Senin 25 November 2019, 19:20 WIB

Kalsel Resmikan Desa Wisata Waduk Riam Kanan

Denny Susanto | Nusantara
Kalsel Resmikan Desa Wisata Waduk Riam Kanan

MI/Denny S
Sejumlah pengunjung menikmati keindahan alam Desa Tiwingan Lama di sekitar Waduk Riam Kanan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

 

PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Selatan meresmikan Desa Tiwingan Lama dan Desa Belangian yang berada di sekitar Waduk Riam Kanan, Kabupaten Banjar sebagai Desa Wisata. Keberadaan desa wisata diharapkan mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa.

Peresmian dua Desa Wisata ini berlangsung, Senin (25/11) oleh Asisten II bidang pembangunan Pemprov Kalsel, Hanifah, didampingi Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Dahniel Kifli, dan perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kalsel, Siti Nurbaya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kalsel, Zulkifli, mengatakan pihaknya bersama Kementerian Desa terus mendorong agar tiap desa dapat mengembangkan potensi desa masing-masing, salah satunya menjadi desa wisata.

"Desa wisata ini nantinya akan dikelola oleh BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) di mana modal awalnya memanfaatkan dana desa. Kita harapkan desa tersebut akan menjadi desa mandiri dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa," ujarnya.

Tiap desa harus mengembangkan desanya sesuai karakter atau potensi desa masing-masing. Adapun dua desa yang diresmikan sebagai desa wisata adalah Desa Tiwingan Lama dan Desa Belangian. Kedua desa ini  terletak di wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Kabupaten Banjar.

Desa Tiwingan Lama mempunyai keunggulan berupa objek wisata yang dalam beberapa tahun ini cukup terkenal yaitu Matang Keladan. Matang Keladan merupakan objek wisata alam dengan pesona menyerupai Raja Ampat. Dalam beberapa tahun terakhir objek wisata itu menjadi viral dan populer bagi masyarakat Kalsel.

Saat kita berada di puncak bukit Matang Keladan kita akan disajikan dengan pemandangan menakjubkan berupa gugusan pulau-pulau kecil di atas Waduk Riam Kanan. Di sisi lain, kita akan melihat bangunan PLTA Ir PM Noor yang dibangun Pangeran H Muhammad Noor pada 1972 insinyur pertama asal Kalsel yang menjadi Menteri Pekerjaan Umum pada masa itu.

Di bagian lain, deretan perbukitan dan puncak Gunung Kahung berdiri megah. Pemandangan cantik berupa kehidupan masyarakat yang bermukim di pulau-pulau kecil di atas waduk juga menjadi bagian pesona wisata alam Matang Keladan. Tiwingan Lama sendiri masuk 10 besar desa wisata terbaik nasional.


Baca juga: Tahun ini, 19,9 Juta Orang Kunjungi Bali

 

Sedangkan Desa Belangian adalah desa terakhir di bagian hulu waduk Riam Kanan yang menjadi persinggahan bagi wisatawan sebelum tiba di lembah dan puncak Gunung Kahung.

Perjalanan menuju Desa Belangian ditempuh selama dua jam menggunakan perahu motor melintasi waduk Riam Kanan. Desa Belangian terdapat objek wisata berupa air terjun Kahung yang menjadi ikon objek wisata Lembah Kahung ini.

Pada bagian lain, Indeks Desa Membangun (IDM) di Kalimantan Selatan mengalami peningkatan tajam yang ditandai dengan terus menurunnya jumlah desa tertinggal dan bertambahnya desa maju di wilayah tersebut. Penurunan desa tertinggal juga berkolerasi dengan menurunnya angka kemiskinan di Kalsel yang kini menempati posisi ketiga angka kemiskinan terkecil di Indonesia di bawah DKI Jakarta dan Bali.

Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas Masyarakat pada Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Lembaga Kemansyarakatan, Eko Suhermanto, mengatakan, pada 2017, jumlah desa mandiri di Kalsel hanya satu yakni di Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu), bertambah empat buah pada 2019 yakni tersebar di Kabupaten Kotabaru tiga desa dan satu desa di Kabupaten Barito Kuala.

Kemudian, desa maju pada 2017 hanya 16 buah tersebar di lima daerah kabupaten dan  2019 meningkat menjadi 110 desa tersebar pada
10 kabupaten.

Desa berkembang juga mengalami peningkatan dari 2017 sebanyak 409 buah menjadi 1.193 buah pada 2019. Sedangkan jumlah desa tertinggal dan sangat tertinggal di Kalsel mengalami penurunan signifikan. Pada 2017 jumlah desa tertinggal di Kalsel tercatat sebanyak 1.184 buah, maka 2019 turun menjadi 516 buah dan desa tertinggal itu terbanyak di Kabupaten Hulu Sungai Selatan tercatat 121 buah dan Kabupaten Hulu Sungai Utara 87 desa.

Untuk desa sangat tertinggal mengalami penurunan dari 2017 tercatat masih 254 desa menjadi 40 desa pada 2019. (OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More