Senin 25 November 2019, 12:50 WIB

Kandidat Prodemokrasi Hong Kong Menang Telak

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Kandidat Prodemokrasi Hong Kong Menang Telak

AFP/Philip FONG
Aktivis prodemokrasi Hong Kong bersorak setelah kandidat yang mereka dukung menang di pemilu.

 

GERAKAN prodemokrasi oposisi Hong Kong meraih perolehan suara yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pemilihan dewan distrik di wilayah yang dikuasai Tiongkok itu, hasil awal menunjukkan.

Capaian itu mengirim pesan jelas ke pemerintah yang didukung Beijing tentang dukungan publik terhadap tuntutan gerakan protes yang telah mencengkeram wilayah itu selama berbulan-bulan.

Menurut hitungan media setempat, 17 dari 18 anggota dewan sekarang dikendalikan oleh sosok prodemokrasi.

Meskipun ada kekhawatiran proses pemilu bisa terganggu atau dibatalkan karena kerusuhan, pemungutan suara ternyata berlangsung damai dengan tingkat partisipasi yang tinggi.

Pemilihan itu dipandang sebagai ujian dukungan bagi pemerintah setelah berbulan-bulan kerusuhan, protes, dan bentrokan.

Baca juga: Kelompok Prodemokrasi di Ambang Menang Telak di Pemilu Hong Kong

Pemerintah Hong Kong dan Beijing berharap pemilu akan membawa dukungan dari kelompok yang disebut ‘mayoritas diam’, tetapi itu tidak terwujud. Sebaliknya beberapa kandidat pro-Beijing yang signifikan kehilangan kursi dewan.

Seorang anggota parlemen pro-Beijing yang kontroversial, yang kehilangan kursinya, Junius Ho, mengatakan, "Langit dan bumi telah terbalik."

Anggota dewan distrik Hong Kong sebenarnya memiliki sedikit kekuatan politik dan terutama menangani masalah-masalah lokal seperti rute bus dan managemen sampah, sehingga pemilihan distrik biasanya tidak menimbulkan minat di tengah masyarakat.

Tapi kali ini adalah pertama kalinya rakyat Hong Kong antusias mengikuti pemilu dan bisa mengungkapkan pendapatkan mereka di kotak suara tentang penanganan krisis yang dihadapi Pemimpin Eksekutif Carrie Lam, yang dipicu undang-undang ekstradisi yang sekarang sudah ditarik.

Selain itu, 117 anggota dewan distrik juga akan duduk di komite yang beranggotakan 1.200 orang yang memberikan suara untuk pemimpin eksekutif, sehingga kemenangan distrik prodemokrasi pada akhirnya bisa diterjemahkan menjadi bagian yang lebih besar, termasuk siapa yang menjadi pemimpin kota berikutnya.

Tidak jelas berapa banyak populasi umum yang masih mendukung para pengunjuk rasa, dan pihak berwenang berharap pemilihan akan mengidentifikasi para pengunjuk rasa sebagai kelompok kecil ekstrimis pinggiran.

Tetapi di banyak distrik, kandidat muda pertama kali, banyak yang secara eksplisit bersekutu dengan para pengunjuk rasa, menumbangkan politisi mapan yang mendukung pemerintah.

Harapan dari para aktivis adalah kemenangan luar biasa dari partai-partai antikemapanan ini akan memaksa pemerintah untuk menanggapi tuntutan para pemrotes dengan lebih serius.

Sebuah rekor 4,1 juta orang mendaftar untuk ikut memilhan--lebih dari setengah populasi--dan lebih dari 2,9 juta orang memberikan suara.

Angka partisipasi mencapai lebih dari 71%, dibandingkan 47% pada tahun 2015.

Akhir pekan kemarin juga yang pertama dalam beberapa bulan tanpa bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi. (AFP/BBC/OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More