Senin 25 November 2019, 20:38 WIB

PROFESI 4.0: Menerabas Panel Segiempat Tahilalats

Fathurrozak | Weekend
PROFESI 4.0: Menerabas Panel Segiempat Tahilalats

MI/ BARY FATHAHILAH
Kreator komik Tahilalats Nurfadli Mursyid (kiri) dan Head of Commercial Tahilalats Rahman Azhari saat diwawancara di Jakarta, akhir Oktober.

WAKTU menunjukkan pukul 11.00 WIB saat Media Indonesia sampai di sebuah rumah tingkat dua di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Rumah ini menjadi tempat terciptanya cerita visual super random yang tenar di Instagram dengan nama akun @tahilalats dan tagline Mind Blowon.

Kami sempat melongok ruang kerja mereka di salah satu sudut rumah dengan bangunan yang cukup besar dan luas di lantai dasar. Terdapat beberapa layar komputer dan orang yang tengah terpaku di depan layar.

Media Indonesia berkesempatan berbincang dengan dua pentolan yang kini membentuk perusahaan di bawah bendera PT Nusa Kreasi Kreatif di sebuah sudut ruang dekat dengan kolam renang berbangunan dominan cat putih itu. Nurfadli Mursiding, sebagai pencipta karakter Tahilalats, dan Rahman Azhari atau akrab disapa Ote, menjabat sebagai head of commercial.

Nurfadli mengaku mulai menciptakan cerita-cerita komik stripnya pada 2012 melalui blog. Bersamaan dengan komik, ia juga mengunggah gambar dan tulisan. Hingga setahun setelahnya, ia masih berkreasi 'semau gue'. Baru pada 2014, ia berpikir untuk konsisten menciptakan komik panel di Instagram.

"Awalnya fokus di laman. Namun, susah naikin nama dan perkenalkan karya komik kita ke orang banyak. Medsos yang saya fokuskan pertama kali, ya, Instagram, apalagi tahun itu sedang happening banget. Ternyata benar, akses lebih mudah, orang gampang bagikan, kasih komentar. Jadi, berkat Instagram bisa memperkenalkan apa yang saya buat. Semakin konsisten unggah berpengaruh ke pengikut. Antara saat saya bikin masih moody dengan yang sudah konsisten unggah, perbedaannya jauh," ujar Fadli membuka pembicaraan dengan Media Indonesia, di penghujung Oktober.

Pengikutnya terus bereskalasi, membuat beberapa brand tergiur mengajaknya bekerja sama. Namun, mereka baru menerima kerja sama dengan beberapa brand setelah menjelma menjadi perusahaan. Dua tahun pertama ia menutup jalur komersial, tapi setelah melihat potensi bisnis, Fadli pun mantap mempelajari pola bisnis dari komik-komik buatannya.

"Selama dua tahun pertama saya tidak menerima karena dasarnya saya tidak bisa pusing. Gue masih ingin bikin komik saja, enggak mau iklan-iklanan. Meski sudah banyak yang menawarkan, tetapi saat itu gue cuekin. Soalnya saat itu juga masih sendiri. Ada tim, tapi memang lebih fokus ke kreatifnya. Saya mau ketika sudah benar-benar ada tim khusus yang urus bagian ini, bisnis, dan lain-lainnya. Lalu Ote masuk, mengurusi bisnisnya, merapikan semuanya."

Ote, pernah bekerja di e-commerce, menyebut salah satu kesepakatan yang selalu dipegang teguh ketika menjalin kerja sama bisnis, ialah karakter Tahilalats harus tetap dipertahankan. Jadi, jenama yang mengikut ke semesta Tahilalats.

"Brand harus ikut kita, dari segi konsep enggak terlalu hard post, hard sell, kalau kayak gitu kan sebenarnya jadi enggak bagus. Brand yang mau kerja sama bareng kita memang harus ngerti konsep komik kita. Selain itu, kita juga milih-milih brand. Boleh komersialisasi karya, tapi setidaknya ada sinergi, dari yang kita bikin cerita enggak jauh dari konsep sehingga pembaca komik kita pun masih bisa memaklumi komersialisasi," ujar Ote.

