Jumat 22 November 2019, 22:03 WIB

Para Staf Khusus Presiden Jokowi

Para Staf Khusus Presiden Jokowi

Antara
Presiden Joko Widodo dan staf khusus.

 

Presiden RI Joko Widodo menunjuk tujuh anak muda sebagai staf khususnya pada Kamis (21/11). Selain itu, sejumlah wajah lama juga kembali ditunjuk menjadi staf khususnya.

1. Anak Agung Gede Ngurah (AAGN) Ari Dwipayana.

Anak Agung Gede Ngurah (AAGN) Ari Dwipayana. (Antara)

Anak Agung Gede Ngurah (AAGN) Ari Dwipayana selama lima tahun ke belakang dikenal sebagai Tim Komunikasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama sejawatnya, Sukardi Rinakit, dan banyak menghabiskan peran di belakang layar dalam aktivitas kepresidenan.

Ari Dwipayana diangkat menjadi staf khusus bidang politik dan pemerintahan pada 4 September 2015. Selain dikenal sebagai pengamat politik, Ari menyelesaikan studi S1 di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) pada 1995. Pada 2003, Ari memperoleh gelar Master Ilmu Politik di Program S2 Ilmu Politik Universitas Gajah Mada.

Ari juga dikenal dekat dengan sejumlah tokoh PDIP karena disertasinya mengulas tentang partai tersebut dengan judul "Runtuhnya Pembiayaan Gotong-Royong: Studi tentang Pembiayaan PDIP 1993-2009."

Ari pernah menjadi peneliti di Institute for Research Empowerment Yogyakarta dan dan Sekretaris Yayasan Interfidie Yogyakarta. Pada Januari 2003, Ari mendirikan Yayasan Uluangkep, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam penelitian dan pemberdayaan desa adat di Bali. Kemudian pada 2011, Ari diminta menjadi Ketua Yayasan Tat Twam Asi, Yogyakarta.

Ia juga dikenal aktif menulis buku, buku yang pernah diterbitkan antara lain, Kelas dan Kasta: Pergulatan Kelas Menengah di Bali, Bangsawan dan Kuasa: Kembalinya Para Ningrat di Dua Kota, Globalism: Pergulatan Politik Respresentasi atas Balik, Cost of Democracy di Tiga Kabupaten, Demokrasi Lokal: Peran Aktor dalam Demokratisasi, dan Pluarlisme Kewarganegaraan: Arah Baru Politik Keragaman di Indonesia.

Kini, di periode kedua Pemerintahan Jokowi, pria berdarah Bali itu kembali dipanggil Presiden dengan penugasan khusus sebagai Koordinator Staf Khusus Presiden.    

Meski itu berarti rutinitasnya akan sama dengan lima tahun sebelumnya yang banyak dihabiskan di lingkungan Istana namun ada banyak hal baru yang dihadapinya kini.

"Sekarang tanggung jawab saya bertambah dengan tugas tambahan sebagai Koordinator Staf Khusus Presiden. Itu yang beda dengan sebelumnya, mulai saat ini punya tanggung jawab untuk mengkoordinasi staf khusus-staf khusus Presiden, pembantu Presiden," kata dia.

Staf Khusus Presiden, lanjut dia, tidak ada pembidangan. "Intinya, staf khusus ya menjalankan tugas-tugas khusus yang diberikan Presiden, sebuah tugas dengan sifat kekhususan yang membedakan dengan staf Presiden yang karena ada kekhususan itu."

Yang pasti, dia mengaku mendapatkan tugas baru mengoordinasi gugus muda, teman-teman milenial yang sudah akan mulai bekerja. "Mereka akan menjadi teman Presiden untuk berdiskusi dengan gagasan baru yang segar, inovatif, dan penuh terobosan. Saya mendapatkan tugas untuk mengkoordinasi mereka. Ada tujuh staf khusus, ditambah yang sudah ada sebelumnya dan nanti ditambah staf khusus lain sehingga perlu ada koordinasi yang baik."

