Selasa 26 November 2019, 07:10 WIB

Bebaskan Guru Berinovasi

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Bebaskan Guru Berinovasi

MI/Susanto
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

 

PEMERINTAH menyadari para guru di Tanah Air menghadapi bermacam peraturan atau kebijakan, beban administrasi, dan kurikulum yang mempersulit mereka untuk berinovasi. Oleh karena itu, pemerintah akan memangkas rupa-rupa regulasi untuk memberikan ruang gerak bagi guru agar mereka terpacu melakukan inovasi.

"Saya sadar nggak bisa hanya meminta atau mengajak guru melakukan ini (perubahan). Besar sekali pekerjaan rumah Kemendikbud dan dinas pendidikan untuk memberi ruang inovasi kepada guru," kata Mendikbud Nadiem Makarim seusai peringatan Hari Guru Nasional di Jakarta, kemarin.

Nadiem melanjutkan, salah satu upayanya ialah mengubah kebijakan yang tidak memberikan cukup ruang kepada guru dan murid untuk berinovasi.

"Ada bermacam-macam. Tim kami sedang menyisir detailnya satu per satu peraturan yang bisa disederhanakan," ujar Mendikbud.

Akan tetapi, Mendikbud juga meminta guru menjadi pengge-rak yang berinisiatif melakukan perubahan kecil dan mengambil tindakan tanpa diperintah untuk melakukan yang terbaik bagi murid. "Banyak orang mengira reformasi pendidikan dilakukan pemerintah, berdasarkan kurikulum dan anggaran. Itu dampaknya sangat kecil jika dibandingkan dengan gerakan di setiap sekolah. Guru penggerak berbeda dari yang lain," lanjut Nadiem.

Menurut Nadiem, guru merdeka dan guru penggerak merupakan dua poin penting pada peringatan Hari Guru Nasional tahun ini. Makna guru merdeka ialah guru dan murid punya kebebasan berinovasi dan melakukan kegiatan mandiri dan kreatif.

Sumber: Ant/NRC.

 

Kemerdekaan

Komisioner Komisi Perlin-dungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Lis-tyarti, merekomendasikan beberapa langkah untuk mewujudkan kemerdekaan belajar.

"Peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan menjadi penting untuk mewujudkan kemerdekaan belajar. Hasil penelitian menunjukkan dalam 25 tahun terakhir tidak ada perubahan cara mengajar para guru di ruang kelas," kata Retno.

Retno menambahkan, apabila guru berkualitas, siswa pun pasti berkualitas. Jika guru dan siswanya berkualitas, sekolahnya berkualitas. Kalau sekolah-sekolah berkualitas di suatu daerah, pendidikan di daerah itu juga pasti berkualitas. "Jadi, intinya perubahan pendidikan harus dimulai dari guru."

Selain pelatihan terhadap guru, KPAI juga menyarankan akses lebih luas bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk masuk SMP dan SMA/SMK. "Rata-rata lama belajar anak-anak masih 8,5 tahun, lebih pendek daripada waktu yang dibutuhkan untuk lulus SMP."

Guru Sint John School Meruya, Jakarta Barat, Ignasius Tulawator, berharap pemerintah sungguh-sungguh memperhatikan beban para pendidik.

"Kami wajib membuat rencana persiapan pengajaran. Ini dirasa membebani. Belum lagi tuntutan administrasi membuat jurnal kelas seperti catatan atau rekaman peristiwa di kelas. Bagaimana guru bisa mengeksplorasi kreativitas kalau tuntutan administrasi seperti ini?" tutur Ignas.

Lukman Hakim, guru SDN Sepanjang Jaya VI, Kota Bekasi, berharap bantuan orangtua murid dalam mendidik siswa. "Pendidikan itu kan juga berasal dari rumah." (Put/Ths/Gan/Ant/X-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More