Jumat 22 November 2019, 07:20 WIB

Angkie Yudistia The One and Only

Rifaldi Putra | Humaniora
Angkie Yudistia The One and Only

MI/Tosiani
FOUNDER dan CEO Thisable Enterprise, Angkie Yudistia

 

TAICHING: Mempunyai kebutuhan khusus tak lantas membuatnya tidak percaya diri. Angkie tetap berkarya dan menyuarakan harapan para penyandang disabilitas agar dianggap setara, bukan minoritas.

FOUNDER dan CEO Thisable Enterprise, Angkie Yudistia, 32, mengaku bangga ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai staf khusus Presiden sekaligus juru bicara Presiden bidang sosial.

"Angkie Yudistia adalah anak muda penyandang disabilitas yang aktif bergerak di sociopreneur," kata Presiden Jokowi ketika mengumumkan dan mengenalkan tujuh staf khusus Presiden yang baru di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (21/11).

"Perkenalkan, nama saya Angkie," ucap Angkie menggerakkan tangan kanan membentuk bahasa isyarat namanya.

"The one and only woman with disability, perempuan berkebutuhan khusus di tengah-tengah diberikan kesempatan terbaik oleh Bapak Presiden berdiri di sini menyuarakan 21 juta jiwa disabilitas di seluruh Indonesia," sambung perempuan kelahiran 5 Juni 1987.

Selain bangga, Angkie mengungkapkan rasa terima kasih diberi kesempatan terbaik oleh Presiden Jokowi untuk menyuarakan atau mewakili jutaan jiwa penyandang disabilitas di seluruh Indonesia. "Sudah waktunya disabilitas bukan kelompok minoritas, melainkan kita dianggap setara," tuturnya. Ia juga berharap ke depan Indonesia akan lebih ramah terhadap penyandang disabilitas.

Angkie merupakan satu dari tujuh staf khusus Presiden yang diumumkan Presiden Jokowi pada Kamis ini. Tujuh staf khusus Presiden itu semuanya dari kaum milenial.

Enam safsus lainnya ialah Aminuddin Ma'ruf (33 tahun, mantan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia/PMII) periode 2014-2017, Adamas Belva Syah Devara (29 tahun, pendiri Ruang Guru), Ayu Kartika Dewi (36 tahun, perumus Pergerakan Sabang Merauke).

Selain itu, Putri Indahsari Tanjung (23 tahun, CEO dan Founder Creativepreneur), Andi Taufan Garuda Putra (32 tahun, CEO Amarta) dan Gracia Billy Mambrasar (31 tahun, pemuda asal Papua yang mendapatkan beasiswa di Universitas Oxford).

Misi sosial

Angkie mendirikan Thisable Enterprise bersama rekannya pada 2011. Yayasan ini mempunya misi sosial, khususnya membantu orang yang memiliki keterbatasan fisik alias difabeel (different ability people). Tak hanya menyalurkan penyandang disabilitas ke dalam dunia kerja, yayasan ini juga memberikan pelatihan kepada penyandang disabilitas agar bisa diterima bekerja di berbagai perusahaan.

Angie yang kehilangan pendengaran sejak usia 10 tahun mengungkapkan, memiliki kekurangan membuat ia mulanya mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan. Padahal, ia mempunyai gelar Master Komunikasi dari London School Public Relations.

Akhirnya, ia mendapat pekerjaan di perusahaan swasta. "Aku juga pernah bekerja di bidang oil and gas. Aku melihat bahwa teman-teman disabilitas ini kok banyak ya yang jadi pengangguran? Mereka spirit untuk bekerjanya ada, tetapi apa yang kurang? Oh ternyata, gapnya memang terlalu tinggi. Akhirnya oke aku pikir aku harus membangun sesuatu nih," imbuhnya.

"Thisable Enterprise juga menyediakan learning center bagi mitra disabilitas agar mereka mampu bekerja sehingga skill yang dimiliki sesuai dengan demand yang ada," terangnya. Angkie menambahkan, keberadaan yayasan ini juga bertujuan agar mitra disabilitas tidak diperlakukan semena-mena dan dilindungi secara hukum di tempat mereka bekerja. Ia pun bekerja sama dengan Gojek Indonesia untuk mempekerjakan orang-orang dengan disabilitas di Go-Auto dan Go-Glam. (Ant/H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More