2. Sukardi Rinakit.

Sukardi Rinakit. (Antara)

Presiden RI Joko Widodo masih memberikan kepercayaan kepada figur Sukardi Rinakit, pengamat politik dan penulis, untuk menjadi salah satu staf khususnya pada periode kedua pemerintahannya.    

Pria kelahiran Madiun, 5 Juni 1963, itu masih dipercaya oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai staf khusus di bidang politik.

Sukardi atau yang kerap disapa Cak Kardi merupakan figur intelektual yang memiliki kapasitas dan jam terbang tinggi dalam urusan politik.    

Sukardi menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Indonesia Jurusan Kriminologi. Dia melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan gelar master di National University of Singapore, Departement of Southeast Asian Studies, Singapura.    

Sukardi pernah bekerja sebagai seorang staf peneliti di lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS), serta pernah menjabat Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate.        

Nama Sukardi kian melambung karena dikenal sebagai pengamat politik yang kritis dan membangun dalam menyampaikan kritik.    

Masuknya Sukardi ke dalam lingkaran Istana, diawali kontribusinya sebagai pendukung atau sukarelawan Jokowi pada Pilpres 2014. Sukardi tercatat menjadi penasihat politik Jokowi kala itu.    

Selepas pilpres, Sukardi memperoleh tawaran menjadi komisaris untuk salah satu bank BUMN. Namun, dia menolaknya.    

Penolakan jabatan di salah satu bank BUMN membuat Sukardi memperoleh apresiasi dari sejumlah aktivis. Sukardi dipandang sebagai sukarelawan yang tidak pamrih dan tetap ingin menjaga jarak dengan kekuasaan.    

Namun, pada akhirnya, Sukardi menerima tugas berupa amanah sebagai seorang staf khusus kepresidenan bidang politik dan pers. Kala itu Sukardi mendapat tugas salah satunya menyusun pidato Presiden.

3. Adamas Belva Syah Devara

CEO Ruangguru Adamas Belva Syah Devara. (Antara)

CEO Ruangguru Adamas Belva Syah Devara menjadi salah satu dari tujuh figur milenial yang dikenalkan Presiden Joko Widodo untuk membantu tugas presiden sebagai staf khusus.

Pria kelahiran 29 tahun silam itu menjadi milenial pertama yang diperkenalkan Presiden Joko Widodo pada sore Kamis, 21 November 2019.

Belva masuk ke Forbes 30 di umur di bawah 30 tahun serta mendapatkan medali emas dari Lee Kuan Yu saat lulus sarjana di NTU (Nanyang Technology University) di Singapura.     

Belva lahir dari keluarga biasa, dari pasangan Tri Harsono dan Murni Hercahyani yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil. Lulus dari SD Tunas Jaka Sampurna, Belva kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertama Al Azhar 4 dan Sekolah Menengah Atas Presiden, ia menyelesaikan studi dengan beasiswa penuh karena prestasinya. Kemudian Belva melanjutkan pendidikannya sebagai mahasiswa Double Degree Business and Computer Science Nanyang Technological University (NTU Singapura).

Setelah menyelesaikan sarjananya di NTU, ia kemudian melanjutkan pendidikan magisternya di dua universitas elite dunia, Standford University dan Harvard University.     

Berangkat dari pengalamannya selama menempuh pendidikan, Belva memandang tiket bagi seorang anak untuk naik kelas sosial dan pendidikan bukan sebuah hak eksklusif.

Adamas Belva Syah Devara dan sahabatnya, Iman Usman, lantas melahirkan satu inovasi dan menjadi sebuah solusi dalam bidang pendidikan, yakni berupa platform belajar dalam jaringan (online), mereka memberi nama platform tersebut sebagai Ruangguru.

