Sabtu 23 November 2019, 18:46 WIB

Nadiem Makarim Perjuangkan Kemerdekaan Belajar

Henri Siagian | Humaniora
Nadiem Makarim Perjuangkan Kemerdekaan Belajar

MI/Susanto
Mendikbud Nadiem Makarim

 

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim berjanji akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia.

"Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia," ujar Nadiem dalam pidato Hari Guru Nasional 2019 yang diunggah di Twitter @kemendikbud, Jumat (22/11).

Namun, sambung dia, perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. "Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama."

Sehingga, dia meminta para guru untuk melakukan perubahan kecil, seperti, ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar, berikan kesempatan murid untuk mengajar di kelas, cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas, temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri, dan tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan.

"Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak," kata dia.

Nadiem menuturkan, biasanya tradisi Hari Guru dipenuhi oleh kata-kata inspiratif dan retorik. "Mohon maaf, tetapi hari ini pidato saya agak sedikit berbeda. Saya ingin berbicara apa adanya, dengan hati yang tulus kepada semua guru di Indonesia."

Baca juga: Perbaiki Kualitas Guru

Dia mengatakan, tugas guru adalah yang termulia sekaligus yang tersulit karena guru ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingan dengan pertolongan.

Para guru, lanjut dia, ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktunya habis untuk mengerjakan tugas adminstratif tanpa manfaat yang jelas.

"Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan," papar dia.

Guru, imbuh dia, ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan.

"Anda frustasi karena tahu di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal. Anda tahu setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi. Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi," ujarnya. (X-15)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More