Kamis 21 November 2019, 21:49 WIB

Abu Sayyaf Tawan 3 Nelayan Indonesia, Minta Tebusan Rp8,3 Miliar

Melalusa Sushtira Khalida | Internasional
Abu Sayyaf Tawan 3 Nelayan Indonesia, Minta Tebusan Rp8,3 Miliar

Mi
Ilustrasi penyanderaaan

 

ORANG-orang bersenjata yang diduga kelompok militan Abu Sayyaf meminta tebusan hingga Rp8,3 miliar untuk pembebasan tiga nelayan Indonesia yang disandera sejak dua bulan lalu.

Permintaan tebusan tersebut disampaikan oleh salah satu korban melalui pesan video yang diunggah di jejaring media sosial Facebook pada Sabtu (16/11) lalu.

Tiga nelayan Indonesia yang disandera tersebut diidentifikasi bernama Maharudin Lunani (48), putranya Muhammad Farhan (27), dan kru kapal Samiun Maneu (27).

Seperti dilansir surat kabar Malaysia, The Star, ketiga nelayan tersebut diculik oleh orang-orang bersenjata saat sedang berada di atas kapal pukat nelayan yang terdaftar di Sandakan, perairan Tambisan, Malaysia.

Dalam pesan video berdurasi 43 detik tersebut, Samiun menyebut diri mereka sebagai orang Indonesia dan bekerja di Malaysia.

Baca juga : Disandera Abu Sayyaf, Warga Belanda Tewas di Filipina

"Kami ditangkap oleh Kelompok Abu Sayyaf pada 24 September 2019," ujar Samiun berbicara menggunakan Bahasa Indonesia.

Mereka lantas memohon kepada perusahaan tempat mereka bekerja untuk membebasan mereka. Tak hanya itu, mereka juga memohon bantuan dari Presiden RI Joko Widodo untuk membantu dan menjamin pembebasan mereka.

“Kami meminta Presiden Indonesia untuk membantu membebaskan kami. ASG (kelompok Abu Sayyaf) menuntut 30 juta peso sebagai tebusan,” ungkapnya.

Dilaporkan pula, seorang anggota keluarga salah satu korban telah menerima permintaan tebusan serupa sebelum video diunggah di Facebook.

Sementara itu, Komisioner Polisi Sabah, Datuk Omar Mammah mengatakan mendapat laporan dari otoritas berwenang Filipina terkait permintaan tebusan serupa oleh para penyandera, beberapa hari setelah mereka menculik ketiga nelayan.

Namun Omar Mammah enggan mengungkapkan terkait nominal tebusan yang diminta kelompok penyandera tersebut dengan dalih regulasi kepolisian. (thestar/OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More