Senin 25 November 2019, 08:25 WIB

Petani Tadah Hujan Berharap Produksi Padi Naik

Ferdinandus Rabu | Nusantara
Petani Tadah Hujan Berharap Produksi Padi Naik

MI/Ferdinandus Rabu
Para petani sawah tadah hujan mendapat bantuan traktor untuk membuka areal persawahan yang siap ditanami pada musim hujan ini.

 

FRANSISKUS, Nikolaus Koten, dan Agustius Pito Lamabelawa, bersama beberapa petani sawah tadah hujan, pagi-pagi mulai bergegas menuju areal hutan di wilayah perbukitan Duli, di Desa Aransina, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Di sana ada sebuah areal diantara perbukitan yang tampak seperti palungan mulai di buka oleh sejumlah kelompok tani tadah hujan, sambil menanti musim hujan tiba nanti.

Bersama sejumlah petani sawah tadah hujan lainnya, Fransiskus, Nikolaus dan Agustinus yang tergabung dalam Kelompok Tani Bela Bukit, Desa Aransina, setiap harinya membawa alat pertanian seadanya seperti cangkul, parang, sabit, membuka lahan baru untuk lokasi persawahan untuk persiapan memasuki musim tanam.

Setelah 10 bulan kawasan ini dilanda kemarau panjang, BMKG memprediksikan akhir November akan memasuki musim hujan. Sehingga petani sawah tadah hujan sudah bersiap untuk menanam padi.

"Sawah di desa kami dan sekitarnya merupakan sawah tadah hujan sehingga sangat mengandalkan air hujan untuk pengairan. Dan memasuki musim hujan ini, kami setiap harinya mulai membuka lahan baru di wilayah Palungan Duli ini. Biasanya setiap hari kami mampu membuka lahan sekitar 100 hingga 300 meter lebih. Itu sebelum ada bantuan pemerintah. Namun beberapa waktu lalu kami sudah mendapatkan bantuan pemerintah berupa sebuah traktor sehingga memudahkan kami membuka lahan baru," kata Fransiskus, Ketua Tani Bela Bukit, Senin (25/11/2019).
 
Dengan adanya traktor, setiap harinya petani sawah tadah hujan bisa membuka lahan sekitar setengah hektare lebih. Dan saat ini lahan persawahan yang dibuka seluas 10 hektare.

"Selain traktor, Kami juga mendapatkan bantuan satu unit mesin perontok padi, dan bantuan uang Rp100 juta untuk membangun sumur tanah dangkal untuk membantu warga di daerah kami yang kesulitan air bersih," tambahnya.

Selama musim hujan, para petani akan memanfaatkan sebaik-baiknya agar air hujan bisa mengairi seluruh areal persawahan. Tahun 2018, dari luas lahan lima hektare sawah tadah hujan mampu menghasilkan padi sekitar 3,5 ton. Sedangkab lahan 10 hektare yang kini sedang digarap diharapkan bisa memproduksi 5-6 ton padi.

Selain membuka lahan, sejumlah petani mulai menyiapkan pola pengairan dengan sistem tanam air, yaitu membuat jalur-jalur air di sekitar lahan tanam untuk menampung dan menyimpan air di tanah agar tidak terbuang percuma.

baca juga: Pemkot Samarinda Belajar Budidaya Kelor ke Blora

"Saat ini kami harus membuat pola jalur air agar air hujan tidak terbuang percuma tetapi mengalir di sekitar jalur irigasi yang kami buat agar dapat ditampung dan dimanfaatkan sebaik-baiknya," kata Wilibroda salah satu petani sayur di desa tersebut. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More