Jumat 22 November 2019, 23:40 WIB

Simulasi untuk Antisipasi Bencana

Kristiadi | Nusantara
Simulasi untuk Antisipasi Bencana

MI/Kristiadi
Juliari Peter Batubara memberikan bantuan Pencanangan Kawasan Siaga Bencana logistik senilai Rp2,3 miliar.

 

MENTERI Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara meminta semua pihak lebih giat dan rutin melakukan simulasi penanggulangan bencana agar masyarakat siap dan bisa mengantisipasi saat terjadi bencana.

“Negara kita sangat rawan bencana. Karena itu, simulasi, drill, dan lainnya harus lebih sering dilakukan,” kata Mensos Juliari pada pencanangan kawasan siaga bencana di lapangan Alun-Alun Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, kemarin.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), di sepanjang 2018 terjadi 2.572 kali bencana, antara lain gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB), gempa disusul tsunami di Sulawesi Tengah, serta tsunami Selat Sunda di Banten dan Lampung.

Bencana yang terjadi pada sepanjang tahun lalu itu mengakibatkan 4.814 orang meninggal dunia dan 10,2 juta orang mengungsi. Selain itu, bencana merusak 320.000 rumah dan 1.999 fasilitas umum.

Tahun ini, lanjutnya, rangkaian bencana masih terus terjadi, di antaranya banjir di Bengkulu dan Sulawesi Tenggara; gempa di Banten, Maluku, dan Maluku Utara; serta banjir bandang di Papua. Oleh karena itu, menurut Mensos, edukasi kebencanaan harus disampaikan secara masif kepada warga.

Salah satu upaya mitigasi bencana oleh Kemensos untuk mengurangi risiko bencana berbasis masyarakat ialah dengan membentuk Kampung Siaga Bencana sejak 2010. Juliari menyebut Kampung Siaga Bencana telah terbentuk di 741 lokasi di seluruh Indonesia dengan melibatkan 185.250 warga.

Jumlah itu termasuk 17 lokasi kawasan siaga bencana yang melibatkan 4.250 orang di Kabupaten Pandeglang, Lampung Selatan, Cilacap, Kebumen, dan Pangandaran. Kegiatan yang dilakukan antara lain penyuluhan, pelatihan, dan simulasi mengantisipasi bencana.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga, Jawa Tengah, Umar Fauzi, mengatakan, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan diperkirakan pada Januari-Februari 2020. Meski demikian, pada November ini juga perlu diantisipasi terjadinya cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan deras dan angin puting beliung.

Menurutnya, curah hujan tinggi dapat memicu pergerakan tanah dan longsor. “Pada awal musim hujan saja di Purba-lingga 52 rumah rusak akibat terjangan angin dan pohon tumbang. Rumah-rumah yang rusak berada di beberapa kecamatan, yakni Kecamatan Kutasari, Bojongsari, Kalimanah, Mrebet, dan Karanganyar,” ujarnya.

BPBD Purbalingga telah menggelar rapat koordinasi kesiapsiagaan menghadapi musim hujan guna meningkatkan kemampuan mandiri dan sanggup beradaptasi, juga dalam menghadapi potensi ancaman bencana, terutama banjir,  angin puting beliung, dan ­tanah longsor. “Masyarakat harus sadar atas risiko bencana, menjadi warga yang tangguh bencana,” imbuhnya.

Belum merata

Meski hujan telah mengguyur Tanah Air, sejumlah wilayah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, masih dilanda krisis air akibat curah hujan belum merata. Permintaan distribusi air bersih oleh masyarakat terus berdatangan ke ­Perumdam Tirta Mukti.

“Yang terbaru permintaan dari masyarakat di Kampung Barulega, Desa Cirumput, Kecamatan Cugenang. Pada Kamis (21/11) kami mengirimkan tiga tangki air bersih,” kata Dirut Perumdam Tirta Mukti, Budi Karyawan. (LD/BB/N-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More