Senin 25 November 2019, 13:26 WIB

Jokowi Sebut Pemerintah Mulai Menata Soal Riset dan Inovasi

Akmal Fauzi | Humaniora
Jokowi Sebut Pemerintah Mulai Menata Soal Riset dan Inovasi

Dok Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo (tengah) berfoto bersama para ilmuwan asal Indonesia yang berada di Korea Selatan

 

PEMERINTAH tengah fokus menyelesaikan satu per satu pekerjaan besar di Indonesia. Setelah berfokus pada pembangunan infrastruktur selama lima tahun lalu, kini, pemerintah akan berfokus pada pembangunan sumber daya manusia selama lima tahun berikutnya.

Saat bertemu dengan para ilmuwan dan peneliti dari Indonesia yang berada di Korea Selatan (Korsel), Presiden Joko Widodo menjelaskan pemerintah juga mulai menata soal riset dan inovasi. Diharapkan, setelah pembangunan SDM, pemerintah akan mulai berfokus pada pengembangan riset dan inovasi secara besar-besaran.

"Kita tidak ingin pikiran kita itu semuanya kita kerjakan dan enggak ada hasilnya semuanya. Jadi pemerintah sekarang ini ingin bekerjanya fokus, gampang dikontrol, dicek, diawasi, sehingga tidak semuanya. Memang ini kita baru menata untuk riset dan inovasi," kata Jokowi dalam keterangan resmi, Senin (25/11).

Baca juga: Jokowi Ajak Peneliti Muda Indonesia di Korsel Bangun Tanah Air

Selain itu, di ibu kota baru nantinya, Presiden ingin agar dirancang sebuah cluster besar untuk riset dan inovasi, di samping cluster pemerintahan dan cluster pendidikan yang memuat universitas-universitas kelas dunia.

"Saya enggak tahu nanti perisetnya ada berapa puluh ribu, tapi saya ingin gede banget karena memang sudah kita siapkan lahan di ibu kota yang baru dan kita ingin kalau sudah masuk ke sana artinya memang harus dibelokkan. Yang dulu anggarannya banyak ke infrastruktur akan mulai digeser masuk ke riset dan inovasi," jelasnya.

Berkaitan dengan riset dan inovasi, Presiden menjelaskan Indonesia mulai bertransformasi. Dalam bidang energi misalnya, penggunaan B20 yang sebentar lagi menjadi B30 telah berhasil mengurangi impor bahan bakar.

Selain itu, Presiden juga ingin agar Indonesia tidak lagi mengekspor komoditas dalam bentuk bahan mentah.

"Saya kira negara kita memang terlalu banyak barang-barang yang bisa diubah dari yang dulunya diekspor barang mentah, menjadi barang-barang jadi atau setengah jadi. Itu strategi bisnis negara jadi ada _added value_, ada nilai tambah yang bermanfaat bagi rakyat. Dan kita harus optimis bahwa itu bisa kita kerjakan dengan baik," katanya.

Pertemuan dengan para peneliti dan ilmuwan muda ini, kata Kepala Negara, mendorong semangat untuk meyakini bahwa apa yang diprediksi sejumlah lembaga internasional akan terwujud, yakni Indonesia emas 2045.

Pada saat itu, Indonesia disebut akan menjadi empat besar kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan per kapita mencapai US$23.000-29.000 per tahun.

"Kalau sekarang UMK kita baru Rp2-3 juta, nantinya sudah berada pada Rp27 juta per bulan. Lompatan yang sangat besar sekali dan itu akan terjadi kalau step-step besar, pekerjaan-pekerjaan besar di negara kita ini kita lalui dengan tahapan-tahapan yang benar, tanpa terganggu oleh misalnya turbulensi politik. Jangan sampai. Kalau stabilitas politik dan keamanan itu ada seperti ini terus, insyaallah hitung-hitungan itu tidak akan meleset," ujarnya.

Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam pertemuan tersebut, antara lain, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, dan Duta Besar RI untuk Korea Selatan Umar Hadi. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More