Senin 25 November 2019, 21:12 WIB

Ini 7 Fasilitas Seni TIM yang Direvitalisasi

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
Ini 7 Fasilitas Seni TIM yang Direvitalisasi

Antara
Pekerja menyelesaikan pembangunan revitalisasi kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Senin (25/11/2019)

 

REVITALISASI pusat kegiatan seni Taman Ismail Marzuki (TIM) dimulai tahun ini dengan dana Rp1,8 triliun. Total ada sebanyak tujuh  fasilitas utama yang berkaitan dengan seni di dalam TIM yang akan turut direvitalisasi oleh PT Jakarta Propertindo.

Fasilitas tersebut di antaranya adalah Wisma Seni, Galeri Seni, dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin.

Wisma Seni direvitalisasi dengan mengubah bentuknya dari yang awalnya seperti vila menjadi bangunan vertikal. Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Dwi Wahyu Daryoto menjelaskan hal itu dilakukan untuk menambah okupansi ruang menginap bagi para seniman yang berkegiatan di TIM serta meminimalisisasi penggunaan lahan.

Strategi ini sejalan dengan tujuan revitalisasi, yakni menambah ruang terbuka hijau (RTH). Melalui optimalisasi ini, RTH di dalam TIM pun bertambah 27%.

Selain itu ada pula PDS HB Jassin yang akan menyatu dengan Perpustakaan.

"Kondisi eksisting PDS HB Jassin sangat mengkhawatirkan. Kami akan memodernisasi itu sehingga lebih menarik bagi masyarakat serta untuk mengamankan dokumen-dokumen penting yang bersejarah," kata Dwi dalam konferensi pers Jakarta, Senin (25/11).

 

Baca juga: Jakpro Klaim RTH TIM akan Meningkat 27%

 

Bangunan lainnya yang akan direvitalisasi yakni kineforum atau ruang sinematografi. Ruang itu akan sedikit ditambah kapasitasnya menjadi 25 kursi dan dengan teknologi yang lebih modern untuk menjadi sarana para seniman memutar film hasil karyanya.

Juga ada Planetarium yang dalam rencana revitalisasi akan semakin ditonjolkan menjadi ikon TIM.

"Untuk revitalisasi Planetarium sendiri kami berhati-hati karena itu bangunan cagar budaya. Kmi juga berkoodinasi dengan komunitas astronomi baik yang profesional maupun non profesional," jelas Dwi.

Bangunan kelima adalah Graha Bhakti Budaya yang awalnya hanya mampu menampung 800 pengunjung akan ditingkatkan menjadi 1.300 pengunjung dengam fasilitas sound system yang lebih modern. Keenam ada bangunan lama yang sempat hilang kemudian diadakan lagi dalam pembanguna revitalisasi TIM seperti Teater Arena.

"Teater Arena ini bisa dipakai untuk ekspresi para seniman, berdeklamasi. Tempatnya lebih tepat. Saya terus terang sedih kalau sekarang melihat seniman berdeklamasi di tempat parkir. Ini kita buatkan tempat yang lebih proper," tukasnya.

Ketujuh ialah pembangunan Museum Sejarah TIM. Museum ini nantinya akan menampilkan sejarah perjalanan TIM.

Hanya akan ada dua fasilitas yang berbayar yakni Wisma TIM atau yang nantinya menjadi hotel serta Graha Bakti Budaya. Sementara untuk fasilitas lainnya akan digratiskan bagi masyarakat maupun seniman.

Adanya kekhawatiran terkait biaya sewa yang mahal menurut Dwi bisa didiskusikan kemudian.

"Intinya pasti kami mendukung dan soal tarif itu bisa didiskusikan kemudian," imbuhnya.(OL-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More