"Semakin saya bergelut di Ruangguru, semakin saya jatuh cinta dengan isu-isu pendidikan dan teknologi," tutur Belva.

Sebagai penggagas Ruangguru, Belva berharap para siswa di Indonesia bisa mengakses konten pendidikan yang berkualitas di manapun mereka berada tanpa ada rintangan yang selama ini menjadi persoalan, yaitu status ekonomi siswa.

"Sejak itu, misi saya selalu sama. Bagaimana caranya teknologi bisa dimanfaatkan untuk memajukan bidang pendidikan dan memaksa perubahan adopsi teknologi itu terjadi untuk kebaikan pendidikan di Indonesia. Kalau enggak ada teknologi, enggak ada revolusi pendidikan," ucapnya.

Kini, Ruangguru yang didirikanya bersama Iman di 2104 sudah memiliki lebih dari 15 juta pengguna terdaftar.

Ruangguru saat ini memiliki 4.000 pegawai dan memberikan akses kepada lebih dari 300.000 guru privat. Ruangguru juga telah dipercaya oleh 32 dari 34 pemerintah provinsi dan lebih dari 326 pemerintah kota  dan kabupaten di Indonesia.     

Sesai ditunjuk Presiden menjadi staf khusus, Belva langsung menyatakan siap menjawab kepercayaan presiden dengan memberikan yang terbaik. "Saya berkomitmen untuk dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya." ucap Belva.

Belva Devara tetap akan menjabat dan menjalankan tugas sehari-harinya sebagai Direktur Utama di Ruangguru walau sudah resmi ditunjuk sebagai Staf Khusus Presiden Republik Indonesia.

"Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Presiden, saya diharapkan untuk terus berkarya di posisi saya saat ini sebagai direktur utama Ruangguru, tidak tercabut dari akar saya di sektor teknologi," kata dia.

Dengan tetap menakhodai Ruangguru dia diharapkan dapat terus memberikan masukan inovasi baru yang relevan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

4. Aminuddin Ma'ruf

Aminuddin Ma'ruf. (Antara)

Lahir pada 27 Juli 1986 di Desa Tanahbaru Kecamatan Pakisjaya Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Aminuddin Ma'ruf dibesarkan dari keluarga petani. Sejak kecil, ia sudah merasakan kehidupan dengan beragam keterbatasan.    

Betapa tidak, aliran listrik saja baru ia nikmati saat berada di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas tiga.

Selama aliran listrik belum masuk ke Desa Tanahbaru, masyarakat setempat hanya mengandalkan lampu togok damar atau warga lokal menyebutnya lampu ontel.

Berada di tengah berbagai keterbatasan, ternyata tidak membuat anak bungsu dari tujuh bersaudara tersebut surut untuk mencapai cita-citanya.

Meskipun lahir dari latar belakang keluarga petani, Aminuddin kecil terbilang cukup jarang bersentuhan dengan lingkungan sawah. Sebab, orangtuanya yang justru melarang untuk ikut bekerja secara langsung.        

Tetapi, ia tetap memilih ikut terlibat untuk membantu orangtuanya saat musim panen padi. "Waktu saya masih kecil dan ingin merasakan panen, namun pada saat ngarit, jari saya terluka terkena sabetan," kata pria berusia 33 tahun yang pernah menjabat Sekretaris Jenderal Solidaritas ulama muda Jokowi (Samawi) saat ditemui di ruang kerjanya di Jakarta, Jumat (22/11).    

Kini, pria yang lahir dari latar belakang keluarga petani itu malah ditunjuk dan dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai staf khusus presiden pada Kamis
(21/11).

Secara pribadi, Aminuddin mengaku kaget ditunjuk Jokowi sebagai staf khusus. "Tidak ada sama sekali dalam pikiran saya tebersit nanti akan menjadi staf khusus presiden," lanjutnya.

