Sabtu 23 November 2019, 11:47 WIB

Kasus Fraud Klaim Asuransi Kian Meresahkan

mediaindonesia.com | Ekonomi
Kasus Fraud Klaim Asuransi Kian Meresahkan

MI/Eni Kartinah
Pengamat asuransi, Irvan Rahardjo.

 

INDUSTRI di Indonesia tengah dihadapkan dengan beberapa kasus kecurangan klaim asuransi oleh nasabah yang berujung di meja hijau.

Dengan dalih menjadi nasabah dengan nilai asuransi yang berjumlah besar, nasabah kemudian berpura-pura atau mengkondisikan dirinya sakit dengan tujuan mendapatkan klaim asuransi yang besar.

Demi tujuan itu, praktik-praktik ilegal pun ditempuh dengan mengajukan bukti-bukti yang tidak sah.

Menanggapi persoalan itu, pengamat asuransi, Irvan Rahardjo, kepada awak media mengatakan kondisi seperti itu dapat menimbulkan kegamangan di industri asuransi.  

Seperti pada sebuah kasus yang ramai diberitakan media massa tentang pemalsuan dokumen klaim asuransi yang menjerat seorang advokat Alvin Lim (AL) dengan tuduhan memfasilitasi pembuatan identitas palsu dua nasabah dengan menggunakan alamat rumahnya.  

"Dalam praktiknya bisa terjadi hal seperti ini, bahwa ada perilaku menyimpang dari individu, semisal nasabah dan advokat bekerja sama atau bahkan dengan orang dalam," kata Irvan di Jakarta, Sabtu (23/11) .

"Karenanya, perusahaan asuransi harus lebih jeli dan teliti melihat karakter calon tertanggung. Indikasinya, semisal ada seseorang dengan secara tiba-tiba ingin mengasuransikan dalam jumlah besar namun anehnya tidak sebanding dengan jumlah penghasilan dia," ujarnya. 

Menurut Irvan, kecurangan tertebut juga bisa terjadi dengan klaim ganda (double claim).  

Lebih mendalam, mantan Komisaris Independen AJB Bumiputera 1912 itu mengatakan pihak asuransi harus betul-betul mencermati karakter nasabahnya mulai dari kehidupannya, perilaku kreditnya, hingga ke status BI Check yang bersangkutan.

"Modus lainnya yang perlu di awasi adalah jika sewaktu-waktu ada perubahan nilai stok yang semula normal tiba-tiba melonjak tinggi," lanjutnya.

Irvan juga menyayangkan jika permasalahan klaim asuransi membuat perusahaan asuransi digiring ke ranah hukum pindana, yang seharusnya berstatus perdata.

"Ini bisa menimbulkan ketakutan atau kegamangan terutama bagi eksekutif asuransi di Indonesia. Karena dalam kasus ini perusahaan asuransi dipidanakan, yang kemudian ternyata diduga pengacara dan nasabahnya pun juga melakukan fraud kan? Jadi ini di satu sisi bisa menimbulkan kegamangan perusahaan asuransi untuk menjamin nasabah karena dipidanakan, yang seharusnya bersifat perdata," terangnya.

Fraud asuransi seperti kasus pemalsuan dokumen klaim asuransi advokat dan nasabahnya itu menjadi satu dari sekian banyak kejahatan asuransi di Indonesia dan juga negara lain.  "Di negara lain juga terjadi, tidak cuma di Indonesia," kata Irvan.

Grafiknya kemungkinan merangkak naik seiring berkembangnya industri asuransi di Indonesia. Irvan melanjutkan, terlebih lagi di industri asuransi umum atau asuransi jiwa yang seringkali mengalami kecurangan baik dari perorangan maupun sekelompok orang atau bekerjasama  dengan pihak rumah sakit atau semacamnya.

Seperti yang pernah dipaparkan ke publik, bahwa Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mendapati kasus kecurangan asuransi mengakibatkan industri asuransi merugi miliaran rupiah sepanjang tahun 2018. Jika ini tidak ditangani secara serius oleh pemerintah dan pihak terkait, akan berimbas kepada iklim investasi di bisnis ini.(OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More