Senin 25 November 2019, 00:40 WIB

Obat Generasi Ketiga Untuk Kanker Paru

MI | Humaniora
Obat Generasi Ketiga Untuk Kanker Paru

MI/Siswantini Suryandari
Kongres ESMO Asia 2019 yang berlangsung di Suntec Convention Center and Exhibition, Singapura

 

DUNIA pengobatan kanker terus berkembang dan sebisa mungkin memberikan harapan hidup kepada pasien lebih lama. Seperti halnya kanker paru-paru, dengan pengobatan terbaru mampu menurunkan risiko perkembangan sel kanker lebih dari 40 persen.

Salah satu obat yang dikeluarkan oleh Pfizer menjadi obat lini pertama pengobatan kanker paru-paru sel besar (non small cell lung cancer/NSCLC) yang telah menyebar ke sebagian tubuh. Obat lini pertama kanker paru sel besar itu dibahas oleh Prof Tony Mok dari The Chinese University Hong Kong, Prof Thanyanan Reungwetwattana dari Mahidol University Bangkok, Thailand dan Dr Daniel Tan dari National Cancer Centre Singapore, dalam kongres European Society for Medical Oncology (ESMO) Asia 2019 yang berlangsung di Singapura, 22-24 November 2019.

Ketiga pembicara membahas bahwa ada perbedaan besar dalam pengobatan kanker paru-paru generasi sebelumnya dengan generasi ketiga ini. Thanyanan menjelaskan bahwa EGFR (Epidermal growth factor receptor) adalah mutasi gen yang paling sering terjadi pada kanker paru, khususnya jenis kanker paru sel besar yang ditemukan paling banyak dengan persentase sekitar 40-50 persen. “Keganasan yang sudah menyebar dan menimbulkan pesimistis harapan hidup bagi pasien,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Tony Mok dan Daniel Tan. Keduanya menyambut baik dengan pengobatan generasi ketiga ini. Uji klinis pada 227 pasien usia 18 tahun ke atas dari berbagai etnis seperti Jepang, China, dan Asia Timur lainnya, serta non Asia selama 48 bulan. Hasilnya, keberlangsungan hidup pasien meningkat. Namun efek sampingnya seperti diare dan ruam pada kulit paling banyak dialami pasien, sekitar 87 persen.

Disimpulkan bahwa obat generasi ketiga itu dapat menurunkan risiko perkembangan sel kanker lebih dari 40 persen dari rata-rata 6,5 bulan pengobatan. Sejak 2018, obat tersebut telah disetujui oleh FDA (Badan POM AS) menjadi obat lini pertama dalam penanganan kanker paru sel besar.

Dr. Elisabete Weiderpass, Direktur International Agency for Research on Cancer (IARC) WHO mengatakan bahwa pencegahan adalah strategi jangka panjang yang paling efektif untuk mengendalikan kanker karena 30 - 50% dari semua kanker dapat dicegah.(Nda/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More