Senin 25 November 2019, 12:46 WIB

Indeks Penelitian Indonesia Masih Rendah

mediaindonesia.com | Politik dan Hukum
 Indeks Penelitian Indonesia Masih Rendah

Istimewa/DPR RI
Anggota Komisi VII DPR RI Arkanata Akram.

 

INDEKS penelitian di Indonesia dinilai masih rendah. Bahkan para peneliti Indonesia tertinggal jauh dari para peneliti di negara-negara lain. Ada H-Indeks sebagai indikator hasil penelitian.

Terkait hal tersebut, anggota Komisi VII DPR RI Arkanata Akram menyarankan, untuk meningkatkan indeks, penelitian di Indonesia bisa diarahkan ke penelitian 4.0 dengan menggunakan simulasi komputer.

“Bicara daya saing penelitian antara LIPI sebagai lembaga penelitian dari Indonesia dengan lembaga penelitian lain dari negara luar, maka kita kekurangan. Itu ditandai dengan H-Indeks yang tertinggi hanya 10. Padahal, minimal 18 untuk mendapat title professorship di kancah internasional,” kata Arkanata usai mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA), LIPI, Gunung Kidul, Yogyakarta, Jumat (22/11).

Untuk meningkatkan daya saing penelitian, politikus Partai NasDem itu mengimbau agar mengarahkan penelitian ke 4.0 yang menggunakan simulasi komputer.

Maksud Arkanata, semua laboratorium basah atau yang menggunakan eksperimen dipindahkan ke dalam bentuk simulasi komputer (machine learning). Lab basah sendiri dalam dunia penelitian biasnya digunakan untuk menangani berbagai bahan kimia dan punya potensi bahaya basah. Untuk itu, lab perlu dirancang secara khusus.

Saat ini di Indonesia masih jarang menggunakan simulasi komputer untuk penelitian bidang ilmu pengetahuan alam. Penelitian ini sangat murah.

“Kebanyakan kita masih menggunakan lab eksperimen yang basah. Jarang sekali di Indonesia ini menggunakan machine learning untuk bidang ilmu pengetahuan alam. Machine learning banyak dikembangkan di Indonesia dalam penelitian sosial, politik, dan ekonomi. Tapi untuk penelitian bidang ilmu pengetahuan alam kita masih ketinggalan,” jelasnya.

Sementara itu, masih kata legislator dapil Kalimantan Utara ini, bicara akses hasil penetian bagi masyarakat, mungkin ada baiknya semua hasil penelitian LIPI diumumkan di sebuah website untuk memudahkan masyarakat mengaksesnya.

Di beberapa negara lain, hal ini sudah biasa. Seperti di Australia, lembaga penelitiannya membuka akses bagi masyarakat. Jadi, tidak hanya produk, tapi ilmunya pun bisa didapat masyarakat. (OL-09)

Baca Juga

DOK MI

Kasus Jiwasraya, Heru Hidayat Juga Divonis Penjara Seumur Hidup

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Senin 26 Oktober 2020, 23:38 WIB
Selain pidana seumur hidup, Heru juga dijatuhi hukuman membayar uang pengganti senilai Rp10,72...
dok mi

Setahun Jaksa Agung Selamatkan Uang Negara Rp338,8 Triliun

👤Al Abrar 🕔Senin 26 Oktober 2020, 22:32 WIB
Setahun Kejagung juga telah menyelidiki 1.477 perkara selama periode Oktober 2019 hingga Oktober 2020. 986 perkara di antaranya telah masuk...
Antara

KPK Eksekusi Eks Bupati Talaud ke LP Tangerang

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Senin 26 Oktober 2020, 22:15 WIB
Sri Wahyumi terbukti menerima suap dari pengusaha Bernard Hanafi Kalalo melalui orang kepercayaannya Benhur...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya