Senin 25 November 2019, 16:25 WIB

Waspadai Bahaya Krisis Imbas Bubbel Bisnis Start-up

Antara | Ekonomi
Waspadai Bahaya Krisis Imbas Bubbel Bisnis Start-up

Antara/Ist
Direktur Generasi Optimis Research and Consulting (GORC), Frans Meroga Panggabean dan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

 

KABAR mengejutkan datang dari dunia bisnis digital yang selama ini dianggap sebagai lokomotif ekonomi terdepan dalam era industri 4.0.

Perusahaan start-up WeWork dengan bisnis utama berbagi ruang kerja dikabarkan terancam bangkrut dan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 4.000 karyawannya.

Sebagaimana diberitakan oleh New York Times, tidak kurang dari US$ 1,25 miliar adalah kerugian yang diderita WeWork yang telah menyandang predikat Decacorn dengan nilai valuasi lebih dari US$10 miliar.

Bak jatuh tertimpa tangga, penderitaan WeWork pun bertambah dengan terjun bebasnya nilai valuasi perusahaan start-up yang berbasis di New York, AS tersebut, yang semula mencapai US$50 miliar menjadi hanya kurang dari US$5 miliar.

Kejutan belum selesai, Softbank Group raksasa investasi dari Jepang juga sebagai investor utama dari WeWork dan Uber menyatakan bahwa merugi sampai Rp100 triliun akibat anjloknya nilai valuasi Uber dan WeWork.

Selain menderita kerugian mencapai US$5 miliar, Uber sang pionir taksi online berpredikat Hectocorn itupun mengalami terjun bebasnya nilai valuasi menjadi kurang dari US$ 50 Miliar di kuartal II tahun 2019.

"Ada masalah dengan penilaian saya, itu yang harus direnungkan," kata Masayoshi Son, CEO Softbank Group mengutip Bloomberg, Rabu (6/11/2019).

Menanggapi fenomena tersebut, Direktur Generasi Optimis Research and Consulting (GORC), Frans Meroga Panggabean mengatakan bisnis start-up memiliki celah kegagalan cukup besar serta berpotensi menyebabkan bubble ekonomi.

"Dalam pandangan saya, fenomena gelembung spekulatif dalam bisnis start-up ini mulai muncul. Tinggal tunggu gelembungnya meletus," kata Frans membuka pembicaraan, Jakarta, Senin (25/11).

Lulusan MBA dari Grenoble Universite, Prancis itu menambahkan, "Coba kita perhatikan, Forbes pernah merilis angka kegagalan dalam bisnis start-up itu mencapai 90%."

"Masalahnya sekarang start-up punya citra sebagai 'satu-satunya' bisnis yang sedang berkembang dan populer, tanpa melihat potensi kegagalannya yang besar. Saya menduga akan terjadi start-up bussiness bubbles, tapi semoga saya keliru," ujar Frans Meroga lagi.

Dalam riset Generasi Optimis Research & Consulting (GORC) terungkap bahwa gejala latah bisnis digital kali ini hampir sama seperti yang terjadi pada 2000.

Kala itu muncul fenomena yaitu banyak perusahaan internet yang sempat mempunyai nilai triliunan rupaih berakhir gagal tanpa nilai sama sekali. Fenomena ini dikenal dengan internet bubble. Pets.com bangkrut, diikuti dengan Boo.com, Webvan, hingga semua saham perusahaan internet turun 75%.

Para pemodal ventura sangat mudah memberikan pendanaan saat itu. Sebab, mereka berharap bisa segera balik modal begitu perusahaan itu IPO dan mendapat nilai tinggi. Dengan derasnya kucuran uang, startup internet ini berlomba untuk menjadi besar dengan instan.

"Mereka banyak boros untuk promosi, bahkan 90% anggaran dipakai untuk iklan agar bisa segera dikenal. Mereka juga rajin bakar uang menawarkan layanan gratis atau promo diskon dengan harapan bisa segera meraup pasar," ujar Frans.

Bakar uang

Generasi Optimis Research & Consulting berkesimpulan bahwa penilaian valuasi bisnis start-up yang melebihi potensi riil karena bisnis start-up tidak mempunyai modal sosial yang kuat dalam ekosistem bisnisnya. Strategi bakar uang akan terus dilakukan demi tetap eksis dalam persaingan karena pasar hanya loyal terhadap harga dan promo serta diskon..

Dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 33 Tahun 1998 tentang modal penyertaan dalam koperasi pun, apabila bisnis start-up berbentuk koperasi tetap dapat lincah dan tangkas untuk mengakses modal.

Menurut Frans, modal dari para investor akan dapat diakses tanpa harus khawatir akan mendelusi keberadaan para pendiri.

Di sisi lain, badan hukum koperasi juga menjamin tata kelola yang lebih setara antara satu dengan beberapa pendiri lainnya. Pengambilan keputusan didorong melalui mekanisme musyawarah mufakat. Bila harus voting sekalipun, jumlah saham tak akan menjadi pertimbangan.

"Kurang keren bagaimana lagi coba kalau semua bisnis start-up digital berbentuk koperasi. Pertama, dengan tata kelola musyawarah untuk mufakat akan memastikan modal sosial akan lebih solid terbentuk," himbau Frans.

"Kedua, secara regulasi koperasi dimungkinkan untuk mengakses permodalan dengan mekanisme modal penyertaan atau dapat mengakses pembiayaan dengan menerbitkan Surat Utang Koperasi (SUK)," tambah Frans.ndonesia," ajak Frans Meroga.

Frans melihat mendesak pula harus adanya payung hukum guna harmonisasi aturan lintas sektoral antarkementerian. Untuk keberhasilan Gerakan Nasional "Berkoperasi Itu Keren" ini dibutuhkan sedikitnya keterlibatan tiga kementerian yakni  Kementerian Koperasi & UKM, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Desa & PDTT.

"Kami dorong segera dirumuskan Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Pak Teten sebagai Menkop, Pak Tito sebagai Mendagri, serta Pak Halim sebagai Menteri Desa untuk memastikan Gerakan Nasional ini berhasil sesuai dengan harapan," pungkas Frans. (Antara/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More