Sebagai staf khusus Presiden, Aminuddin memiliki tugas khusus yaitu berkomunikasi dan berhubungan dengan kelompok-kelompok strategis. Amanah yang diberikan negara itu nantinya bersinggungan langsung dengan mahasiswa se-nusantara termasuk para santri di Tanah Air.    

Ia mengatakan persoalan para pemuda saat ini cukup kompleks, apalagi di era teknologi dan informasi yang semakin maju di mana semua masyarakat dapat mengakses beragam informasi.

Namun, jika tidak berhati-hati maka ini dapat menimbulkan masalah.Untuk mewujudkan dan menunaikan tanggung jawab yang diberikan negara, strategi jemput bola merupakan salah satu langkah yang akan dilakukannya karena Presiden Jokowi menginginkan semua masalah dapat diatasi sesegera mungkin dengan melihat langsung ke lapangan.    

"Saya juga akan menyapa teman-teman mahasiswa di kampus dan santri di pondok pesantren," kata dia.    

Salah satu mimpi yang ingin diwujudkannya ialah agar teman-teman mahasiswa maupun santri tidak merasa inferior dari kelompok lain. Sebab, setiap generasi dan masyarakat secara umum memiliki kesempatan yang sama.   

Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode 2014 hingga 2016 tersebut berpesan sebagai anak desa dan seorang santri, masyarakat tidak boleh lupa dan patut bangga dalam menjadi bagian dari masa depan Indonesia.   

5. Angkie Yudistia

Angkie Yudistia. (Antara)

Angkie Yudistia, 32, penyandang disabilitas tunarungu yang aktif bergerak di sociopreneur telah ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi Juru Bicara Presiden bidang sosial.

Angkie lahir di Medan pada 5 Mei 1987. Dia awalnya terlahir dengan kondisi normal. Pendengarannya mulai menghilang saat perempuan berhijab itu menginjak usia 10 tahun. Diduga hal tersebut terjadi tak lepas dari penggunaan obat-obatan saat dia terserang beberapa penyakit, termasuk malaria.     

Angkie menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di SMAN 2 Bogor. Kemudian putri pasangan Hadi Sanjoto dan Indiarty Kaharman ini melanjutkan pendidikan dengan berkuliah di fakultas komunikasi di London School of Public Relations Jakarta. Di kampus ini pula perempuan yang dikenal gemar menulis tersebut meraih gelar masternya pada 2010.

Pada 2008, perempuan yang menjalani aktivitas dengan menggunakan alat bantu pendengaran itu mengikuti ajang Abang None Jakarta dan berhasil terpilih sebagai salah satu finalis dari daerah pemilihan Jakarta Barat.

Masih di tahun yang sama, dia juga sukses menyabet penghargaan sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008.

Pada 2011, dia menelurkan sebuah buku berjudul "Perempuan Tunarungu Menembus Batas." Buku keduanya yang berjudul "Setinggi Langit" terbit di pasaran selang dua tahun kemudian.

Angkie pernah bekerja di beberapa perusahaan besar seperti IBM Indonesia dan Geo Link Nusantara, hingga akhirnya perempuan yang aktif berkegiatan di Yayasan Tunarungu Sehjira sejak 2009 itu memutuskan mendirikan Thisable Enterprise pada 2011.

Thisable Enterprise kini telah berkembang menjadi sebuah grup yang membawahi Thisable foundation, Thisable Recruitment, serta Thisable Digital. Melalui perusahaan-perusahaan tersebut, Angkie menyediakan pelatihan bagi SDM disabilitas agar dapat bekerja secara vokasional dan profesional.

Pada 2017, perusahaan tersebut menggandeng Go-Jek sebagai mitra bisnis, di mana para penyandang disabilitas di bawah naungan Thisable Enterprise disalurkan untuk menjadi tenaga pekerja pada sejumlah layanan Go-Jek, seperti Go-Massage, Go-Clean, Go-auto, maupun Go-Glam, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing disabilitas.

Thisable Enterprise juga diketahui mengeluarkan sejumlah produk retail, khususnya di bidang perawatan tubuh, seperti sabun dan kosmetik kecantikan.

Perempuan yang pada 2019 berhasil memperoleh penghargaan Asia's Top Outstanding Women Marketeer of The Year dari Asia Marketing Federation

Pada 2019, Angkie meluncurkan buku ketiganya berjudul "Become Rich as Sociopreneur". 

6. Billy Mambrasar

Gracia Billy Yosaphat Y Mambrasar. (Antara)

Gracia Billy Yosaphat Y Mambrasar atau Billy Mambrasar, pemuda asal Serui, Kepulauan Yapen, Papua, 31, telah ditunjuk menjadi staf khusus Presiden Joko Widodo.

Billy  menempuh pendidikan di Universitas Oxford Inggris. Ia merupakan pendiri Yayasan Kitong Bisa, yakni yayasan yang fokus mengurusi pendidikan anak-anak di Papua. Yayasan itu didirikannya pada 2009.    

Melalui Kitong Bisa, Billy memberikan akses pendidikan untuk anak-anak tidak mampu, khususnya di Papua dan Papua Barat. Sejumlah pelatihan keterampilan juga diselenggarakan.        

Billy sendiri mengaku tak pernah mengira bisa menjadi staf khusus presiden. Ia dipanggil kembali ke Tanah Air dua hari lalu, saat berada di London, Inggris. Padahal saat itu, ia baru saja mendarat di London untuk mengisi sejumlah acara di negara itu.   

"Saya sempat mengira bahwa itu prank, ternyata benar. Negara memanggilku untuk kembali," tulis Billy dalam akun Instagramnya.    

Sebelumnya, namanya sempat disebut-sebut menjadi calon menteri maupun wakil menteri menjelang pengumuman menteri kabinet Indonesia Maju, sebulan yang lalu.    

Setelah ditunjuk menjadi staf khusus, Billy berkomitmen untuk membangun Indonesia dari Papua, bukan membangun Papua dari Indonesia.    

"Kami berkomitmen membantu Pak Presiden dan pemerintah untuk tidak bekerja layaknya rutinitas. Kami mencoba memunculkan nilai kekinian dan teknologi yang berbeda untuk membuat sistem pemerintahan yang lebih efektif dan efisien," terang Billy.    

Billy berasal dari keluarga yang jauh berkecukupan. Ayahnya seorang guru honorer dan ibunya berjualan kue untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Rumahnya pun belum diterangi listrik sehingga Billy harus belajar menggunakan pelita dan lampu minyak.    

"Subuh, ibu bikin kue, paginya ibu pergi ke pasar jualan, kami ke sekolah sambil bawa kue untuk dijual," ujar Billy.    

Sebagai penjual kue, ia memiliki semangat pantang menyerah dalam menjual dagangannya. Pasalnya, jika kue tersebut tidak habis maka tidak bisa dijual kembali keesokan harinya. Sisa kue jualan itu, dimakannya bersama saudaranya ketimbang basi.        

Saat ini, ia dalam proses penyelesaian tesis studi gelar Magister (MSc) dalam bidang bisnis di Universitas Oxford, Inggris. Gelar tersebut merupakan gelar keduanya, setelah menyelesaikan studi di Australian National University (ANU) dengan beasiswa dari Pemerintah Australia dan menjadi mahasiswa terbaik pada 2015.

Sebelum ditunjuk menjadi staf khusus, Billy rencananya akan melanjutkan pendidikan doktoralnya dengan Beasiswa Afirmasi dari LPDP di Universitas Harvard, Amerika Serikat, dalam bidang pembangunan manusia.    

Gelar sarjana diraihnya dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB.

Selesai kuliah sarjana, Billy mendapatkan pekerjaan di perusahaan minyak dan gas asal Inggris. Ia mendapatkan gaji fantastis di perusahaan itu.    

