Minggu 24 November 2019, 05:00 WIB

Konvensi Astina

Ono Sarwono Wartawan Media Indonesia | Weekend
Konvensi Astina

MI/Ebet
Ilustrasi

SATU lagi nilai yang dapat dipetik dari keteladanan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dalam Kongres II Partai NasDem di Jakarta belum lama ini, yaitu kenegarawanannya. Surya menolak permintaan forum kongres yang mencalonkannya sebagai capres dalam pilpres mendatang.

Dengan penuh kesadaran, Surya merasa dirinya tidak pantas dicalonkan sebagai presiden. Ia mengaku sudah tidak muda lagi, dan menurutnya, ada tokoh lain yang lebih pas dan patut dicalonkan sebagai presiden.

Untuk itu, Surya menyatakan partainya akan mencari capres yang terbaik dari yang baik dengan cara menggelar konvensi. Forum ini terbuka untuk semua putra-putri terbaik negeri ini dari mana pun latar belakangnya.

Pandawa boyongan
Dalam kisah wayang, contoh kenegarawanan seperti itu diperlihatkan Puntadewa. Momennya ketika Pandawa mencari pemimpin (raja) setelah berakhirnya Perang Bharatayuda. Puntadewa menolak dicalonkan sebagai raja Astina karena merasa sudah tua dan giliran generasi muda memimpin.

Menurut Puntadewa, Astina ke depan menghadapi tantangan yang lebih berat. Astina harus kian berjaya dan mampu bersaing dengan negara-negara lain. Oleh karena itu, Astina membutuhkan pemimpin muda yang hebat.

Sebelumnya, setelah unggul dalam Perang Bharatayuda atas Kurawa, Pandawa boyongan dari Amarta ke Astina. Mereka kembali ke tanah kelahiran setelah sekian lama terbuang akibat nafsu serakah Kurawa yang menguasai takhta Astina.

Namun, Pandawa memandang kemenangan bukan kegembiraan. Bagaimanapun, Kurawa, yang menjadi musuhnya, merupakan saudara sepupu sendiri. Peperangan antardarah Begawan Abiyasa itu juga telah mengorbankan banyak pepunden. Ribuan rakyat kedua belah pihak pun menjadi tumbal.

Lebih dari itu, semua putra Pandawa juga tewas. Pandawa kehilangan generasi lapis pertama yang digadang-gadang meneruskan kepemimpinan negara. Beruntung Pandawa masih memiliki cucu-cucu, yaitu para keturunan dari putra mereka yang gugur di Kurusetra.

Berdasarkan paugeran (konstitusi) negara, Puntadewa-lah yang paling berhak menjadi raja Astina. Ia sulung Pandawa, putra tertua mendiang Raja Astina Prabu Pandudewanata. Sebelumnya, Puntadewa menjadi raja di Amarta, negara yang ia dirikan bersama-sama saudaranya.

Namun, Puntadewa merasa sudah bukan waktunya lagi untuk terus menjadi pemimpin. Itu sudah masa lalunya. Kini saatnya generasi muda tampil di depan membawa Astina menuju puncaknya sebagai negara adidaya.

Juga berdasarkan aturan negara, bila Puntadewa menolak menjadi raja, hak ahli warisnya seharusnya jatuh ke putranya, Pancawala. Namun, anak tunggalnya itu tewas dibunuh Aswatama, sisa laskar Kurawa, tidak lama setelah Bharatayuda berakhir. Pancawala, yang beristri Pregiwati, dikisahkan tidak memiliki keturunan.

Puntadewa lalu menggunakan deskresinya membuat konvensi untuk memilih pemimpin terbaik sebagai raja Astina. Konvensi itu terbuka bagi semua pemuda dan pemudi Amarta dan Astina serta dari negara-negara lain yang telah berjasa mendukung Pandawa dalam Bharatayuda.

