Selasa 26 November 2019, 04:20 WIB

Pendidikan Generasi Z dan Alfa

Budy Sugandi Kandidat PhD jurusan Education Leadership and Management, Southwest University China; CEO Klikcoaching dan Deputi Inovasi PPI Tiongkok | Opini
Pendidikan Generasi Z dan Alfa

MI/Seno
Opini

"KALAU Indonesia ingin maju seperti visi presiden untuk menjadi SDM yang unggul, kita tidak mungkin bisa melakukannya hanya dengan mengikuti jalur yang sama seperti negara-negara lain. Kita harus melakukannya dengan cara short-cut, yaitu melalui digitalisasi, melalui pendidikan teknologi," Pesan Mendikbud Nadiem Makarim dalam acara Google for Indonesia di Jakarta, Rabu (20/11).

Perkembangan teknologi saat ini menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari, termasuk dalam penerapannya di dunia pendidikan. Seperti kita ketahui bahwa internet merupakan jendela dunia. Hampir semua pertanyaan bisa dijawab melalui sentuhan-sentuhan ujung jari di layar gawai yang terhubung ke internet. Itulah sebabnya sekolah seyogianya tidak hanya mendidik siswa untuk menghafal. Namun, adaptif terhadap kemajuan teknologi dan berpikir kritis.

Di samping itu, teknologi bisa membawa siswa pada kemalasan, bahkan degradasi moral. Kecanduan bermedia sosial untuk sekadar menghabiskan waktu dengan berselancar di Youtube, Facebook, Instagram dan Twitter. Adanya laporan terkait semakin maraknya anak yang harus terapi akibat kecanduan gawai menjadi peringatan keras kepada orangtua dan guru agar lebih awas terhadap anak-anak. Belum lagi hal-hal negatif seperti kecanduan video dewasa yang semakin memperburuk wajah pendidikan kita.

 

Sekolah laboratorium pendidikan

Sekolah sebagai tempat strategis tumbuh kembang anak dalam pedidikan perlu menjadi perhatian utama pemerintah. Sekolah tidak boleh dijadikan sekadar 'tempat penitipan anak' dari pagi sampai siang, bahkan sore. Lebih dari itu, sekolah haruslah menjadi laboratorium pendidikan untuk menciptakan pemimpin-pemimpin masa depan.

Ke mana arah bangsa ini melangkah. Apakah akan melesat menjadi negara maju atau diam di tempat bahkan menjadi terpuruk, sangat ditentukan oleh mereka yang saat ini sedang belajar di bangku sekolah. Sekolah mau tidak mau harus menjadi jembatan emas dalam meraih cita-cita kemerdekaan, yaitu menjadi negara adil, makmur, dan sejahtera.

Kita bisa berbangga hati ketika melihat membeludaknya sekolah-sekolah swasta, terutama di perkotaan yang memiliki kualitas tinggi dan tentu saja biayanya juga 'tinggi'. Kita juga memiliki sekolah-sekolah negeri yang memiliki segudang prestasi dengan bantuan dari pemerintah. Mulai menjuarai olimpiade cerdas cermat, lomba olahraga, dan lain sebagainya dari level nasional hingga internasional. Selain itu, termasuk juga para alumnusnya yang berhasil menembus kuliah di kampus-kampus top di luar negeri. Namun, jumlah sekolah yang berkualitas tersebut tidak seberapa ketimbang jumlah sekolah yang masih tertinggal.

Pada 2016 saya berkesempatan mengunjungi sekolah-sekolah di Aceh, Tarakan, Toraja, Belu NTT, dan Merauke. Saya merasakan betul betapa besar sekali jarak pemisah antara kualitas sekolah di perdesaan dan perkotaan. Jangankan berharap siswa mahir memanfaatkan teknologi, mengoperasikan komputer pun mereka masih kewalahan, bahkan beberapa sekolah tidak memiliki komputer. Sarana dan prasarana sekolah masih banyak yang termarginalkan. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi Mendikbud Nadiem Makarim untuk melakukan perombakan.

