Sabtu 23 November 2019, 22:00 WIB

Lebih Sensitif Awasi Pemicu

Fetry Wuryasti | Weekend
Lebih Sensitif Awasi Pemicu

MI/ADAM DWI
dr Nova Riyanti Yusuf spesialis kesehatan jiwa

KESADARAN akan pentingnya kesehatan jiwa dalam kehidupan manusia mulai mengalami peningkatan. Sayangnya, gangguan jiwa di kalangan remaja masih butuh perhatian ekstra. Apalagi angka depresi berujung bunuh diri tetap masih tinggi.

Depresi yang masuk dalam gangguan neurotik bisa beririsan dengan psikotik sehingga mereka yang menderita depresi ini bisa berhalusinasi yang meremehkan dirinya. Penderita gangguan neurotik bila tidak ditangani segera akan distres mengalami gangguan dalam kehidupannya--dan disfungsi--mengalami perubahan fungsi hidup.

Jadi, apa sebenarnya pemicu depresi dan bunuh diri pada remaja? Apakah berhubungan dengan gaya hidup bermedia sosial belakangan ini? Ikuti perbincangan Media Indonesia dengan spesialis kesehatan jiwa dr Nova Riyanti Yusuf di Jakarta, Jumat (1/11).

Banyaknya kasus bunuh diri pada remaja, apakah mayoritas disebabkan depresi?
Depresi itu disebabkan multimodel biopsikososial. Harus dibedakan dengan stresor. stresor psikososial adalah kondisi sosial di masyarakat yang memengaruhi dia secara psikologis sebagai stresor atau hal yang membuat tekanan. Stresor bisa positif dan negatif. Bila positif, malah memacu menjadi lebih baik. Kalau negatif, bisa membuat dia dalam kondisi yang lebih tertekan. Ada 16 stresor yang saya teliti, salah satunya 97% dari pengguna media sosial atau internet.

Nomor dua, apa yang dia peroleh lebih rendah daripada ekspektasinya. Ketiga, ada teman-teman yang mengejek dan menjelek-jelekkan. Lalu, gim daring masuk lima besar stresor remaja. Tetapi stresor dan depresi saat saya analisis secara multivariat itu tidak signifikan memprediksi potensi ide bunuh diri. Yang lebih mampu memprediksi bunuh diri adalah instrumen ketahanan jiwa remaja. Artinya, tidak harus depresi dan ada stresor sosial untuk punya ide bunuh diri.

Instrumen saya ada empat dimensi, yaitu, pertama, burdensomeness, merasa dirinya menjadi beban. Kedua, belongingness, dia ingin menjadi bagian dari sesuatu. Hopelessness, dia merasa tidak ada harapan. Dimensi terakhir, loneliness, dia merasa kesepian. Jadi, dari empat dimensi ini malah lebih kuat memprediksi sampai 5,39 kali potensi munculnya ide bunuh diri. Malah lebih ngeri lagi kalau ternyata tidak terdeteksi bunuh diri, tetapi bisa terjadi.

Tingkat ketahanan stres orang berbeda, jadi indikator gangguan jiwa tidak bisa dipukul rata?
Secara umum dokter jiwa memakai model biopsikososial menghadapi masalah gangguan jiwa. Biologis, misalnya, apakah seseorang mempunyai masalah kelainan neurotransmiter seperti depresi itu, serotonin transmiter¬nya. Ada orang yang punya kecenderungan serotoninnya rendah.

Kedua, apakah ada keturunan. Tapi bukan berarti turunan akan mengalami masalah yang sama. Artinya, akan lebih berat saja penanganannya atau perjalanan penyakitnya. Psikologi kepribadian seseorang yang terbentuk lengkap umur 18 tahun, dari pola asuh, lingkungan, dan sebagainya. Ini akan memengaruhi ciri kepribadian seseorang menghadapi masalah. Kemudian, sosial, itu adalah lingkungan. Apa pun yang terkait dengan kehidupan sosial, memengaruhi seseorang dalam perjalanan penyakit jiwa secara model biopsikososial.

Apakah potensi depresi bisa dilihat dari usia dini?
Sejak SMP bisa. Karena itu, penting screening di sekolah untuk mengetahui kondisi kejiwaan remaja. Ini bisa melihat potensi ide bunuh diri. Agar dilakukan proses intervensi, misalnya, life skill training, pelatihan untuk kemampuan menghadapi kehidupan, bagaimana menghadapi masalah, menghadapi komentar jahat.

Ketika hasil screening menemukan empat dimensi itu, berapa besar potensi self harm sampai bunuh diri?
Percobaan bunuh diri butuh faktor-faktor lain. Orang harus lihat ada warning sign seseorang mau bunuh diri, misal, menyampaikan selamat tinggal, membagikan barang, atau hal-hal yang tidak lazim lainnya. Kemudian, harus tahu faktor pencetus, misalnya, sudah ada gejala, tapi belum ada yang melakukan pendekatan.

