Senin 25 November 2019, 05:30 WIB

Nadiem, Disrupsi dan Guru Masa Depan

Marthunis Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh | Opini
Nadiem, Disrupsi dan Guru Masa Depan

Dok.MI/Duta
Opini

PENUNJUKAN Nadiem Makarim dalam Kabinet Indonesia Maju di periode kedua kepemimpinan Jokowi-Ma'ruf Amin disambut riuh oleh banyak kalangan. Banyak pihak optimistis dengan melihat track record keberhasilannya membangun Gojek. Namun, tidak sedikit pula yang merasa skeptis karena beralasan sang menteri yang ditunjuk masih dianggap awam dalam mengurusi pendidikan.

Bagi golongan yang kedua, perjalanan karier Nadiem yang selama ini sama sekali tidak bersentuhan dengan dunia pendidikan menjadi kekhawatiran tersendiri terhadap kapasitasnya dalam mengelola dunia yang betul-betul baru baginya. Apalagi mengurusi pendidikan dipandang memiliki tantangan yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan sekadar mengurusi korporasi.

Jika sosok Menteri Pendidikan yang diimajinasikan golongan kedua tadi ialah mereka yang berstatus guru besar dan sudah berjibaku dengan dunia pendidikan puluhan tahun lamanya, betapa hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar kita masih terperangkap dengan model fixed mindset yang terbiasa berpikir linear terikat kuat dengan tradisi dan berupaya mempertahankan status quo.

Di era yang mendisrupsi hampir setiap jengkal kehidupan saat ini, ketika ketidakpastian ialah kepastian itu sendiri, gebrakan Presiden Jokowi dengan memilih Nadiem sebagai nakhoda pendidikan Indonesia untuk lima tahun mendatang merupakan sebuah langkah tepat.

Di tengah-tengah disrupsi saat ini, Nadiem merupakan ikon dan representasi dari disruptive mindset itu sendiri. Nadiem telah membuktikannya melalui perusahaan Gojek yang ia dirikan.

Bagaimana ojek, sebuah moda transportasi yang barangkali dulunya menjadi pilihan kesekian bagi banyak orang, setelah bertransformasi menjadi platform online lewat peluang yang dilihat oleh sosok Nadiem membuat banyak perusahaan transportasi darat yang sudah meraksasa puluhan tahun, misalnya, Blue Bird sempat kelimpungan menghadapi ekspansi Gojek. Sebuah fenomena yang sama sekali tidak pernah mereka tebak dan bayangkan sebelumnya.

Hal ini senada dengan ungkapan Samuel Ichiye Hayakawa, "If you see in any given situation only what everybody else can see, you can be said to be so much a representative if your culture treat you as a victim of it".

Nadiem merupakan sosok nyata yang mewakili makna dari kutipan itu. Di saat kebanyakan orang hanya melihat ojek sebagai moda transportasi rendahan, ia malah melihatnya dengan cara yang berbeda dan kemudian meyulapnya menjadi aset yang bernilai triliunan.

Sepertinya, mentalitas inilah yang melatarbelakangi penunjukannya sebagai Mendikbud; seseorang dengan disruptive mindset untuk menghadapi dunia yang saat ini dikepung disrupsi. Adalah sebuah kekonyolan jika masih berharap pada cara lama, model dan pendekatan yang dapat ditebak semua orang. Di tengah-tengah dunia yang tidak tertebak seperti saat ini, untuk mengubah wajah pendidikan Indonesia secara fundamental, selaras seperti yang diungkapkan Henry Ford, "You can't learn in school what the world is going to do next year".

Guru masa depan

Guru ialah lakon utama dalam dunia pendidikan yang menopang seberapa cepat dan lambatnya laju pendidikan kita. Ironisnya, guru masih memiliki segudang persoalan, mulai isu kesejahteraan, distribusi penempatan yang belum merata, hingga persoalan kompetensi.

Khususnya, ranah kompetensi, sebanyak 70% guru dinilai tidak kompeten. Hal ini merujuk pada hasil uji kompetensi guru (UKG) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Galamedianews.com, 11/11). Segenap problematika yang mengemuka ini menjadi pekerjaan rumah bagi Mendikbud demi menyiapkan guru dengan masa depan yang kian tidak tertebak.

Salah satu hal urgen yang harus dicermati demi menyiapkan guru masa depan ialah dengan mendorong para guru untuk memiliki disruptive mindset. Tiga juta lebih guru di semua jenjang merupakan sebuah kekuatan besar kalau saja memiliki disruptive mindset. Terbuka dengan masa depan, siap beradaptasi dengan segala perubahan, dan tidak terperangkap dengan sejarah, pengalaman, atau aturan baku yang kaku pada masa lalu.

Ada sebuah pernyataan menarik yang diungkapkan Nadiem dalam sebuah wawancara. Ia memaparkan bahwa, "Not believe too much in what you think you know, but instead trust the numbers, trust the data". Pernyataan ini mencerminkan mentalitas Nadiem sebagai seorang pembelajar. Tidak merasa pongah dan jemawa dengan apa yang diketahuinya, tetapi percaya pada apa yang dia lihat; memercayai angka dan data yang ada.

Dalam buku Disruption (2017) yang ditulis oleh Rhenald Kasali, ia menyimpulkan bahwa "seeing is believing, melihat sama artinya dengan membaca sebab tak semua orang bisa membaca mengenai orang lain, alam semesta, dan segala sesuatu yang tak tertulis dan tak terungkap". Maka itu, melihat, bergerak dan menyelesaikan ialah nilai dari mentalitas guru masa depan yang perlu dibangun.

Mentalitas menjadi seorang pembelajar, yang mudah beradaptasi dengan perubahan, mengkaji sesuatu secara komprehensif tanpa langsung melompat pada kesimpulan merupakan model guru masa depan. Model disrupstive mindset dan action seperti inilah yang sejatinya harus dibangun bagi para guru. Juga seharusnya menjadi salah satu agenda revolusi mental yang hendak diinternalisasikan oleh sang Mendikbud.

Hari guru yang jatuh pada hari ini dengan mengusung tema, Guru penggerak indonesia maju seyogianya menjadi momen yang reflektif nan kontemplatif untuk mengukur seberapa cepat laju guru-guru di Indonesia untuk menjadi lokomotif penggerak bagi kemajuan bangsa ini di masa mendatang.

Meskipun guru masih menyimpan segudang persoalan yang masih mengemuka, tapi ada optimisme di sana. Tidak sedikit generasi milenial hari ini yang berprofesi sebagai guru. Para milenial yang dikenal idealis, memiliki pikiran terbuka, adaptif, toleran, dan melek teknologi ialah harapan untuk membawa laju gerak guru di negeri ini menjadi lebih kencang.

Dengan disruptive mindset yang dimiliki, merekalah guru masa depan yang siap menghadapi tantangan ketidakpastian, sigap, adaptif dalam mengelola perubahan, dan menjadi penggerak kemajuan bangsa ini. Akhirnya, selamat Hari Guru!

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More