Senin 25 November 2019, 14:45 WIB

Indonesia Optimistis Rengkuh Kembali Manfaat GSP

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Indonesia Optimistis Rengkuh Kembali Manfaat GSP

ANTARA/Sigid Kurniawan
Ilustrasi--Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara

 

FINALISASI tinjauan fasilitas sistem tarif preferensial umum (Generalized System of Preference/GSP) oleh Amerika Serikat (AS) bagi Indonesia diharapkan dapat dilaksanakan pada Desember mendatang

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengungkapkan, pada pekan lalu, ia bersama Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar telah bertemu perwakilan United States Trade Representatif (USTR) untuk membahas poin-poin akhir terkait tinjauan GSP.

"Kami sudah bahas secara teknis terkait langkah-langkah penyelesaian GSP. Apa saja yang kira-kira masih dibutuhkan untuk penyelesaian, kami akan dukung sepenuhnya," ujar Jerry di kantornya, Jakarta, Senin (25/11).

USTR, lanjut dia, sangat menyambut baik setiap respon atau masukan yang diutarakan pemerintah Indonesia.

Baca juga: Edukasi Investasi dan Bisnis untuk Komunitas

Ia menyebut pihak AS sangat konstruktif dan menyadari pentingnya fasilitas tersebut bagi kedua negara.

Jerry mengatakan, dengan memberikan kembali manfaat GSP kepada Indonesia, keuntungan juga akan didapatkan AS terutama dari sisi pelaku usaha.

Pasalnya, mereka akan mendapatkan barang-barang yang sebagian besar merupakan bahan baku produksi dengan harga yang murah dan kualitas baik.

"Jadi ini adalah win-win solution bagi dua negara. Manfaat akan dirasakan oleh kedua belah pihak," tuturnya.

Saat ini, masih terdapat tiga item yang tengah dalam tahap penyelesaian yakni tentang reasuransi, lisensi impor, dan lokalisasi data.

"Tapi semuanya tinggal sedikit lagi, sudah tahap akhir dan ini progres yang baik," lanjut dia.

Diharapkan, tinjauan fasilitas itu akan bisa dirampungkan dan disimpulkan pada Desember ketika Menteri Perdagangan Agus Suparmanto berkunjung ke 'Negeri Paman Sam'.

Pada 2018, ekspor Indonesia ke AS yang menggunakan fasilitas GSP mencapai US$2 miliar dengan komoditas utama yang menjadi andalan berupa tas, perhiasan emas, ban truk dan bis, kabel, dan alat musik.

Angka itu dipastikan akan meningkat pada 2019 lantaran AS mencabut status eligibilitas GSP bagi India, Turki, dan Thailand.

Secara total, pada 2018, nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai US$18,43 miliar. Artinya, penjualan barang yang sudah memanfaatkan GSP ialah sekitar 12%. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More