Faktor pencetusnya bisa apa saja, automatic thinking, pikiran yang tidak penting pun bisa. Seperti media sosial, gara-gara kecewa yang like foto cuma sedikit dari target. Makanya, harus kita luruskan di masyarakat tentang keberhasilan, kesuksesan, dan kebahagiaan. Itu hyper reality, tidak bisa dikuantifikasi. Hiperealitas terjadi karena paparan berlebih gawai dan kita tidak mencoba detoks dari gawai. Dari penelitian luar negeri mengatakan, ada perubahan otak karena cahaya biru gawai, dari perilaku sosial, cara berkomunikasi, gestur, ekspresi, aktivitas otot untuk bicara, dan mengganggu intepretasi bahasa karena remaja sampai usia 25 tahun masih maturasi otak. Itu yang akhirnya memengaruhi cara mereka berinteraksi, gampang moody, ke ide bunuh diri.

Apakah burden karena media sosial bisa berujung bunuh diri?
Bisa saja. Ide bunuh diri itu tidak serta-merta harus ada depresi. Harus diwaspadai kalau ide itu sudah muncul, harus dicegah agar tidak berlanjut menjadi percobaan. Percobaan bunuh diri itu harus dibedakan dengan self harm, yaitu menyakiti diri sendiri. Self harm dilakukan pada orang yang impulsif, belum tentu ada gangguan jiwa.

Kenapa mereka yang mengalami depresi tidak berobat?
Kalau yang tidak berobat biasanya, ini bukan data saya, tapi pengalaman, biasanya karena stigma. Dia tidak mau seolah-olah punya gangguan psikologis. Banyak juga yang salah paham mengira menikah dengan orang gangguan jiwa, anaknya pasti punya gangguan jiwa, padahal tidak.

Kedua, tidak paham yang dialami orang dengan gangguan jiwa ada yang bisa menolongnya. Kalau tidak mau ke dokter jiwa, boleh ke psikolog dahulu, konseling, dan sebagainya. Jadi, karena kita tidak nyaman saja. Artinya, butuh pembiasaan. Sekarang sudah luar biasa sekali movement  generasi muda dalam mendorong promosi kesehatan jiwa.

Bagaimana cara melihat seseorang depresi atau tidak?
Ada 3P, pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita melihat orang yang biasanya optimis tiba-tiba pesimis cara berpikirnya. Atau melihat perilaku seseorang berubah, dari rajin menjadi tidak bersemangat atau seseorang yang tiba-tiba menjadi sensitif dan emosional. Kita harus sensitif. Itu gunanya kita peka dengan teman dan sekitar. Kita melihat perubahan yang signifikan. Kalau depresi minimal dua minggu untuk melihatnya. Harus memenuhi kriteria waktu.

Anda menggolkan Undang-Undang (UU) Kesehatan Jiwa. Apakah sekarang di masyarakat sudah terbangun kesadaran merangkul sekitar atau orang lebih individual?
UU Kesehatan Jiwa didorong dari banyaknya pemasungan dan bencana alam, juga melihat perkembangan zaman, modernitas, dan teknologi yang sudah tidak terbendung. Akhirnya, ada empat yang utama, promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Promotif itu upaya meningkatkan kesehatan jiwa dengan cara promosi-promosi yang inovatif dan kreatif agar orang teredukasi dan tidak stigmatis.

Sudah lewat 6 tahun sejak UU disahkan, inisiatif-inisiatif ini muncul di milenial. UU ini perlu dan gerakannya hadir di masyarakat. Mahasiswa sudah mulai bergerak ke arah sana. Sekarang juga sudah banyak organisasi baru tentang kesehatan jiwa yang hadir di Jakarta Mental Health Convention. Ada yang bergerak di bidang rehabilitasi psikososial, buka ruang curhat, dan lainnya. Kemudian, peran keluarga. Dengan cita-cita SDM unggul, UU ini juga telah membuat peran keluarga dipromotif, dari pola asuh, pola komunikasi.

Dikatakan Bappenas, ada masalah karakter bangsa yang seharusnya peran keluarga ditingkatkan. Itu kami sudah mengatur di dalam Pasal 65 ayat 3 UU Kesehatan Jiwa dari 2014, dikatakan menteri menunjuk pusat penelitian pengembangan kesehatan jiwa. Seharusnya sudah ada pusatnya, tetapi nyatanya belum didirikan. Padahal tidak usah repot, buat saja multisenter, menggunakan LSM, yayasan, atau institusi penelitian yang berafiliasi dengan Kementerian Kesehatan sebagai center of excellence. Nanti tinggal dikoordinasi Kementerian Kesehatan untuk menghemat biaya. Jadi, tidak perlu fisik, tapi cukup program. Seharusnya penelitian ini jangan hanya kebetulan berminat saja, tetapi juga harus dikawal. Yang penting memang terobosan penelitian. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More