Minggu 24 November 2019, 16:50 WIB

Dacomitinib Terapi Generasi Ketiga untuk Kanker Paru-Paru

Siswantini Suryandari dari Singapura | Humaniora
Dacomitinib Terapi Generasi Ketiga untuk Kanker Paru-Paru

MI/Siswantini Suryandari
Prof Thanyanan Reungwetwattan saat menyampaikan hasil penelitian penggunaan dacomitinib untuk pasien kanker paru NSCLC dalam Kongres ESMO

 

DUNIA pengobatan kanker terus berkembang dan sebisa mungkin memberikan harapan hidup kepada pasien lebih lama. Seperti halnya kanker paru-paru, dengan pengobatan terbaru mampu menurunkan risiko perkembangan sel kanker lebih dari 40%.

Obat yang dimaksud ialah dacomitinib yang dikeluarkan oleh Pfizer menjadi obat lini pertama pengobatan kanker paru-paru sel besar (non small cell lung cancer/NSCLC) yang telah menyebar ke sebagian tubuh (metastastik).

Obat lini pertama kanker paru sel besar ini dibahas oleh Prof Tony Mok dari The Chinese University Hong Kong, Prof Thanyanan Reungwetwattana dari Mahidol University Bangkok, Thailand, dan Dr Daniel Tan dari National Cancer Centre Singapore, dalam kongres European Society for Medical Oncology (ESMO) Asia 2019 yang berlangsung di Singapura, 22-24 November 2019.

Ketiga pembicara membahas bahwa ada perbedaan besar dalam pengobatan kanker paru-paru generasi sebelumnya dengan generasi ketiga ini.

Thanyanan Reungwetwattana dari Mahidol University menjelaskan bahwa EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor) adalah mutasi gen yang paling sering terjadi pada kanker paru, khususnya jenis kanker paru sel besar yang ditemukan paling banyak dengan persentase sekitar 40-50%. Keganasan yang sudah menyebar dan menimbulkan pesimistis harapan hidup bagi pasien.

Ia memberikan contoh obat generasi sebelumnya yakni gefitinib tidak seluruh sel kanker yang memicu penyebaran tertangani. Sebaliknya dacomitinib bisa menurunkan risiko perkembangan kanker lebih maksimal meski efek samping yang dialami pasien lebih besar.

"Diare, muntah dan munculnya ruam pada kulit lebih besar dialami pasien menggunakan obat generasi ketiga ini jika dibandingkan dengan terapi lainnya," terangnya seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia, Siswantini Suryandari, dari Singapura, Sabtu (23/11).

Hal senada juga disampaikan oleh Tony Mok dan Daniel Tan. Keduanya menyambut baik dengan pengobatan generasi ketiga ini.

Dacomitinib merupakan terapi untuk penghambat pertumbuhan sel kanker besar pada paru-paru.

Uji klinis dacomitinib dilakukan pada 227 pasien usia 18 tahun ke atas dari berbagai etnis seperti Jepang, Tiongkok, dan wilayah Asia Timur lainnya, serta non-Asia selama 48 bulan. Dari hasil uji klinis tersebut, keberlangsungan hidup pasien lebih baik dibandingkan gefitinib.

Namun efek sampingnya seperti diare dan ruam pada kulit paling banyak dialami pasien atau sekitar 87%.

Dari hasil uji klinis disimpulkan bahwa dacomitinib dapat menurunkan risiko perkembangan sel kanker lebih dari 40% dari rata-rata 6,5 bulan pengobatan.


Baca juga: Peringati HKN ke-55, Wanita Permabudhi Gelar Diskusi Kesehatan


Sejak 2018, dacomitinib telah disetujui oleh FDA (Badan POM AS) menjadi obat lini pertama dalam penanganan kanker paru sel besar. Di seluruh dunia, kanker paru sel besar (NSCLC) mendominasi jenis kanker paru yang ada, yakni 75%-nya.

Dr. Elisabete Weiderpass, Direktur International Agency for Research on Cancer (IARC) WHO dalam acara kongres ESMO Asia 2019 mengatakan bahwa pencegahan adalah strategi jangka panjang yang paling efektif untuk mengendalikan kanker karena 30-50% dari semua kanker dapat dicegah.

"Wilayah Asia-Pasifik dengan lebih dari 60% populasi dunia, menanggung setengah dari beban kanker global. Konsekuensinya, kebijakan dan program nasional harus diperkuat di wilayah tersebut. Selain meningkatkan kesadaran, ada juga kebutuhan untuk mengurangi paparan faktor risiko kanker dan memastikan bahwa orang diberikan informasi dan dukungan yang mereka butuhkan untuk membuat pilihan yang sehat," kata Weiderpass.

WHO melaporkan saat ini ada lima daftar penyakit kanker paling tinggi diidap oleh warga Asia Pasifik. Yakni kanker paru-paru, kanker payudara, kanker kolorektal (usus), kanker prostat dan kanker perut.

Elisabete Weiderpass menyebutkan jumlah pasien pada lima kanker ini di Asia Pasifik meningkat.

Dia menyebutkan pada 2018 beban kanker di Asia Pasifik 49,1%, insiden kematian 57,5% dan prevelansi selama lima tahun mencapai 41,4% atau 18,1 juta kasus kanker.

"Maka pencegahan sangat penting. Mulaiah dengan pengendalian tembakau, pengendalkan alkohol, pengendalian berat badan, harus berolahraga, dan hindari diet yang salah," saran Weiderpass. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More