Namun hatinya gelisah, melihat di sekelilingnya masih banyak anak-anak Papua yang kurang beruntung. Setahun bekerja, ia kemudian mengundurkan diri agar bisa fokus mendirikan Yayasan Kitong Bisa.    

Kitong Bisa mempunyai arti "kita bisa", dengan kata lain semua anak-anak Papua bisa meraih pendidikan meski berasal dari keluarga miskin.    

Saat ini, Kitong Bisa melalui usaha sosialnya, mengoperasikan sembilan pusat belajar, dengan 158 relawan dan 1.100 anak. Sekitar 20 di antara anak didiknya menempuh ilmu di sejumlah perguruan tinggi ternama dunia. Lainnya ada yang menjadi pengusaha dan juga bekerja di sejumlah perusahaan.    

"Saya melihat kompleksitas pendidikan dan juga akses pendidikan masih menjadi kendala di Papua, oleh karenanya kami fokus dalam pembangunan SDM. Hal ini sesuai juga dengan komitmen Presiden Jokowi dalam membangun SDM," terang dia.    

Billy juga pernah diundang untuk magang oleh Pemerintah Amerika Serikat dan berbicara di State Department Amerika Serikat. Dalam kunjungan ke Gedung Putih, ia juga bertemu dengan Presiden Barack Obama.    

Pada 2017, ia ditunjuk sebagai utusan Indonesia yang berbicara tentang isu pendidikan di Kantor Pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat.   

Saat ini, ia juga menjabat sebagai duta muda pembangunan berkelanjutan atau SDG's asal Indonesia.   

7. Putri Indahsari Tanjung

Putri Indahsari Tanjung. (Antara)

Putri Indahsari, 23, adalah anak sulung konglomerat media Chairul Tanjung kelahiran Jakarta, 22 September 1996.

Sarjana Academy of Arts di San Fransisco itu memulai bisnis kreator event dengan bendera El Paradiso saat berusia 15 tahun. Sebelum berubah nama kemudian menjadi Creativepreneur.

Naluri berbisnis Putri mirip dengan yang dilakukan ayahnya Chairul Tanjung, pendiri CT-Corp dan sejumlah usaha waralaba besar di Indonesia.

"Aku mulai usia yang sangat muda. Aku mulai dari 15 tahun, sudah mulai bikin EO dan segala macam. Nah, bagaimana biar semangat aku enggak pernah surut, menurut aku yang pertama adalah pegangan," ujar Putri.    

Saat masih berkuliah, Putri sering pergi pulang Jakarta-San Francisco karena dia masih aktif mengadakan berbagai event meski tengah sibuk kuliah.

Pada usianya ke-17 tahun, dia masih kerap mendapat penolakan saat mempresentasikan proposal acara besarnya. Menurut Putri Tanjung, jika mendapat segala sesuatu serbagampang, tak bisa mengetahui potensi diri dan tak bisa bangga dengan diri sendiri.

Baca juga: Kejaksaan dan Bos First Travel Satu Suara Kembalikan Aset Korban

Pada usia 20 tahun, dia kemudian terlibat dalam bisnis dan proyek-proyek di industri kreatif yang melibatkan anak muda Indonesia.    

Putri Tanjung dikenal sebagai inisiator gerakan Muda Bergerak, sebuah proyek yang dibuat bersama teman-temannya. Gerakan itu bertujuan mendorong semangat generasi muda sebagai inspirasi generasi bangsa untuk berkontribusi pada lingkungan sekitar.    

Putri juga menyebut dirinya sebagai Chief Business Officer dari Kreavi, platform kreatif yang mewadahi 55 ribu creative creators.   

Perempuan yang menempuh pendidikan di San Fransisco, Amerika Serikat ini juga dikenal sebagai sosok di balik film pendek Kinetik.

Putri juga aktif menjadi pembicara di sejumlah acara yang bertemakan anak muda dan kewirausahaan.  (X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More