Senin 25 November 2019, 06:30 WIB

Bronjong Rugikan Indonesia

Palce Amalo | Nusantara
Bronjong Rugikan Indonesia

MI/PALCE AMALO
Pos Polisi Timor Leste dibangun terlihat dibangun di dalam lahan sengketa antara Indonesia-Timor Leste di perbatasan Desa Manusasi,

 

KEKHAWATIRAN dirasakan Michael Riwu Kaho. Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Nusa Tenggara Timur itu menemukan fakta perbatasan Indonesia-Timor Leste telah bergeser.

"Bukan karena manusia, tetapi ini oleh alam. Pergeseran membuat Indonesia kehilangan lahan sekitar 4.000 hektare," ungkap pengajar di Universitas Nusa Cendana, Kupang itu.

Persoalan perbatasan di Indonesia memang tidak selesai dengan membangun pos lintas batas negara yang indah. Sebelumnya, pergeseran tapal batas sering dilaporkan terjadi di Kalimantan, yang berbatasan dengan negeri jiran, Malaysia.

Berbeda dengan di Kalimantan, Michael Riwu menemukan pergeseran tapal batas dengan Timor Leste terjadi di Sungai Malibaka, perbatasan antara Kabupaten Belu dengan Distrik Bobonaro, Timor Leste. Kehilangan lahan terjadi sejak 2000 dan masih berlangsung sampai saat ini.

Di wilayah ini, tapal batas ditetapkan di bagian sungai yang terdalam. Dari tahun ke tahun, sungai itu mengalami pelebaran karena faktor alam.

"Timor Leste membangun bronjong di tepi Sungai Malibaka dalam wilayah mereka. Pelebaran sungai pun terjadi ke wilayah Indonesia," lanjut Michael dalam sebuah workshop di Kupang, akhir pekan lalu.

Dia mengaku persoalan ini direspons maksimal oleh pemerintah. Padahal, kejadian serupa juga ditemukan di perbatasan RI-Timor Leste di Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, yang berbatasan dengan Distrik Oekusi.

Sungai Malibaka juga berisiko menimbulkan friksi antarakedua negara. Pasalnya, hulu sungai itu ada di Timor Leste, mengalir ke Indonesia dan kembali ke Timor Leste. Pemerintah negeri tetangga itu meminta Indonesia membayar jasa lingkungan dengan ancaman akan menutup aliran air ke wilayah Kabupaten Belu.

Perbatasan Filipina

Pengamanan wilayah perbatasan juga menjadi prioritas bagi Polda Papua Barat. Wilayah tugas mereka berbatasan dengan Filipina.

Untuk memperkuat kemampuan mengamankan daerah terluar ini, Wakil Kepala Polda Papua Barat Komisaris Besar Tatang mengaku pihaknya sudah mengusulkan kenaikan status polda dari tipe B menjadi tipe A. "Sudah beberapa bulan lalu kami sampaikan kepada Mabes Polri."

Dia mengaku, dengan tipe B, personel yang dimiliki Polda Papua Barat sangat terbatas. Dengan penaikan menjadi tipe A, penambahan personel bisa dilakukan sehingga kemampuan mengamankan garis perbatasan lebih maksinmal.

Perbatasan Indonesia-Filipina di Papua Barat berada di Pulau Fani, Distrik Ayau, Kabupaten Raja Ampat. Selain itu, secara geografis wilayahperairan Papua Barat sangat luas sehingga butuh kekuatan personel dan peralatan yang besar.

Akhir pekan lalu, Pangdam I/Bukit Barisan Mayor Jenderal MS Fadhilah menerima sekaligus melepas Satgas Pengamanan Operasi Terluar. Di wilayah ini, titik perbatasan berada di Pulau Berhala, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatra Utara.

"Operasi pengamanan pulau terluar tidak ringan. Prajurit TNI harus tetap menjalankan tugas ini dengan gembira dan senyum sehingga tugas akan menjadi ringan," ujar Fadhilah. (MS/AP/Ant/YH/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More