Minggu 24 November 2019, 08:00 WIB

Prabowo Minta Waspadai Bahaya Laten Komunis

Golda Eksa | Politik dan Hukum
Prabowo Minta Waspadai Bahaya Laten Komunis

MI/Adi Maulana Ibrahim
Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto.

 

SETELAH runtuhnya Uni Soviet sebagai negara komunis bersumber dan berakhirnya era Perang Dingin, tidak berarti komunisme runtuh. Beberapa negara yang menganut ideologi komunis masih eksis, antara lain Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Kuba.       

Demikian ditegaskan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang dibacakan Rektor Universitas Pertahanan Letjen Tri Legionosuko di acara bedah buku PKI Dalang dan Pelaku Kudeta G-30-S/1965, di Gedung Lembaga Ketahanan Nasional RI, Jakarta, Sabtu (23/11).

“Ideologi komunis dan gerak­an komunisme di Indonesia patut diduga masih eksis. Kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya laten komunis,” ujar Prabowo.

“Bagi bangsa Indonesia, komunisme telah mencatat lembaran hitam dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia,” kata Tri membacakan sambutan Prabowo.

Beberapa negara yang menganut ideologi komunis masih eksis hingga saat ini, seperti Republik Rakyat Tiongkok dan Kuba.

Komunisme, diakui Prabowo, telah tercatat dalam lembar­an hitam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Gerakan itu terbukti bebe­rapa kali berupaya merobohkan kekuasaan pemerintah RI yang sah. Salah satunya melalui Gerak­an 30 September 1965. Gerakan tersebut bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno dan mencoba mengubah Indonesia menjadi negara komunis.

“Gerakan ini dipimpin oleh DN Aidit. Setelah peristiwa G-30-S/1965 tersebut, rakyat mendesak agar PKI dibubarkan dan telah disahkan melalui TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966.”

Prabowo menilai acara bedah buku merupakan cara efektif untuk menyampaikan pemikiran penulis. Melalui buku, proses transfer informasi dan ilmu pengetahuan bisa tersampaikan dengan baik kepada para pembacanya.

Acara bedah buku yang ditulis dosen Universitas Negeri Surabaya, Aminuddin Kasdi, ini juga dihadiri mantan Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu selaku pembicara kunci.

Mantan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan setiap negara memiliki konsep ideologi masing-masing sebagai simbol pemersatu khas untuk negaranya sendiri.

”Berbasis nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai kejuangan 45 merupakan sumber kekuatan bangsa,” ujar Ryamizard.

“Pancasila terbukti ampuh di dalam mengatasi pemberontak­an DI/TII dan ­G-30-S/PKI, ” tegas Ryamizard.

Ryamizard menambahkan, mengganti ideologi Pancasila berarti berkhianat terhadap bangsa ini, proklamasi kemerdekaan, dan negara Indonesia. (Gol/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More