Parikesit terpilih
Sejumlah cucu unggulan Pandawa mengikuti konvensi tersebut. Juga para cucu Kresna, raja Dwarawati yang juga botoh Pandawa. Namun, Kresna berharap keturunannya lebih baik sebagai pendamping pemimpin terpilih. Selain Pandawa dan Kresna, tim penilai konvensi juga beranggotakan Prabu Baladewa, raja Mandura. Baladewa ialah kakak kandung Kresna sekaligus kakak sepupu Pandawa.

Tahap pertama, karena Puntadewa tidak memiliki cucu, tim langsung menilai cucu Werkudara sebagai anak kedua dalam urutan keluarga Pandawa. Namun, menurut Werkudara, cucunya yang boleh dipertimbangkan hanya anaknya Antareja saja yang bernama Danurwenda. Sementara itu, anaknya Gathotkaca, Sasikirana, lebih baik memimpin Pringgondani, negara warisan kakek buyutnya, Prabu Tremboko.

Dari garis Arjuna, ada beberapa cucunya yang diunggulkan. Di antaranya ialah keturunan Abimanyu bernama Parikesit. Kemudian ada Wiratmaka, putranya Wisanggeni, dan Wisangsaka, anaknya Bambang Irawan.   

Adapun Nakula dan Sadewa mengusulkan agar keturunan mereka tidak usah diikutkan dalam konvensi. Mereka meminta izin agar cucu-cucu mereka memimpin Mandaraka saja, negara peninggalan sang kakek. Mandaraka dijadikan negara bawahan Astina seperti halnya Pringgondani.

Setelah meneliti track-record semua calon dan mempertimbangkan dari segala aspek, tim penilai akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Parikesit. Cucu Arjuna ini dinilai memenuhi syarat dan kualifikasi yang dibutuhkan Astina menyongsong masa depan.

Parikesit ialah putra pasangan Abimanyu dengan Dewi Utari, putri Raja Negara Wiratha Prabu Matswapati. Matswapati, yang masa mudanya bernama Durgandana, ialah kakak kandung Durgandini alias Lara Amis, nenek buyut Abimanyu.   

Kresna menjelaskan Parikesit mewarisi semua yang dimiliki kakeknya dan Abimanyu sebagai kesatria terdepan. Meski masih muda belia, Parikesit sudah gentur menggulawentah raga serta gemar menjalani laku prihatin.

Mengenang bapaknya, semasa hidupnya Abimanyu pernah mendapatkan wahyu Cakraningrat, yaitu wahyu kanarendran (raja). Selain itu, Abimanyu alias Angkawijaya juga memiliki Wahyu Widayat atau wahyu kepemimpinan.

Setelah terpilih secara aklamasi, Parikesit dinobatkan sebagai Raja Astina bergelar Prabu Parikesit atau Prabu Paripurna. Ia didampingi dua patih, yakni Danurwenda sebagai patih luar, dan Dwara, putra Samba, sebagai patih dalam.

Dibimbing Curiganata
Karena Parikesit masih kencur dan belum memiliki pengalaman memimpin negara, apalagi sebesar Astina, Baladewa mengajukan diri sebagai paranpara. Baladewa, yang telah menobatkan diri sebagai Begawan Curiganata dan tinggal di Padepokan Talkanda, akan membimbing Parikesit dalam mengelola dan menjalankan roda pemerintahan.

Ketika semuanya sudah tertata dengan baik, Pandawa merasa tugas mereka sebagai kesatria di marcapada telah usai. Mereka kemudian meninggalkan Astina untuk menempuh kehidupan babak baru yang hakiki. Mereka lelana brata (laku prihatin) mencari memanise pati, yakni berharap meninggalkan dunia fana ini dengan husnul khatimah.

Makna kisah ini ialah dalam mencari pemimpin, Pandawa mengutamakan yang terbaik dari yang baik, bukan yang paling berhak. Ini persis seperti yang akan dilakukan Partai NasDem lewat konvensi mendatang, yakni yang terbaiklah yang mesti memimpin negeri ini, siapa pun dia. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More