 

Pendidikan era 4.0

Mendikbud Nadiem merupakan menteri termuda (35 tahun) di Kabinet Indonesia Maju 2019-2024 Presiden Joko Widodo-Wapres Ma'ruf Amin. Ia merupakan sosok menteri milenial yang dianggap paling dekat dengan era revolusi industri 4.0. Gojek merupakan bukti konkret dalam upaya membantu permasalahan kemacetan dan tingginya pengangguran di Indonesia meskipun banyak juga yang mempertanyakan kompetensinya dalam dunia pendidikan.

Nadiem merupakan lulusan program sarjana Hubungan Internasional di Brown University, Amerika Serikat (AS), dan Master of Business Administration (MBA) di Harvard Business School, AS. Gojek sendiri merupakan perusahaan bisnis yang dianggap berbeda jauh dengan dunia pendidikan. Namun, ada persinggungan antara pendidikan dan pengalaman bisnisnya, yaitu; inovasi, tuntutan zaman, dan pemanfaatan teknologi.

Tiga hal pokok inilah yang mungkin menjadi pertimbangan Presiden Jokowi untuk memberikan kepercayaan kepada Nadiem untuk menakhodai pendidikan dari level dasar hingga perguruan tinggi agar segera mentransformasi pendidikan konvensional ke pendidikan era 4.0 yang berbasis digital. Karena itu, teknologi mampu mendongkrak kualitas pendidikan di Indonesia secara eksponensial, bukan secara linear.

Di kelas, guru tidak hanya mengejar untuk menyelesaikan pelajaran, tetapi lebih dari itu, harus mampu membuat siswa tertarik untuk memahami, menghidupkan daya imajinasi hingga berpikir kritis. Tidak sedikit siswa yang membenci pelajaran tertentu. Hal ini bukan karena ketidakmampuan siswa, melainkan faktor guru pengajarnya. Metode dalam menyampaikan materi dan penggunaan teknologi oleh guru ini harus terus diasah dan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.

 

Generasi z dan generasi alfa

Siswa pada level PAUD hingga SLTA ialah mereka yang masuk pada kategori generasi Z (kelahiran tahun 1996-2010) dan generasi Alfa (kelahiran tahun 2010-2019). Generasi ini sudah sangat akrab dengan teknologi, terutama gawai.

Kecepatan mereka dalam mengoperasikan teknologi untuk mencari informasi dan melakukan komunikasi secara instan sangat luar biasa. Tanpa perlu diajari, mereka bisa mempelajarinya sendiri. Oleh sebab itu, mereka tidak hanya menjadikan guru dan buku di sekolah sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi gawai yang ada di tangan akan menjadi tempat berselancar sebagai sumber belajar.

Di sini guru punya tantangan tersendiri untuk menghadirkan proses belajar yang kreatif dan atraktif agar siswa tertarik menyimak pelajaran. Jika tidak, yang ada siswa akan merasa bosan dan mengantuk karena karakter siswa pada dua generasi ini mudah bosan. Agar kelas menjadi hidup, guru bisa memancing dengan melempar suatu permasalahan, kemudian memberikan kesempatan siswa untuk berpendapat dan berdebat dengan sesama siswa. Lalu, guru ikut dalam proses pemecahan masalah sehingga siswa akan terbiasa berpikir inovatif, kreatif, dan kritis.

Dorongan agar siswa adaptif dan responsif terhadap kemajuan teknologi mutlak dibutuhkan agar siswa tidak sekadar paham teori, tetapi mampu diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Konten pelajaran di sekolah pun perlu dievaluasi, apakah sudah sesuai dengan kebutuhan atau jangan-jangan sudah kusam sehingga perlu dirombak. Konten pelajaran harus mampu menjawab kebutuhan lokal, nasional, dan global.

Pada akhirnya, perlu diakui bahwa permasalahan pendidikan kita sangat kompleks. Kita tidak bisa berharap pada Mendikbud Nadiem seorang. Sama halnya dengan keberhasilannya sebagai CEO di Gojek yang tidak hanya ditentukan oleh satu orang. Namun, berkat bantuan vice president, programmer, marketing hingga driver Gojek itu sendiri di jalanan. Begitu juga dengan pendidikan, maju tidaknya pendidikan perlu kerja kolaboratif mulai pemerintah, direktur, kadis, kepsek, guru, pengawas, siswa, dan tentu orangtua siswa itu sendiri.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More