarikan terus dilakukan.

Sebelumnya, sebanyak 12 anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI melakukan pembobolan Bank DKI senilai Rp50 miliar dan kini tengah diperiksa di Polda Metro Jaya. Aksi tersebut dilakukan sejak Mei lalu.

Kepala Satpol (Kasatpol) PP DKI, Arifin, mempertanyakan sistem perbankan Bank DKI yang merupakan BUMD milik Pemprov DKI tersebut.

Arifin menjelaskan, dari laporan yang dia terima, 12 anggotanya itu mengambil uang di ATM Bersama dengan rekening mereka di Bank DKI.

Namun, saat mereka sudah mengambil uang, ternyata saldo tidak berkurang. Mereka pun mencoba lagi mengambil uang untuk kedua kalinya. Dan saldo tetap tidak berkurang.

“Melihat saldonya tidak berkurang, padahal sudah diambil uangnya, kan jadi ada semacam penasaran. Makanya dicoba lagi. Nah yang jadi pertanyaannya kok bisa begitu. Itu juga perlu dipertanyakan ke pihak sana (Bank DKI) dong,” kata Arifin, di Balai Kota DKI Jakarta.

Arifin menegaskan sekali lagi, tidak ada pencucian uang, korupsi atau pembobolan Bank DKI yang dilakukan anggotanya. Yang terjadi hanyalah mereka mengambil uang di rekening Bank DKI melalui ATM Bersama. Namun saldo tidak berkurang meski uang sudah diambil.

Berdasarkan pengakuan anggotanya, kasus seperti ini sudah lama terjadi. Ada yang bilang sejak Mei atau Agustus. Yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa sistem Bank DKI bisa seperti itu dengan kasus yang terus berulang.

“Sekali lagi saya luruskan tidak ada itu pencucian uang dan korupsi ya. Tetapi mereka ambil uang tapi saldo tidak berkurang. Dan ini menurut pengakuan mereka sudah lama. Bukan dalam sekali ambil sebesar itu, tidak. Ada yang bilang sejak Mei, lanjut sampai Agustus. Kenapa pihak yang sana (Bank DKI) juga baru hebohnya sekarang. Itu juga jadi pertanyaan saya, sistem mereka seperti apa,” ungkap Arifin.

Namun, supaya kasus ini tidak terulang kembali, Arifin mengimbau jajarannya agar menghindari cara-cara yang tidak halal. Jika menemukan kesalahan sistem dalam rekening mereka, maka harus segera dilaporkan kepada pihak yang berwenang

“Ya saya katakan pada jajaran saya untuk mensyukuri berapapun penghasilan yang didapat, berapa pun itulah yang menjadi hak kita. Hindari cara-cara yang tidak baik, tidak halal. Kalau ada kerusakan harusnya melaporkan. Iya, harus seperti itu,” jelas Arifin. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More