Minggu 24 November 2019, 19:00 WIB

Butuh 10 Tahun Mengurai Sampah Puntung Rokok

Indriyani Astuti | Humaniora
Butuh 10 Tahun Mengurai Sampah Puntung Rokok

MI/Susanto
Butuh 10 Tahun Mengurai Sampah Puntung Rokok

 

SEJUMLAH anak muda melakukan kampanye serentak  #SatuPuntungSejutaMasalah di 9 kota mulai  Minggu (24/11). Inisiator kampanye ialah Pembaharu Muda Framework Convention on Tobacco Control  (FCTC), yakni 20 anak muda dari 20 kota, yang aktif melakukan aksi mendukung pengendalian tembakau untuk melindungi anak Indonesia dari dampak rokok, melalui aktivitas berbasis media sosial.

"Melalui kampanye #SatuPuntungSejutaMasalah ini kami ingin menunjukkan betapa  banyaknya permasalahan di balik puntung rokok," kata Yokbet Merauje, Pembaharu Muda dari Papua.

Menurutnya, puntung rokok masalah bagi lingkungan. Selain merupakan sampah terbanyak di lautan, puntung rokok adalah golongan sampah berbahaya (B3) yang memerlukan waktu 10 tahun untuk terurai.

"Ada juga masalah banyaknya konsumsi zat adiktif rokok dibalik sampah puntung rokok," tegas Janitra Hapsari, Pembaharu Muda Kota Yogyakarta.

Nita, panggilannya, mengatakan, Indonesia berada pada urutan ketiga konsumsi rokok di dunia. Ia mengutip data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 bahwa perokok di Indonesia menghabiskan minimal 12 batang setiap hari. Kondisi itu, kata dia, diperparah dengan fakta bahwa industri rokok memproduksi rata-rata 338 miliar batang rokok untuk memenuhi adiksi lebih dari 90 juta perokok aktif di Indonesia.

"Ini sangat mengkhawatirkan," tegas alumnus Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada itu.

Sarah Haderizqi Imani, Pembaharu Muda Kota Tangerang, mengingatkan bahwa puntung rokok merupakan masalah banyaknya orang yang terpapar asap rokok.

"Kita bisa  menemukan puntung rokok di mana saja, karena orang bisa merokok di semua tempat, di mana pun ia beraktivitas," kata Sarah.

Hasil riset yang dilakukan peneliti Universitas Georgia, Jenna Jambeck, dan dirilis pada 2015, menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara kedua penyumbang sampah di laut setelah China. Setidaknya ada 187,2 juta ton sampah dari Indonesia ada di laut.

Faktanya, dari jumlah tersebut sampah puntung rokok menjadi sampah terbanyak di laut. Hal ini diperkuat data dari The Ocean Conservancy, yang setiap tahun mensponsori International Coastal Cleanup (ICC), kegiatan bersih-bersih badan air di seluruh dunia.

Sampah terbanyak yang dikumpulkan saat ICC setiap tahun adalah puntung rokok. Dalam 25 tahun terakhir, relawan ICC mengumpulkan sekitar 53 juta puntung rokok.


Baca juga: Dacomitinib Terapi Generasi Ketiga untuk Kanker Paru-Paru


Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan dilakukan oleh jutaan orang. Setidaknya dua pertiga puntung rokok ditemukan berserakan di trotoar atau selokan, dan akhirnya berujung di lautan. Padahal, limbah puntung rokok tergolong limbah berbahaya dan beracun, setara dengan limbah pabrik, dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kelangsungan hidup manusia.

Ia menambahkan, data dari Global Youth Tobacco Survey (GYTS) menyebutkan 78% remaja terpapar asap rokok di tempat umum.

"Lebih dari 97 juta orang di Indonesia menjadi perokok pasif, temasuk anak-anak, dan beresiko 3 kali mengidap penyakit kronis karena asap rokok," papar pegiat Forum Anak Kota Tangerang ini.

Yoke, Nita, Sarah, bersama 6 Pembaharu Muda (PM) mulai hari ini (24/11) menggelar kampanye serentak #SatuPuntungSejutaMasalah di 9 kota di Indonesia. Keenam PM lainnya adalah Askari Banaali (PM Kota Luwuk, Banggai), Ria (PM Kota Surabaya), Julio (PM Kota Banjarmasin), Raja Pangestu (PM Kota Surakarta), Ahmad Abdan Syukron (PM Kota Mataram), dan Sarah Muthiah Widad (PM Kota Jakarta). Khusus Raja dan Syukron, akan menggelar kampanye pada Selasa (26/11).

Bentuk kampanye yang dilakukan Pembaharu Muda ini adalah, bersama-sama teman, organisasi dan  komunitas masing- masing memungut sampah puntung rokok di sejumlah lokasi tempat mereka beraktivitas. Ada yang  melakukan aksi di area car free day, terminal, stasiun, taman, perumahan dan jalanan di sekitar kampus/sekolah.

Kesembilan Pembaharu Muda sepakat mendukung pemerintah membuat satu regulasi yang komprehensif  mengatasi permasalahan rokok. Askari, mewakili Pembaharu Muda, menegaskan persoalan puntung rokok hanya bisa ditanggulangi dengan Reduce, yaitu mencegah munculnya puntung rokok dengan mengurangi atau tidak mengonsumsi rokok.

"Harus ada regulasi komprehensif yang mengatur sejuta masalah yang ditimbulkan dari puntung rokok. Mulai dari pelarangan iklan, promosi dan sponsor rokok, menaikan harga rokok semahal-mahalnya, membatasi akses mendapatkan rokok dan  menerapkan KTR," pungkas  Askari. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More