Selasa 26 November 2019, 06:10 WIB

Tekad Mengajar di tengah Keterbatasan

(Medcom.id/H-3) | Humaniora
Tekad Mengajar di tengah Keterbatasan

Dok. Pribadi
Wanti Sila Sakti, Guru di SDN 34 Borang Kabupaten Sanggau, Kapuas, Kalimantan Barat.

 

Wilda Sila Sakti, mengumpulkan helai akar rumput yang berserakan di depan ruang kelas. Akar rumput itu bukan sampah yang terbawa angin. Wilda, membawanya ke ruang kelas, dan menggunakannya untuk mengajar siswa-siswanya di SDN 34 Borang, Kabupaten Sanggau, Kapuas Kalimantan Barat.

"Saya menggunakan ruas akar rumput untuk menghitung pembanding pecahan," terang Wilda ketika ditemui di Sanggau, Minggu (24/11). Ia kerap mengajak muridnya ke hutan di sekitar sekolah untuk mengajarkan materi makhluk hidup.

"Misalnya pakis dan anggrek, saya ajak anak-anak melihat pertumbuhannya. Saya bawa artikel dari rumah untuk perbandingan keadaan di hutan dan di kota. Beberapa artikel ciri khusus pertumbuhan profil, cerita tanaman anggrek diburu, di sini masih terjaga dan melestarikan," tuturnya.

Wilda berinisiatif mengajar dengan cara yang tak biasa karena keterbatasan sarana. Tidak ada listrik, apalagi internet. Mulanya, ia tidak bisa berbuat banyak, terpaku mengajar dengan cara konvensional, berpedoman pada buku.

Setelah mengikuti program Guru Belajar pada 2016, ia tergerak untuk membuat perubahan metode pengajaran. "Kegiatan pembelajaran tidak melulu perlu bantuan teknologi, bisa dengan memanfaatkan alam," ujar Wilda.

Ia menambahkan, kesuksesan belajar tidak tergantung pada kelengkapan fasilitas belajar maupun media pembelajaran yang canggih. Memiliki tekad dan semangat untuk menyelesaikan masalah yang ada mengajar baginya jauh lebih penting. Hal tersebut, imbuh Wanti, akan membuat anak-anak suka sekolah dan bahkan rindu bersekolah.

Wanti tak hanya berkata-kata. Tekadnya untuk mengajar mengalahkan tantangan yang ia hadapi. Tiap lepas subuh, ia sudah berangkat menuju tempat ia ditugaskan di SDN 34 Borang, 40 kilometer dari tempat ia tinggal. Untuk sampai ke sekolah, Wanti harus naik motor, kemudian lanjut dengan sampan untuk menyeberangi Sungai Sekayam. Jika cuaca cerah, tak jadi masalah. Namun jika hujan, ia cukup kerepotan. "Naik motor paling susah ketika hujan," tutur Wanti. Tak jarang, ia menginap di rumah warga setelah memberi pelajaran tambahan agar tak kemalaman. "Sempat sempat menumpang di Pondok Bersalin Desa (Polindes)," ujarnya.

Menurut Wanti, kehadiran guru di daerah terpencil sangat diharapkan. "Jadi ada hal yang membuat kita rindu kembali karena anak-anak membutuhkan kita," tuturnya. (Medcom.id/H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More