Lisensi

Saat ini, karakter Tahilalats berekspansi ke berbagai lini produk. Mainan, gim papan, fesyen, dan melisensikan karakter mereka dengan berbagai brand. Baik Ote maupun Fadli menyebutkan, saat bekerja sama mereka enggan untuk 'beli putus.'

"Dikembanginnya banyak banget, kita enggak bisa sama medsos terus. Enggak tahu umurnya sampai kapan, jadi kita sudah siapin bisnis baru sampai jangka panjangnya sudah konsepin kenapa milihnya produk mana yang kita produksi. Jadi, sudah ada yang mengajari kami seperti lewat program Katapel. Jadi, tahu next step, tidak main aman dengan hanya bertahan di Instagram," papar Ote.

Fadli pun menyadari, ketika ia sudah memutuskan karyanya masuk ke industri yang berfokus pada bisnis, harus mendisiplinkan diri. Ia pun sadar harus membentuk tim dan perlahan menjalankan bisnis yang dirintisnya. Saat ini, Tahilalats memiliki tim yang terdiri atas delapan orang. Enam berada di kompartemen kreatif dan dua orang yang mengurusi bisnis dan pemasarannya. Meski setiap hari mengunggah komik strip, rupanya konten sudah dibuat sejak jauh hari.

"Sebenarnya, enggak dipikirin atau dibuat setiap hari. Kami sudah punya banyak stok, misal, untuk stok tiga bulan. Sekarang, kami menyetok sampai enam bulan posting-an komik strip, yang kami kerjakan selama dua bulan. Sisa waktunya, kami gunakan untuk mendapatkan yang lain, seperti untuk lisensi kerja sama brand, project event, bikin animasi, buku, desain yang lain, dan kebutuhan klien. Kalau setiap harinya bikin komik strip, yang lain tidak bakal terurus," terang Fadli.

Saat ini, pendapatan Tahilalats yang paling besar berasal dari Instagram dan media sosial lainnya. Pemasukannya bisa mencapai 70%-80% dari total pendapatan. Sementara itu, untuk lisensi produk masih berada di kisaran persentase 40%.

"Kalau melihat perkembangan tahun ini, kita bisa yakin, karena untuk stream lain di luar media sosial baru banget mulai tahun ini ekspansi bisnisnya. Sementara Instagram sudah dari awal, jadi sudah pasti paling besar revenue stream-nya. Selanjutnya, kita bakal fokus pada lisensi. Jadi kalau pun nanti ada yang membuat produk, itu cukup lisensinya dari kita, enggak musti kita yang produksi," ungkap Ote menjelaskan rencana ke depan Tahilalats.

Saat ditanya berapa valuasi revenue yang didapat dari Instagram, Ote dan Fadli awalnya hanya menyebutkan mencapai miliar. Namun, saat didesak lebih spesifik, Ote menjawab, "Insya Allah sampai akhir tahun kejar sampai Rp5 miliar dari Instagram."

Pada 2017, Tahilalats mendapat pemasukan lewat stiker yang digunakan di salah satu aplikasi pesan singkat hingga mencapai Rp4 miliar. Namun, Ote masih tetap berpikir rentang usia aplikasi tersebut sehingga Tahilalats harus tetap berlari untuk bisa berkelanjutan.

"Itulah kenapa ekspansi ke banyak lini. Jadi orang juga nantinya tahu enggak cuma dari komik. Kita tidak bisa memaksakan orang harus suka karakter komiknya. Sekarang lebih ke menanamkan si karakternya, universe-nya akan seperti apa. Tahun depan mungkin bisa terasa."

Ternyata tahun depan Tahilalats memiliki proyek besar. Mereka diproyeksikan masuk ke pasar internasional melalui konten eksklusif berbayar. Fadli mengatakan rencana ini masuk prioritas.

"Kepikirannya konten untuk internasional, orang lebih bisa sedikit menghargai. Sudah jadi plan prioritas untuk tahun depan, kita juga sudah mulai translate komik, kita sediakan website untuk publik internasional. Jadi tahun depan sudah pol target internasional," jelas Fadli. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More